
Dalam kekalutan dan kepedihan hati akan memori masa-masa sulitnya, ada bagian kecil dari hati Madya yang tertarik kepada Usman. Pria di sampingnya tentu berbeda dengan versi dewasa yang ia kenal. Tak adil rasanya menyalahkan Usman untuk kesalahan yang belum dia lakukan.
Mungkin dia bakal berubah? Mungkin kalau kami menikah lalu aku nggak usah ambil Mbak Aryati jadi baby sitter, kami nggak akan pisah. (Madya).
Tak hanya memori sedih, memori bahagia bersama Usman juga terputar di kepala Madya. Saat-saat yang tak dapat dilupakan adalah ketika Usman memintanya menjadi pendamping hidup.
Tak romantis seperti film-film romance, tapi sangat mengharu biru kala pria itu mengatakan "Aku bujang lapuk, kamu perawan tua, kita bener-bener jodoh."
Kurang ajar memang, tapi benar. Madya dan Usman mengakhiri masa lajang di usia yang sudah hampir expired bagi teman-teman sepergaulan. Yang lain telah jauh mendahului mereka dan mereka adalah sama-sama stock terakhir.
Senyum tipis tersungging karena mengingat hal manis itu. Usman menangkap perubahan ekspresi gadis itu yang kemudian membuat hatinya semakin tertarik.
Dia manis banget. (Usman).
"Udah baikkan?"
Madya mengangguk.
"Boleh aku minta nomer hand--"
"Mad, ini makanannya ...," kata Raihan sembari berlari menghampiri Madya. "Ehm ... maaf, siapa ya?" tanyanya kepada Usman.
"Aku Usman ... ehm, ini tadi aku dititipin panitia," katanya sembari menunjuk beberapa kotak snack di sampingnya.
"Oh, makasih banyak ya," ucap Raihan seraya memandangi Usman agar dia cepat pergi dari sana.
Pemuda itu pun mengerti tatapan menusuk Raihan. Usman beranjak pergi sedangkan Madya menunduk sembari mengusap sisa-sisa air mata di pipinya.
"Kamu kenapa kok nangis?"
__ADS_1
Madya menggeleng, dia benar-benar tidak bisa mengungkapkan apa pun yang ada dalam hatinya saat ini. Hanya kegelisahan mendalam yang dirasakannya.
~
SMA Pioneer
Kelas 2 C
Istirahat pertama Asa mencari Madya ke kelas 2 C. Dia lupa bahwa hari ini Madya harus pergi karena lomba. Mungkin dia tertular Madya sehingga menjadi pelupa.
Oh iya, Madya lagi lomba. (Asa).
Daniel kala itu tengah bersiap untuk pulang. Hari ini semua berkas kepindahan dan segala urusan telah dibereskan sehingga ini adalah hari terakhirnya di sekolah. Di kelas itu tak ada acara khusus untuk melepas Daniel.
Tak ada seorang pun yang menangisi kepergian siswa itu. Hanya Sulis dan Putra sang ketua kelas yang mendekati Daniel.
"Niel, besok berarti kamu nggak ikut lomba sains ya?" Sebuah pertanyaan retoris keluar dari mulut Sulis, suatu ucapan kehilangan yang sangat tulus. Meski mereka bukan sahabat yang sangat dekat, beberapa kali bersama dalam lomba membuat Sulis mengenal Daniel lebih dalam.
"Selamat jalan ya, Niel, sukses di sekolah baru." Putra menjabat tangan Daniel diiringi sebuah senyuman kecil.
Berbeda dengan Sulis, Putra bahagia akhirnya si bintang kelas ini pindah dari sekolah. Dia akhirnya bisa menguasai kelas itu (menurutnya gitu, padahal dia masih kala jauh dibanding Sulis).
Setelah kedua lelaki itu pergi, Asa mendatangi Daniel. "Gimana rahangnya, udah sembuh?"
Daniel mengangguk kecil. Tak ada senyum di bibirnya, hanya wajah kaku. Namun, Asa tak begitu memedulikan kekakuan Daniel.
"Sayang banget Madya lagi lomba, kalau enggak kita bisa makan-makan bareng dulu."
Hening ....
__ADS_1
Selain karena masih sedikit sakit, Daniel memang tidak mudah berbicara banyak hal kepada semua orang. Dia bukan seperti mp3 player yang ditekan langsung mengeluarkan suara tanpa henti.
"Eh, tahu nggak, Madya udah jadian lho sama Abu."
Perkara serius saja Daniel jarang menjawab, malah diajak bergosip. Otaknya sama sekali tidak bisa menangkap apa menariknya mengetahui orang lain telah berpacaran.
Tas ransel telah diselipkan di punggung. Lelaki itu siap pergi dari dari sekolah yang telah menjadi tempat belajarnya selama 2 tahun kurang. Dia keluar dari kelas kemudian dicegat oleh Pak Raharja sang guru BK dan Pak Subakar sang kepala sekolah.
Mereka memberikan bingkisan dan beberapa foto farwell party yang diselenggarakan beberapa hari yang lalu. []
Bersambung ....
***
advertisement
...LEGENDA SANG DEWI ALAM LUXIA...
...(Lidiawati06)...
Luxia di lahirkan dengan tanda lahir Burung Phoniex di sebelah lengan kirinya, dan dia di takdirkan menjadi seorang penyelamat.
Meskipun ayahnya seorang kaisar, Luxia harus tetap berhati-hati demi keselamatannya dari musuh yang siap menyerang dan mengendalikan kekuatan yang dia miliki, agar tidak berubah menjadi iblis sang penghancur dunia apa yang harus Luxia lakukan?
Akan tetapi dengan kemampuan yang dia miliki, meski banyak ancaman yang datang kapan saja apakah Luxia akan berhasil menyelamatkan dirinya dari seorang yang berniat jahat?
Berhasilkah Luxia menyelamatkan dunia dan tidak harus menjadi seorang iblis penghancur?
Apakah yang akan Luxia hadapi nanti? dan bagaimana cara Luxia menyelamatkan dunia dan menjaga dirinya agar tak menjadi iblis sang penghancur? saksikan perjalanan Luxia.
__ADS_1