Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
50. Mungkinkah?


__ADS_3

Madya dan Raihan Abu segera menuju dapur. Di dalam ruang dapur yang menjadi satu dengan ruang makan yang tak terlalu luas itu Raihan Abu meminta Madya membuatkan minum untuknya.


"Nah, ibumu nggak lihat, kan? Kamu yang bikin minum ya! Aku kan tamu."


Bukannya kesal, Madya justru gembira. "Oke, kamu duduk, ya! Aku bikinin minuman terenak."


Dia seolah lupa bahwa dirinya sedang 'sakit'. Madya mengambil panci untuk merebus air di atas kompor minyak. Raihan Abu melihat sekeliling.


"Nggak ada dispenser?"


"Enggak. Aku bukan anak orang kaya kayak kamu."


"Ibumu galak ya orangnya?"


"Enggak sih. Nggak tahu kenapa tiba-tiba jadi kayak gitu. Mungkin perubahan hormon karena lagi hamil."


"Oh, lagi hamil?"


"Iya. Kalau kamu punya adik nggak?"


"Nggak, aku anak terakhir."


Air yang direbus oleh Madya belum juga mendidih. Api pada kompor minyak yang dipakainya dalam mode pendek. Sengaja dibuat seperti oleh Madya agar sedikit berlama-lama di dapur.


Terdengar suara langkah mendekati mereka. Bu Sriyani memasuki ruangan itu membuat Raihan Abu reflek berdiri mendekati Madya menggantikan tugasnya.


Ketahuan dah bukan aku yang bikin minum. (Raihan Abu).


"Kok ke sini sih, Bu? Ibu nonton TV aja!" pinta Madya.


"Mau duduk di sini aja."


Padahal Madya mengharapkan dia dan Raihan Abu berdua saja di dapur agar bisa merekonstruksi adegan Cinta dan Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta yang memasak bersama di dapur.


Dia ingin menyiprati Raihan dengan air sembari tertawa mesra seperti film India. Gagal total semua imajinasi itu karena kedatangan ibunya yang sedang sengak itu.

__ADS_1


Madya memanjangkan sumbu kompor agar nyala api besar. Air dalam panci di hadapannya segera mendidih.


"Cangkirnya di mana, Mad?" bisik lelaki itu.


Madya mengambil cangkir dan piring tatakan kecil dari lemari penyimpanan perabotan. Dia menyerahkan set minum itu kepada pemuda di sampingnya.


Terdengar suara dentingan antara cangkir dengan piring tatakannya beradu. Cangkir itu berada di atas tangan Raihan bergetar-getar seperti terkena gempa.


"Kenapa, Rai? Kamu kok gemeteran? Belum makan siang?" bisik Madya.


"Ahahah, nggak tahu kenapa."


"Atau kamu nervous dilihat ibuku?"


"Mungkin juga. Aku belum pernah bikin minum di rumah orang, dilihatin pula. Kayak lagi ujian aja."


Acara membuat teh pun selesai. Raihan juga membuatkan secangkir teh untuk ibu Madya.


"Bu, ini tehnya. Silakan diminum," kata Raihan dengan sangat sopan.


"Makasih!" jawab Bu Sriyani, ketus.


Ibu Madya meraih gagang cangkir di hadapannya hendak menyeruput hasil karya Raihan itu. Matanya menyipit sembari memandangi tamu yang membuatkan teh untuknya.


Pemuda itu makin salah tingkah dengan tatapan ibu Madya.


Mudah-mudahan enak tehnya. Nggak kemasukan cicak kan tadi? (Raihan Abu).


Satu seruputan telah diteguk oleh Bu Sriyani. Matanya mendelik.


Waduh, kok gitu mukanya. Nggak enak ya? (Raihan Abu).


"Ini ...!" pekik Bu Sriyani. "Enak!"


Bu Sriyani tersenyum sejenak, lalu wajahnya kembali masam. Dia ke ruang dalam meninggalkan Madya dan Raihan di meja makan. Mereka berdua meminum teh buatan Raihan Abu.

__ADS_1


"Maaf, ibuku kayak gitu. Dimaklumin, ya!"


Raihan mengangguk.


"Eh, kamu ngapain ke sini? Kangen ya sama aku?"


"Begini, Madya Dui Brata yang suka blak-blakan dan ke-GR-an, kamu lupa kalau besok itu penilaian dansa Laendler?"


"Astaga! Ayo kita latihan! Buruan!"


Madya merebut teh yang sedang di ambang mulut Raihan dan meletakkannya di meja.


"Sabar, napa?! Baru tegukan kedua juga!"



~


Raihan dan Madya berada di ruang tamu. Mereka bersiap untuk berlatih. Madya bertekad untuk lebih serius karena ini adalah latihan terakhirnya.


"Eh, aku nggak punya musiknya."


"Iya, tenang aja!" jawab Raihan, santai. Dia mengeluarkan ponsel berbentuk ketupatnya dan memutar musik yang tersimpan dengan ekstensi .wav.


"Pppfffttt ...." Tawa Madya sedikit terlepas.


Astaga, musiknya masih wav. Kalau udah ada smartphone tinggal download di Kowetube, selesai. Di jaman ini dia harus copy dulu filenya ke komputer, terus dimasukin ke handphone. (Madya).


Madya memandangi Raihan lekat-lekat. Berarti lelaki itu rela melakukan hal yang rumit untuknya. Mungkinkah ...? []


Bersambung ....



__ADS_1


__ADS_2