Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
60. Dibawa Ke Mana?


__ADS_3

"Karena aku nggak pengen ada yang berharap sama aku. Mendingan aku ngomong gini di awal. Kalau nanti-nanti, bisa nyakitin perasaan."


Mendengar alasan Zulfikar, Madya mendadak ngefans kepada lelaki itu. Perasaan bencinya terdobrak oleh perasaan simpati.


Sangat wow ada lelaki yang tak ingin memberi harapan palsu mengingat banyaknya buaya yang melakukan 'ghosting'.


(Ghosting: minggat pas sayang-sayangnya).


"Kalau gitu, aku balik ke kelas dulu." Zulfikar undur diri. Dia berjalan cepat untuk memasuki area sekolah.


Madya mendatangi Asa yang sedari tadi menyaksikan percakapan dua anak manusia itu. Madya hampir saja melupakan keberadaan Asa karena terlalu berkonsentrasi dengan kata-kata yang harus dia lontarkan.


"As, kamu denger semuanya?"


"Denger lah! Ckckck, aku nggak percaya ternyata selama ini kamu suka sama si Z."


"As! Itu acting, dodol!"


Semua itu acting kecuali secuil rasa simpatinya kepada Zulfikar yang baru saja muncul. Namun, bukan cinta lho ya. Cintanya masih untuk babang Abu Nawas tercinta.


Dia dan Asa berjalan kembali memasuki gerbang sekolah. Meski telah terbuka mengapa alasan Zulfikar sering menatap dengan tatapan lain, masih ada pertanyaan yang belum terjawab.


Jadi, waktu itu dia dipanggil guru BK buat apa? (Madya).


~


Kelas 2 C, jam pelajaran


Kini Madya sangat berusaha untuk tidak menoleh ke arah Zulfikar. Apa pun yang terjadi, dia akan melihat ke benda hitam luas di hadapannya, papan tulis. Dia tidak ingin lelaki itu salah paham kembali.


Guru BK meminta izin menyela jam pelajaran. Dia menyebutkan nama Zulfikar dan mengajaknya keluar dari kelas. Mungkin akan diajak makan bakso bersama.


Sering kali guru BK memanggil Zulfikar untuk keluar sehingga membuatnya dan guru itu tampak seperti BFF (Best Friend Forever). Pada jaman itu istilah besty belum banyak digunakan.


~

__ADS_1


1 jam kemudian


Zulfikar kembali ke kelas dengan wajah yang lesu. Tak biasanya, guru BK turut mengantarkan kembali ke kelas. Guru itu membisikkan sesuatu kepada guru mata pelajaran.


Zulfikar mengambil tas kemudian keluar lagi bersama guru itu. Madya menunduk, tak berani menatap lagi. Dia pun tak berani berasumsi tentang urusan Zulfikar dengan guru BK.


~


Pulang sekolah


Sejak Zulfikar dipanggil keluar bersama guru BK, dia tak pernah kembali lagi ke kelas itu. Madya tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.


"As, tadi Zulfikar dipanggil guru BK terus mereka pergi nggak tahu ke mana."


"Kamu khawatir?"


"Bukan khawatir ikh, udah dibilangin aku nggak suka sama dia, cuma acting ya tadi itu. Cuman, jangan-jangan itu urusan Daniel."


"Mad, urusan guru BK nggak cuma itu kali. Urusan bea siswa, lomba-lomba sains, porseni. Itu semua biasanya guru BK juga dampingin."


"Masak sih?"


"Dih, kamu nggak yakin tapi mantep bener ngomongnya kayak yang paling ngerti aja. Ehm, kita ke rumah sakit jenguk Daniel yuk, sekalian nanya tentang kasus dia. Aku penasaran maksimal nih."


"Oke!"


~


Rumah Sakit Umum Daerah Koja


Madya dan Asa berjalan menuju bangsal tempat Daniel dirawat. Pintu bangsal itu sedikit terbuka. Terdengar dari dalam ada seorang wanita sedang berbicara.


"Siapa tuh, Mad?"


"Itu Queen Elizabeth."

__ADS_1


"Hah?!"


"Ya mana aku tahu itu siapa, aku aja baru dateng sama kamu. Penglihatan juga nggak tembus pandang."


Semakin mendekat suara itu semakin jelas karena suara manusia tidak seperti kunti yang semakin dekat malah suaranya semakin samar (katanya lho). Seorang wanita setengah baya sedang menangis.


"Itu suara ibu Daniel? Kok nangis gitu? Apa jangan-jangan Daniel udah nggak ada?" tanya Madya.


"Nggak mungkin!" sergah Asa.


Madya membekap mulut temannya itu yang malah berisik. "Sssttt ... jangan ribut! Ntar kedengeran!" bisik Madya.


Asa menyingkirkan tangan Madya. "Kemarin dia baik-baik aja kok, kata dokter bentar lagi boleh pulang."


"Kayak gitu nggak bisa diprediksi, bisa aja kemarin baik sekarang langsung koit."


"Heh! Omonganmu lho, Mad!"


Mereka menyudahi debat unfaedah itu kemudian melihat dari kaca pintu di situ. Terlihat di sana seorang wanita paruh baya sedang berlutut sambil menangis di samping tempat tidur Daniel.


Wanita itu bukan Bu Selly, ibunda Daniel. Di belakang wanita itu ada dua lelaki yang amat Madya kenal, Zulfikar dan guru BK. []


Bersambung ....


***


Sebelum lanjut, kepoin nih novel:


...MR. AROGANT...


...(Rahayu Ningtiyas Bunga Kinanti)...


Kisah seorang gadis yang terjebak dengan perjanjian bos-nya... Ia sudah janji kepada diri sendiri agar tidak jatuh kepada sang bos namun sayang ia mengingkari janji-nya sendiri dan jatuh kepada sang bos-nya.


Bagaimana kisah mereka? Apakah cinta Nesa terbalas?

__ADS_1


Yuk langsung baca aja



__ADS_2