
Madya tergelitik untuk mencari guru spiritual. Seperti dikatakan Daniel bahwa selalu ada penjelasan untuk peristiwa se-absurd apa pun itu.
Jika pengetahuan eksak tak dapat menjawab, selalu ada spiritualisme yang mungkin bisa memberi pencerahan.
Madya menemui Pak Raharja sang guru BK di kediamannya. Meski Pak Raharja adalah seorang guru BK, dia adalah orang yang sangat spirituil.
Sejenak Pak Raharja memandangi Madya dengan heran saat tiba. Seorang murid tiba-tiba berkunjung itu sangat kurang lazim kecuali kunjungannya beramai-ramai atau bersama orang tua.
Biasanya mereka yang mendatangi adalah yang bermasalah di sekolah kemudian berniat menyundul agar dibebaskan dari hukuman atau meminta nilai mereka dikatrol.
"Ada apa, Mad?" Pertanyaan ini sangat standar dan sudah meng-global maka tidak bisa disebut plagiasi (halah).
"Maaf mengganggu waktu Bapak, saya mau tanya beberapa hal. Yang pertama, apakah benar ada dunia lain selain yang kita tinggali?"
"Kalau kamu tanya sama saya, jawab saya iya. Tapi nggak semua orang percaya."
Yah, oke. Aku ngerti dunia lain yang dimaksud Pak Raharja itu dunia setan. Agak lain, tapi worth a shot. Siapa tahu bisa dapat solusi. (Madya).
"Bisa nggak kita pindah dunia? Misal saya ingin pindah ke dunia satunya."
"Sangat bisa."
Mata Madya terbelalak mendengar itu. Ada secercah harapan untuknya. "Gimana caranya, Pak?"
Pak Raharja menghela napas. "Nggak tahu juga."
__ADS_1
Wodefak. (Madya).
Pak Raharja melihat ke langit-langit seolah sedang mengingat sesuatu. Madya berharap gurunya itu sedang mencari cara berpindah dunia.
"Oh saya ingat!"
"Iya, Pak?"
"Saya belum matiin kompor, bentar ya!"
Sembari menunggu Pak Raharja, Madya mengedarkan pandangan ke ruang tamu milik gurunya tersebut. Sederhana.
Tahun ini, sebentar lagi akan ada sertifikasi guru. Tapi itu untuk yang mengajar kelas. Entah kalau guru BK gimana, aku nggak begitu ngerti. Eh, itu buat pegawai negeri sih. Aku lupa kalau sekolahku swasta. Harusnya guru-guru kaya, kan? Harusnya nanti yayasan kasih gaji yang lebih buat guru. (Madya).
Pak Raharja keluar sembari membawa nampan dan minuman di atasnya. Karena tanpa minuman, Pak Raharja hanya akan nampak seperti orang kurang waras membawa nampan saja.
"Ini minum dulu. Tadi sambil lihatin api kompor, saya jadi inget tentang dua dunia kayak gitu. Yang satu dunia kita, satu lagi dunia tak kasat mata. Kamu tahu ada beberapa kasus anak hilang diculik makhluk inisial 'G'?"
"Inisial 'G'? Genderuwo? Gerandong? Goblin? Yang jelas dong, Pak, nanti jadi fitnah lho."
Pak Raharja memelankan suaranya. "Genderuwo," bisiknya. "Saya nggak berani keras-keras nanti dikira manggil. Nah, anak-anak yang diculik itu kadang ada yang kembali, ada yang enggak. Ada cerita lain lagi, yang ini orang dewasa. Dia seorang wanita pinter masak dan rajin, diculik sama penguasa pantai, Nyi Rara. Tahu?"
"Yang berhasil kembali itu gimana ceritanya, Pak?"
"Dua-duanya hampir sama. Si anak yang diculik bilang bahwa selama dia digondol, dia nggak betah dan pengen pulang meski dikasih mainan. Ditambah orang tua si anak juga mencari dia dengan memukul-mukul panci di sekitar titik menghilangnya si anak sambil manggil nama si anak."
__ADS_1
"Kalau yang diculik Nyi Rara, bisa balik?"
"Bisa. Ceritanya Nyi Rara mau menjadikan wanita ini koki di kerajaan tak kasat matanya. Tapi melihat alat-alat masaknya nggak kayak panci pada umumnya, dia nanya melulu sampai bikin Nyi Rara kesel sendiri. Lalu dia ditanya mau di sana atau mau pulang. Dia mantap jawab mau pulang aja."
"Baik," kata Madya sembari mengangguk. "Nah, gimana kalau nggak bisa komunikasi dengan yang menculik? Jadi katakanlah ada seseorang nyasar ke dunia lain dengan sendirinya tanpa ada yang nyulik."
"Saya juga kurang tahu. Tapi kalau dilihat dari beberapa yang udah terjadi rata-rata menunjukkan ketidakbetahan, terus pulang deh."
Aku mau nunjukkin ke siapa? Yang bawa aku ke sini aja nggak tahu siapa. (Madya).
Madya terdiam.
"Memang ada apa? Apa ada saudara atau temen kamu yang mengalami hal kayak gitu?"
"Ehm ... iya, Pak. Saya, eh ... saudara saya. Begini, Pak, ping kopang kaping ... jdhwvhsisndhwiakhsh ... iwhgwvsjdwgsbsi37w99wu ...." Madya menjelaskan dengan sangat rinci mimpi anehnya. (Tapi dia ngakunya saudaranya).
"Panggilan-panggilan itu suara orang yang dikenal?"
"Sebagian iya, sebagian lain berasal dari orang-orang yang nggak ada di dunia ini." Madya bingung menjelaskan tentang Dioka dan Nadila yang belum terlahir di tahun itu.
"Maksudnya suara orang yang udah meninggal?"
Jantung Madya serasa berhenti mendengar pertanyaan Pak Raharja membuatnya semakin gusar dan tak betah berada di jaman ini. Dadanya terasa sakit. Rasa sakit itu semakin hari semakin nyata. []
Bersambung ....
__ADS_1