
Rumah Asa
Setelah mendengar penuturan ibu Daniel, Madya tak bisa berkonsentrasi dengan acara menjenguk adik Daniel. Dia bahkan lupa siapa nama adik Daniel sebenarnya beberapa kali disebut secara lengkap oleh ibu dan kakaknya.
Yang ia tangkap hanya 'Stella'. Adik Daniel bernama Stella, nama belakangnya entah siapa, pikiran Madya terlalu beku mengingatnya.
"Madya, kok dari tadi kamu diem aja sih di rumah Daniel?" tanya Asa sembari meletakkan minuman untuk Madya.
Dengan bergetar hebat, Madya mengkonfirmasi segala yang dilakukan Asa di belakangnya. "Ka-kamu pacaran sama Daniel?"
"Belum sih ...."
Sedikit kelegaan datang ke hati Madya yang segera pergi lagi terusir oleh pernyataan Asa yang sungguh membagongkan.
"Nggak pacaran tapi ibunya pengen aku sama dia tunangan aja terus nanti kalau udah umur 22 atau 23 nikah, kalau udah lulus kuliah."
"Hah?!"
Madya menutup wajahnya dengan tangan, tak bisa berkata-kata.
"Kamu terharu ya aku bantuin kamu jaga segala alur. Jadi kamu bisa fokus sama urusanmu dengan si Usman sama Raihan."
"Alur apa, As?!" Madya bergerak tak karuan melihat sahabatnya yang menganggap telah membantu. Membantu apanya? Mengacau, iya. "Bantu apaan? Ini malah tambah kacau!"
__ADS_1
"Lhoh, kamu bilang Daniel nanti jadi dokter, kamu bilang suamiku nanti dokter. Kamu juga bilang inisialnya 'D'. Kacau gimananya?"
Informasi tak lengkap Madya tentang masa depan Asa membuat sahabatnya itu salah duga. Madya menyesali kebocoran informasi yang seharusnya confidential itu.
Memang tak seharusnya kita diberi tahu sesuatu tentang masa depan meski secuil.
"As, bukan Daniel suamimu nanti. Dia itu Dion. Dion yang bakal ketemu kamu waktu kamu ngerias kakaknya dan kakakku nikah! Dan kita jadi saudara in law."
"Kenapa kamu nggak ngomong dari dulu? Aku pokoknya nggak mau pisah sama Daniel. Aku terlanjur nyaman sama dia!"
"As! Jangan tinggal aku sendiri!"
Terlambat, Asa telah naik ke lantai 2 di kamarnya. Terdengar bantingan pintu menggema disertai suara putaran kunci yang begitu kuat.
~
Rumah Madya
Madya memasuki pelataran rumahnya. Eka telah menunggunya di depan rumah dengan raut wajah tak ramah.
Apalagi? (Madya).
"Kamu dari mana aja?! Aku telpon dari tadi kenapa nggak diangkat?!"
__ADS_1
"Aku nengok adik temenku yang baru lahir. Kan tadi udah pamit."
"Tapi kalau ditelpon tuh diangkat! Ada yang darurat!"
"Apa, Mas?"
"Ibu masuk rumah sakit. Ngeflek. Motornya dari tadi tak tungguin buat ke rumah sakit."
"Apa?!"
Madya menatap kosong ke arah tak tentu. Keadaan kini seolah membuatnya tak betah di sana. Jika diberi kesempatan untuk kembali ke masa depan, dia dengan senang hati sekali lagi melakukan perjalanan waktu.
Air matanya menetes. Pertama kalinya dia ingin sekali kembali ke masa depan. Pertama kalinya kehidupan baru di masa ini tak lagi menyenangkan.
Eka segera merebut kunci motor dari tangan Madya. Mereka berdua begegas menuju rumah sakit.
Dalam perjalanan pikiran Madya kacau. Segala memori dan bayangan bercampur menjadi satu. Memori peristiwa yang terjadi pada jaman di mana dia telah berusia 35 terputar otomatis seperti film dokumenter.
Bermula dari cafe Melan saat dia menjadi korban bully-an Yeni dan 3 temannya. Saat itu Yeni menunggu di luar cafe. Dia berdiri tepat di depan pintu masuk sembari tersenyum.
3 teman lainnya, Indria, Nola dan Monik bersembunyi di bawah jendela dan di pinggir-pinggir dinding kafe. []
Bersambung ....
__ADS_1