Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
55. Dikejar Zulfikar


__ADS_3

"Maaf, Pak. Memang pikiran saya melayang-layang sebentar, tapi paling kenceng mikirin Bapak, kok."


"Wuhu ...."


"Uhuy ...."


Terdengar kembali tawa keras di kelas 2 C. Madya sangat bisa menimpali banyolan seperti ini. Maklum umur aslinya juga sudah tante-tante, sudah makan asam-garam kehidupan.


Pak Kunandar berjalan ke belakang menuju tempat duduk para siswa yang bersuara paling keras.


"Coba kamu jelasi apa itu koagulasi!" kata Pak Kusnandar kepada Yeni.


"Ehm ... apa ya. Maaf, Pak, saya lupa."


"Huuu ...." Beberapa siswa berkata 'u' panjang.


"Ini membuktikan bahwa yang tertawa keras belum tentu ngerti. Kirain bisa ngetawain temennya itu udah ngerti, ternyata kopong juga. Pong pong bolong ini."


Beberapa siswa sebenarnya ingin tertawa tapi ditahan karena takut ditunjuk oleh Pak Kusnandar. Seorang siswa masuk ke ruang kelas 2 C. Dia adalah Zulfikar.


Saat masuk, matanya memandang tajam ke arah Madya membuat gadis itu kembali salah tingkah.


Pak Kusnandar memperhatikan langkah Zulfikar. Guru itu kemudian mendekati meja Zulfikar.


"Kamu tadi diapain sama guru BK?"


Madya menoleh ke arah Zulfikar dan menajamkan telinganya. Sebelum menjawab, Zulfikar menoleh ke arah Madya. Pandangan mereka bertemu sejenak.


Zulfikar tak menjawab pertanyaan Pak Kusnandar.


Dia hanya tersenyum seraya mengatakan, "Ada, Pak."


~


Pulang sekolah


Madya berjalan menuju pemberhentian bus sendirian. Asa entah ada di mana. Kini sahabatnya itu sedikit misterius. Teman yang lain sebenarnya banyak, tapi mereka hanya figuran.


Jadi, biarkan mereka lewat dengan damai.

__ADS_1


"Madyaaa ... tunggu!" Suara seorang laki-laki memanggilnya.


Madya menoleh ke belakang. Dia berharap suara itu milik Raihan Abu yang menyadari hari-harinya sepi tanpa kehadiran Madya. Ternyata itu adalah Zulfikar.


Lelaki itu setengah berlari karena Madya tidak berhenti.


Waduh, ngapain tuh orang ngejar-ngejar aku? Kacau nih! Kayaknya dia udah tahu aku sumber berita. (Madya).


Madya turut berlari untuk menyelamatkan diri. Sebelum pertigaan, terlihat seorang siswa dengan motornya yang familiar berhenti di pinggir jalan. Raihan Abu.


"Rai, tolong banget anterin aku pulang."


"Eh, Mad. Tapi ...."


"Please banget, ini darurat!"


Belum dijawab oleh Raihan, gadis itu sudah nangkring di motornya. Madya menepuk-nepuk bahu Raihan seperti kepada tukang ojek agar segera melaju.


"Cepetan jalan!"


Mau tak mau Raihan melaju dari pada mendapat tepukan Madya yang keras. Padahal di bahu Raihan tidak ada nyamuk.


~


Seorang polisi dengan motornya membarengi laju kendaraan Raihan. Dia membunyikan klakson berkali-kali dan memberi kode agar dua siswa SMA itu segera menepi.


"Menepi!"


"Apa, Pak? Sepi?"


"Menepi!"


"Menyempil? Apaan sih?"


"Minggir, minggir."


"Owalah, ngomong dong dari tadi."


Raihan Abu menepikan kendaraannya. Polisi itu segera merogoh blangko surat tilang untuk Raihan.

__ADS_1


"Kita ngelanggar apa, Rai? Kayaknya nggak nerobos lampu merah deh," tanya Madya.


"Pastinya karena kamu nggak pake helm."


"Kok kamu nggak bilang dari tadi sih?"


"Waktu kamu mau bonceng kan aku udah bilang 'tapi', eh kamu tetep aja nangkring."


"Kenapa kamu terusin ngomongnya?! Ikh ...."


"Ya kan kamu yang motong omonganku tadi katanya darurat."


"Selamat siang, boleh lihat surat kendaraan dan SIM-nya?"


Raihan Abu menyerahkan SIM dan STNK yang diminta. Polisi itu membuka lipatan kertas berlaminating itu kemudian memeriksa SIM Raihan.


"Saudara Raihan Abu Nawasatya, Anda tahu kesalahannya apa? Ini jalan raya dan penumpang Anda tidak mengenakan helm!" tegur polisi berperut maju itu.


"Makasih tumpangannya, Rai. Aku naik bus aja sekarang. Itu ada bus lewat. Bye," pamit Madya secara mendadak.


Raihan menarik lengan Madya. "Eh nggak bisa gitu dong! Kamu di sini pokoknya!" katanya kepada Madya. "Begini, Pak. Pertama, yang nggak memakai helm dia, bukan saya. Jadi, Bapak tilang dia aja! Saya kan pakai, saya punya SIM dan bawa STNK, lengkap."


Masak aku ditilang? Motor aja nggak punya. (Madya). []


Bersambung ....


***


sambil nunggu simbah cari wangsit di gunung Merapi, ini ada novel kece punya author remahan berlian. Cekidot, bekicot.


...MAKMUM PILIHAN MICHAEL EMERSON...


...(ditulis oleh: SkySal)...


Zenwa Fahira tidak tahu harus berbuat apa ketika Micheal Emerson datang melamarnya sementara semua orang mengira Micheal memiliki hubungan dengan Arini Kamilia, yang tak lain adalah kakak Zenwa.


Namun Arini meyakinkan bahwa ia tak memiliki hubungan apapun dengan Micheal walaupun sebenernya Arini dan Micheal saling mencintai.


Setelah desakan dari seluruh keluarganya, Zenwa menerima lamaran Micheal dan pernikahan pun terjadi. Namun di malam pernikahan, sebuah rahasia besar terbongkar yang membuat hati Zenwa hancur.

__ADS_1



__ADS_2