
Rumah Abu
Abu dan Madya sedang berlatih dansa Laendler. Langkah Madya telah mulai dapat mengikuti ketukan. Dia kini jarang menginjak kaki lelaki yang dia paksa menjadi tutornya.
"Ehm ... cewek yang tadi itu yang sering jahilin kamu, ya?"
"Asa? Bukan, dia sahabatku. Dia yang sering bantuin aku."
"Bukan. Asa anak 2 B, kan? Kalau itu aku tahu. Maksudku, yang tadi bikin kamu sampai jatuh di depan kelas."
"Kok tahu aku jatuh?"
"Aku lihat tadi."
"Apa?! Kamu lihat?! Jadi kamu udah lihat segala aib dan kehormatanku?!" pekik Madya dengan suara sedikit keras.
"Astaga! Kalau gitu kalian harus segera nikah!" kata Bu Hamidah yang tiba-tiba muncul saja entah dari mana. Mungkin dia bersembunyi di dalam lampu ajaib yang berbentuk seperti teko teh. (Dari dulu Mbah Thor nggak ngerti kenapa yang disebut lampu ajaib itu bentukannya nggak kayak lampu, tapi kayak teko!).
"Mama, ini nggak gitu. Madya! Kamu harus jelasin ke mamaku!"
Madya mengangguk. "Begini, Bu. Tadi Mas Rai udah melihat aurat di daerah terlarang saya."
"Heh, bohong! Jangan ngomong sembyarangan!" sanggah Abu.
"Jadi gimana sebenernya? Kalau beneran terjadi, berarti Abu yang bohong. Kalau nggak terjadi, Madya yang bohong. Kamu bersumpah nggak lihat apa-apa?" tanyanya kepada Abu.
"Ya ... lihat sih. Dikit."
"Nah! Berarti Madya nggak bohong. Ya udah kamu harus tanggung jawab!'
__ADS_1
Perdebatan mereka terinterupsi kala ponsel Madya berbunyi keras dengan lantunan lagu klasik Beethoven dengan instrumen monophonic. Tulat tulit tulat tulit. Tak lupa ponsel itu juga bergetar dengan kekuatan 4 skala richter.
Tertera nama sahabatnya di ponsel itu, 'Asa Lemot'. Madya menyingkir dari ibu dan anak yang sedang memperdebatkan dirinya itu.
📞"Halo, ada apa, As?"
📞"Halo, Mad. Ini ibunya Daniel nanyain siapa yang kasih foto. Aku kasih tahu nggak?"
📞"Kasih tahu aja. Biar aja keputusan mereka mau diapain itu foto dan saksinya."
📞"Oke. Eh, dari tadi aku mau ngomong ini tapi lupa. Madya, kamu sialan! Aku ke rumah sakit sendiri dan kamu enak-enakan dansa sama si Abu Nawas."
📞"Enak apaan, ini aku malah lagi liat dia berantem sama emaknya," tutur Madya dengan suara amat pelan.
Dia mengakhiri sambungan telepon kemudian kembali bergabung dengan perdebatan ibu dan anak itu.
"Aduh gimana ya, Ma. Madya itu jatuh, nggak sengaja roknya keangkat."
"Oh, jatuh. Mama kira kalian nganu."
"Enggak lah, Ma!"
"Tapi kamu beneran lihat?"
"Be-beneran. Tapi kan banyak siswa lain yang lihat juga. Masak semua yang lihat musti nikahin dia?"
Madya merengut melihat ibu dan anak itu membicarakan peristiwa terjungkalnya yang memalukan tadi. Bu Hamidah akhirnya meninggalkan Abu dan Madya.
__ADS_1
Pemuda dan pemudi berusia 17 tahun itu melanjutkan latihan dansanya.
"Lain kali kalo ngomong jangan berlebihan gitu! Orang yang denger bisa salah sangka," protes Abu kepada Madya.
"Iya, maaf."
"Lagian kalau cuma lihat kan nggak berkurang juga."
"Heh! Jadi nggak apa-apa gitu kalau pahaku diumbar terus jadi tontonan?!"
"Bukan gitu, maksudnya ... maaf maaf."
Abu memutar kembali musik berirama 3/4.
"Yang berempat tadi sering jahilin kamu?"
Madya mengangguk.
"Sebabnya?"
"Mana aku tahu. Yang aku tahu, mereka kayaknya seneng banget lihat aku susah atau jadi bahan tertawaan kayak tadi."
Abu menatap Madya dengan perasaan iba. Ternyata gadis cantik yang menyatakan cinta tanpa tahu malu itu sering dijadikan sasaran oleh teman sekelasnya sendiri.
"Rai, kok bengong?"
"Oh, maaf. Cuma lagi mikir aja kenapa bisa ada temen kayak gitu."
Madya juga tak tahu jawabannya. Pun ketika penampilannya masih cupu, tak pantas rasanya kecupuan dirinya dijadikan alasan bagi teman-temannya untuk mem-bully. []
__ADS_1
Bersambung ....