
Sampai di rumah Abu, Madya dipersilakan menunggu di ruang tamu oleh seorang asisten rumah tangga. Madya melihat sekeliling dengan takjub. Dia tak pernah berani membayangkan ini di kehidupan sebelumnya, berada di rumah sang lelaki impian.
Wow banget, aku di rumah Abu, man! (Madya).
Abu telah berganti baju dengan pakaian rumahan, celana olahraga panjang dan kaos berwarna hitam. Aura menawan meluber ke mana-mana membuat mata Madya tak bisa pindah ke titik yang lain.
Lelaki tampan itu kemudian mengulurkan tangan tepat di depan Madya.
A-apa, dia mau ngelamar aku? Kan kami masih SMA. Aku udah pengalaman sih. Jadi, kalau dia lamar aku sekarang, aku bakal bilang 'ya'. (Madya).
"Kok bengong?" tanya Abu kepada Madya yang matanya belum berkedip sedari beberapa detik yang lalu.
"Akh ...." Madya mengerjap sembari menggeleng-geleng. "Aku ... harus jawab sekarang? Aku belum siap nikah."
Abu terbelalak mendengar Madya yang malah nge-fly imajinasinya.
"Apa?! Kamu ngelamar dia?!" pekik sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Ibunda Abu.
"Bu-bukan, Ma! Aku nggak ngelamar siapa-siapa! Aku masih sekolah," jelasnya sembari tergagap. "Madya! Apa-apaan sih kamu?!"
"Oh namanya Madya. Nak Madya satu kelas sama Abu?"
__ADS_1
"Enggak, Tante. Saya kelas 2 C."
"Panggil 'Bu' aja, atau 'Mama', nanti kan bakal jadi istri Abu."
"Mama! Ini enggak ...."
"Ssshhh ... Mama masuk dulu deh, takut ganggu."
Bu Hamidah, ibu Abu pun masuk kembali ke ruang dalam meninggalkan dua anak manusia yang salah satunya sedang berbunga-bunga.
"Mad, aku nggak ngelamar kamu!"
"Oh ...." Madya nampak kecewa. Matanya kembali memerah dan segera meluncurkan air bening mutiara hati.
Ibu Abu kembali ke ruangan itu bersama seorang asisten rumah tangga. "Ini, Nak Madya, ada minuman ... oh, kalian kenapa? Lagi bertengkar ya? Yang rukun dong! Ya udah, ini minuman sama cemilannya dibawain Mbok Saodah. Mama balik ke dalem lagi. Diselesaikan baik-baik ya! Abu, jangan emosi!"
Napas Abu memburu, antara kesal dan kesal. Yah, kesal kuadrat. Wanita di hadapannya kini sedikit terisak. Abu berusaha menahan emosinya.
"Gini, Madya ...."
"Kamu nggak perlu kasar kayak tadi jelasin kalau kamu ternyata nggak ngelamar aku. Aku tahu kamu nggak suka aku!"
"Itu bukannya nggak suka tapi ...."
__ADS_1
"Oh jadi kamu suka?"
"Akh ... errr ... aaarrrggghhh ...."
Abu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia tetap berusaha tenang meski sekarang dia sedang sangat kesal. Di hadapannya ini tetaplah wanita yang lembut perasaannya dan harus diperlakukan dengan lembut. Karena jika tidak, pasti akan cenger lagi.
Tanpa berkata apa-apa, Abu menuju ke meja televisi. Dia menekan tombol on pada sebuah mini compo merk Filip (jaman itu udah keren banget lho ya). Mengalun sebuah musik berirama 3/4.
"Ayo latihan! Habis ini aku punya tugas sosiologi," kata Abu.
Madya menerima uluran tangan Abu dan memulai dansa Laendler mereka. Abu mengajari dan memberi contoh tanpa banyak berkata (dari pada salah lagi salah lagi). Wajah Abu terlihat memerah, sementara bibir Madya melengkung seperti bulan sabit.
Muka Abu merah, dia malu-malu ya? Berarti dia emang suka aku walau tadi salah paham kirain ngelamar. Eheheh. Aku senang. (Madya).
Apaan sih dia senyum-senyum? Nggak tahu kalau aku lagi nahan erosi? Eh emosi? (Abu).
Dua kali mereka melakukan dansa Laendler. Madya baru bisa mengikuti sebanyak 10% saja. Bagaimana lagi, usia jiwanya sudah lewat dari usia sekolah, ditambah mata pelajaran ini kurang begitu dia sukai.
"Katamu tadi mau ngerjain tugas sosiologi ya? Boleh minta tolong nggak?"
"Iya. Minta tolong apa lagi?" tanya Abu dengan jengah. []
Bersambung ....
__ADS_1