
"Kirain kenapa."
"Kamu pikir aku bercanda? Atau kamu anggap sepele? Aku nggak punya ongkos artinya aku harus cari tebengan atau naik angkot! Aku mau nebeng kamu malah motor kamu masuk bengkel!"
"Ya maaf."
"Kamu harus tanggung jawab pinjemin aku duit buat pulang!"
"Iya iya, nanti aku bayarin. Nggak usah pinjem deh, aku kasih. Jangan kayak orang susah dong!"
"Tuh kan! Satu lagi orang jahat ngeselin! Aku kan emang orang susah! Emang apa salahnya jadi orang susah?"
"Anu ... ayo jalan, angkotnya keburu habis."
"Kamu nganggep orang susah itu lelucon?"
"Enggak ... justru kata-kataku tadi yang lelucon. Mau ngelawak, eh penotonnya bukannya ketawa malah nangis gini. Maaf ya."
Tangis Madya mereda, tapi wajahnya masih disembunyikan.
"Maaf ya ...." Sekali lagi Abu meminta maaf.
Madya mendongak. "Dimaafin nggak ya?" tanyanya pada diri sendiri.
"Dimaafin dong!"
"Iya deh, aku maafin."
__ADS_1
Mereka berdua berdiri, melanjutkan perjalanan menuju ke pemberhentian kendaraan umum. Sembari berjalan bersama, Abu menggaruk-garuk tengkuknya, merasa ada yang tak beres. (Atau sebenarnya tengkuknya panuan).
***
Abu sampai hingga di rumahnya masih dengan perasaan penasaran. Apa yang salah dengan dirinya? Apakah di kantin dia memakan makanan basi? Setelah berpikir beberapa saat, dia akhirnya menemukan apa yang membuatnya gelisah. Madya!
Gadis itu membuatnya minta maaf karena motornya diperbaiki di bengkel. Padahal, motor rusak adalah ketidaksengajaan. Mana ada orang ingin motornya sendiri rusak? Kecuali jika ayahnya seorang mekanik, maka pastilah dia berharap semua kendaraan rusak agar diperbaiki bapaknya.
Akibat dari motornya masuk ke bengkel, dia harus membiayai ongkos angkot Madya. Rumus dari mana?
Luar biasa anak kelas 2 C itu! Bukan siapa-siapaku kok bisa dia bikin aku kayak orang kurang setengah ons gini? (Abu).
__ADS_1
Abu meraih ponsel Nokiyem berbentuk ketupat miliknya. Pada jaman itu, ponsel miliknya adalah lambang hedonis dan kekerenan yang haquiqui. Dia menekan lambang telepon berwarna hijau di ponselnya. Sayang, beberapa kali menelpon, Madya sama sekali tak menggubris.
***
Madya memandangi ponselnya yang berbunyi nyaring itu. Kemudian dia menekan tombol lonceng bergaris miring pada keypad kanan bawah agar ringtone-nya tak terdengar meski tak mengangkat panggilan itu.
Abu nelpon karena apa ya? Apa dia mau nyatain perasaan? Tapi aku belum siap pacaran di kehidupan jadi-jadianku ini. (Madya).
Alih-alih menelpon kembali siswa lelaki kelas 2 D yang menawan hati itu, dia malah menelpon Asa. Bagaikan pepatah "karma dibayar tunai", Asa tak mengangkat panggilan itu.
Asem! Ini gara-gara aku nggak ngangkat telpon dari Abu jadi kena karma gini. (Madya).
***
Hari berikutnya
Siswa-siswa 2 C sudah berkumpul di kelas. Ketua mengumumkan iuran yang harus dikumpulkan untuk membeli oleh-oleh saat menjenguk Daniel kemarin sore. Madya telah memegangi kaleng bekas susu Dancok produk dari Nestelek, siap mengedarkan untuk menerima uang dari para siswa.
Sekali lagi, dalam ingatan Madya, dia tidak pernah meminta uang sumbangan untuk menjenguk Daniel. Sampai di bangku Zulfikar, Madya mengulurkan kaleng itu sembari menatap tajam ke arah sang siswa lelaki.
"Zul, kenapa kemari kamu nggak berangkat?"
"Nggak apa-apa," jawabnya sembari mengulurkan uang seribuan.
Madya intens mengamati wajah Zulfikar. Dalam pikiran Madya, jika Zulfikar yang melakukan pengeroyokan terhadap Daniel, paling tidak wajahnya juga terluka. Namun, wajah Zulfikar bersih.
"Eh, waktu kemarin itu ...." Madya menghentikan bicaranya. Dia terkejut dengan pertanyaan yang akan dia lontarkan.
__ADS_1
Jaga omongan, Mad! Kalau beneran Zulfikar sama rombongan yang nggak sengaja ketemu kemarin itu yang mukulin Daniel, bisa aja aku dikeroyok juga kalau buka suara. (Madya). []
Bersambung ....