
Raihan memikirkan jawaban yang paling mutakhir untuk menghadapi calon mertuanya ini. (He? Calon mertua?). Interogasi ini sudah seperti seorang jejaka yang didakwa karena perbuatan tidak senonoh kepada anak gadis sang bapak di hadapannya.
Padahal, Raihan tidak pernah menyentuh Madya. Hanya sedikit. Waktu dansa. Dan tadi. Itu pun Madya duluan. Eh dan waktu menutup mulut dan mata Madya dengan tangan. (Baiklah 'tidak pernah menyentuh' terpatahkan). Namun, Raihan berani bersumpah pocong bahwa dia tidak 'menyentuh' Madya sama sekali.
"Ehm ... saya senang lah dipeluk sama pa-pacar saya."
"Jenius! Bagus bagus, ya memang seneng dipeluk pacar. Ya kan, Ka?"
Eka hanya mengangguk kecil. Dia tidak mengira ayahnya akan berada di pihak Raihan.
"Tapi gini, Raihan, kalian masih SMA. Jangan berlebihan, oke? Itu anak gadisku. Kalau macem-macem tak tempeleng kamu!" kata Pak Wira sembari mengacungkan kepalan tangan.
Di bagian ini, Eka juga turut mengepalkan tangan menunjukkan tangan kekar sebesar buah apel di depan Raihan. Pemuda itu menelan ludahnya sangat kasar sehingga jakun Raihan naik turun.
Pacaran dengan Madya memang penuh lika-liku. Pertama karena tingkah gadis itu yang ngebet duluan. Kemudian merasa sangat rindu ketika tak terdengar suara Madya yang selalu menggodanya. Pada puncaknya, Raihan tak tahan lagi sehingga meminta Madya menjadi pacarnya secara mendadak.
Dan, sekarang ... dia harus menghadapi dua orang yang se-gender dengannya. Namun, dia bersyukur Madya aman memiliki duo bodyguard ini di rumah.
"I-iya, Pak. Saya nggak macem-macem kok, saya cuma 1 macem."
~
Rumah Madya
Malam hari
__ADS_1
Orang tua Madya dan Eka kembali membicarakan pernikahan Eka dengan Elsa yang tidak ada habisnya. Madya juga masih dengan kegiatan mencuri dengar di ambang pintu seperti kemarin. Dia memang belum kapok berlaku seperti itu.
Belum kapok juga dia menyenggol vas bunga yang terbuat dari kayu hingga terjatuh. Adegan yang terulang. Namun, Madya tak akan mengulangi bersuara kucing seperti tempo hari. Dia memilih bersuara cicak, hewan yang kerap mengintipnya ketika mandi dan tidak pernah merasa pusing meski menempel secara terbalik.
"Ckckckckck ...."
"Madya, Ibu tahu itu kamu. Sini!"
Lhoh, kok tetep ketahuan? Kurang lihai apa onomatopoeia-ku? (Madya).
Madya bergabung bersama di ruang televisi bersama keluarganya. "Kok tahu sih, Bu?"
"Tahu lah, cicak itu meski bentuknya kayak buaya, tapi ukurannya kecil. Nggak mungkin jatuhin vas segede betismu."
Etttdah, malah betis-shamming. (Madya).
Gadis itu sendiri sibuk memikirkan bunga-bunga cinta yang sedang bertumbuh di hatinya. Dia akan dengan senang hati menyiram dan memupuk bunga-bunga itu sehingga subur.
"Tuh, Bu, Madya kayaknya seneng banget kakaknya ini mau nikah," kata Eka, menggunakan kesempatan.
"Madya itu lagi kesengsem sama pacar barunya. Ya, Mad?" tanya Ibu.
"Iya, eh enggak. Iya iya, aku seneng Mas Eka nikah."
Di-iya-in aja biar nggak gangguin orang lagi berkhayal indah-indah. (Madya).
__ADS_1
Dalam bayangan Madya, dia dan Raihan sedang menari ala-ala film India sembari melantunkan lagu "Kucek Kucek Matane". Indahnya ....
***
Lomba debat Bahasa Inggris
Pagi itu, para siswa yang telah ditunjuk bersiap berangkat ke lokasi lomba. Selain lomba debat, SMA Pioneer mengirimkan wakil untuk lomba deklamasi dan cerdas cermat sejarah. Sedangkan untuk lomba sains yang diikuti Daniel dan Sulis dihelat keesokan harinya.
Lomba debat berlangsung sangat lancar. Sangat terlihat Madya piawai dalam berbahasa Inggris. Mereka pun tak khawatir tentang score hasil akhir karena telah terlihat mereka unggul.
Madya, Raihan dan teman-teman lain kini menunggu juri yang sedang rapat menentukan para pemenang lomba. Gadis itu mengedarkan pandangan ke seluruh siswa yang berada di sana. Beberapa wajah tampak sedikit familiar.
Mungkin di masa depan menjadi kenalan bahkan teman Madya. Dia tak ambil pusing. Biarkan saja semuanya berlalu. Siapa pun yang ia temui dan terasa familiar tak akan dia pikirkan dalam-dalam identitasnya di masa depan.
Sampai pandangan matanya beradu dengan seorang siswa laki-laki dari SMA N 1 Batalu. Wajah itu sangat familiar bahkan mampu menggetarkan jiwa dan raga Madya, seraut wajah yang sangat ia benci di saat-saat terakhir sebelum kembali ke masa SMA.
Mas Usman? (Madya).
Bersambung ....
***
advertisement
...CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER...
__ADS_1
...(CoviEvy)...