
Judul ini diambil dari lirik lagu 'Bujangan' yang dinyanyikan oleh band legendaris Indonesia, Koes Plus.
***
"Gimana, Sa?" tanya Daniel di luar ruangan.
Asa yang sedari tadi berusaha menghubungi Bu Sriyani nampak kecewa karena belum tersambung juga. "Nggak aktif."
~
Madya mempelajari situasi di sekelilingnya. Dia mengira ini adalah bangsal biasa, tapi segera terpatahkan setelah melihat setiap pasien memiliki alat besar di sampingnya.
Beberapa pasien dirawat dalam satu ruangan yang hanya disekat gorden. Setiap pasien ditemani alat besar di sampingnya. Pengunjung sangat terbatas dan semua menggunakan baju steril berwarna biru. Ini adalah ruang ICU.
Dada Madya terasa sesak. Ia merabanya. Tangannya menyentuh sebuah tonjolan kira-kira sepanjang 17 centimeter di dadanya. Madya mengintip di balik baju birunya.
Perban? Aku harus minta penjelasan kenapa dadaku diperban terus kenapa aku nggak pake 'kaca mata' begini? (Madya).
Asa kembali mendekati Madya yang kini telah dapat sedikit bersuara.
"Aku siapa?" tanya Asa.
"A-Asa."
"Kalau nama kamu sendiri siapa?"
"Madya, Madya Dui Brata."
Asa nampak senang Madya dapat menyebutkan nama lengkapnya sendiri. "Kalau ini berapa?" tanyanya sembari mengangkat 4 jari tangannya.
__ADS_1
"Empat. As ... aku mau tanya."
"Wuogh, kamu udah bisa ngomong sepanjang ini padahal sadarnya belum lama. Kata Daniel ...."
"Nah, Daniel. Aku mau tanya, apa kamu nikah sama Daniel?"
"Oh, kirain kamu istimewa langsung inget dan sadar, ternyata tetep disorientasi juga ya. Suamiku namanya Dion, Di-on, D-I-O-N."
"Lha terus kok kalian di sini bareng?"
"Aku jenguk kamu, kalau Daniel di sini kerja. Dia spesialis jantung di sini. Dan dia ikut mantau kamu."
Madya menengok ke arah kepala hospital bed dengan susah payah untuk membaca apa yang tertulis di sana. Tertera di sana nama dr.Zelani, Sp.BTKV.
"Bukan Daniel kok."
"Iya, dokter yang operasi jantung kamu sekarang lagi ada operasi juga makanya belum bisa ke sini waktu kamu sadar."
Mereka menyebut-nyebut pasien koma yang tersadar. Itu pasti dirinya, tebaknya dalam hati. Untung dia koma, bukan titik.
Meski sakit, tidak mengapa, ada pain killer yang mengurangi rasa sakit. Yang penting dia kembali ke jaman ini, di dunia ini. Dia bersyukur dapat keluar dari dunia paralel yang memberinya opsi hidup, tapi ternyata tak seindah yang dibayangkan.
Dia mensyukuri segala peristiwa yang terjadi padanya sesakit apa pun itu. Karena, yang tidak kita sukai, boleh jadi adalah yang terbaik untuk kita.
Sebaliknya, yang kita sukai belum tentu yang terbaik untuk kita. Yang bisa kita lakukan adalah terus berusaha dan menjalani semua yang Tuhan gariskan dengan lapang dada.
~
Asa menceritakan semua kejadian yang menimpa Madya. Madya mengalami kecelakaan tunggal sesaat sebelum mobilnya sampai di SPBU, tempat yang sebenarnya Madya tuju untuk buang air.
__ADS_1
Saat melihat rusa yang lewat, sesungguhnya Madya telah memasuki alam tak sadarnya. Tak pernah ada rusa di sana. Semua itu terjadi di alam komanya.
Dadanya terantuk setir dengan keras sehingga menyebabkan tamponade jantung. Nama alat medis yang pernah terngiang di telinganya adalah saat-saat dia di atas meja operasi.
~
Pasca sadar, mantan pasien koma harus menjalani beberapa terapi untuk memulihkan segala keadaan fisiknya. Apalagi, Madya mengalami komplikasi ulkus dekubitus pada punggungnya karena terlalu lama berbaring.
Untuk beberapa saat, dia masih harus tinggal di rumah sakit. Tagihan membengkak. Dia berharap dapat menjual mobilnya untuk menutup biaya rumah sakit. Namun, mobilnya sendiri sudah ringsek.
Madya tersenyum.
Bomat, meski bangun-bangun banyak utang, yang penting bisa bangun. (Madya). []
Bersambung ....
***
• Sp.BTKV\=Spesialis Bedah Toraks Kardio Vaskular
• ulkus dekubitus \= luka akibat tekanan di kulit karena posisi tubuh tidak berganti dalam waktu yang lama. UB disebut juga bed sores.
***
advertisement
...KEKASIH PALSU SI CULUN...
...(Shasavinta)
__ADS_1
...