
"Tuh, kenapa cemberut gitu?"
"Heheh ... nggak apa-apa. Agak kecewa aja suamiku bukan yang kerja di pelayaran. Kan keren itu."
"Astaga! Semua profesi itu keren, As! Dan ada plus-minusnya. Kalau suamimu pelaut, kamu bakal ditinggal berlayar 10 bulan, terus kamu cuma bisa nangis-nangis karena kangen."
"Oh ya? Emang gitu ya? Kirain sebulan sekali pulang."
"Tapi kalau suami di pelayaran, pas pulang bakal jadi hari-hari paling romantis karena kita pasti lebih menghargai saat-saat bersama." Asa menerawang haru membayangkan seorang suami baru saja pulang dari berlayar kemudian menghabiskan hari-hari romantis bersama sang istri.
Tak seperti kehidupan pernikahan Madya yang telah kandas. Dia dan Usman sang mantan suami memang bertemu setiap hari. Tidak ada rindu di antara mereka. Mereka sering cek-cok bahkan karena hal sepele. Perkara kecil bisa menjadi besar. Lempar-lempar panci tanpa peduli cicilan belum lunas pun acap kali terjadi.
"Mad ... Mad," panggil Asa kepada Madya yang terlihat nge-fly dengan imajinasinya sendiri.
"Eh iya ... iya ... ehm ...." Madya tampak sangat kebingungan kali ini.
"Kamu bingung banget?" tanya Asa.
Madya tak menjawab. Sudah sangat jelas dia memang kebingungan. Dia bahkan hampir memasukkan seluruh tangannya ke mulutnya sendiri. (Tenang, baru hampir. Sekarang baru jari).
__ADS_1
"Gini, kata kamu, kamu adalah Madya yang berumur 35 tahun, kan? Coba dalam pandangan kamu sebagai seorang emak ... maksudnya seorang ibu. Menurut kamu harus gimana?"
"Aku bener-bener nggak tahu, As. Kalau ini kejadiannya di masa depan, aku mungkin bakal pake banyak gadget buat buktiin kalau Zulfikar bersalah. Aku juga bisa cari pengacara kalau aku terancam karena bongkar rahasia si Zul. Di jaman ini aku nggak punya apa-apa."
Asa benar-benar tak bisa menjawab. Semua yang dikatakan oleh Madya berada di luar jangkauan Asa saat ini. Mereka hanya saling pandang dengan pikiran masing-masing yang tak diketahui siapa pun.
Madya kembali mondar-mandir sembari menggigit kuku jempolnya sendiri karena jika dia menggigit kuku jempol milik Asa, pasti akan digetok kepalanya.
***
Rumah Madya, jam 11 malam
Saat ini Madya yang berjiwa 35 tahun itu sedikit kehilangan kebijaksaannya dalam masalah Daniel. Lelah berusaha memejamkan mata hingga perih tapi tidak ada hasil, Madya keluar untuk mengambil air putih. Langkahnya terhenti saat mendengar ada suara aneh di balik kamar orang tuanya.
Suara itu seperti suara kucing. Semakin lama suara itu semakin kerasa disusul dengan decitan kaki-kaki dipan kayu.
Brak ....
Brak ....
__ADS_1
Uduk-uduk ....
Astaga, dulu aku masih polos. Sekarang aku tahu mereka lagi ngapain. (Madya).
Dia menutup telinga kemudian kembali ke kamar. Pikirannya kembali fokus ke masalah Daniel. Meski dia berpikir tentang Daniel, tetap saja pikirannya sedikit penasaran dengan apa yang terjadi di balik pintu kamar orang tuanya. Bagaimana tidak, kegiatan yang mereka lakukan sudah seperti gempa. Jelas penasaran!
Kalau aja di jaman 2020-an, masalah gini gampang banget. Akses CCTV di tempat kejadian, dan beres. Kalau aku lapor ke sekolah tanpa bukti apa-apa, aku pasti dianggep orang ngarang doang. Eh, kenapa nggak minta Daniel ngomong aja? Kalau dia udah sembuh pasti nanti dia bisa ngomong sendiri, kan? (Madya).
Menunggu Daniel sendiri yang bicara berarti tidak ada perubahan apa pun. Semua akan terjadi sama persis seperti sejarah yang dulu. Dalam pikiran Madya, bayangan ibu Daniel yang berperut besar sembari bersedih datang kembali.
Aku tersiksa kalau kayak gini. Kasihan ibu Daniel. (Madya).
Madya meraih ponselnya untuk menghubungi Asa.
📞"As, aku udah putusin, aku bakal cari bukti buat buktiin kalau Zulfikar yang pukulin Daniel."
📞"Ha? Caranya?" []
Bersambung ....
__ADS_1