
Sebagian biaya ter-cover dengan datangnya bantuan dari para penjenguk. [Benar, man! Penjenguk yang memberikan sumbangan uang sangat berarti bagi para pasien terutama bagi yang sedang kesulitan uang].
Asuransi kesehatan juga meng-cover sebagian lagi. Dion dan Daniel juga telah mengajukan berbagai dispensasi pembayaran, ditambah sumbangan dari beberapa rekan yayasan jantung. Tetap saja ada tunggakan yang harus dibayar karena Madya menjalani 2 operasi yang amat besar yang biayanya ratusan juta.
***
Beberapa bulan kemudian
Madya telah kembali bekerja. Sedangkan Nadila putrinya harus segera masuk ke taman kanak-kanak setelah menyelesaikan play group-nya.
Sementara sembari membayar tunggakan biaya perawatannya, Madya mendaftarkan Nadila di sebuah sekolah swasta baru yang berkualitas internasional. Madya sangat bahagia menemukan sekolah ini karena ini adalah sekolah bermutu tinggi dengan biaya yang tidak terlalu mahal.
Untuk sebuah tujuan mulia sekolah tersebut dibangun. Sayangnya, Madya agak terlambat mengetahui info tentang sekolah ini sehingga dia harus me-lobby sana-sini agar Nadila dapat diterima di gelombang 1.
"Ibu bisa mendaftar lagi di gelombang kedua."
"Tapi di gelombang kedua biayanya sedikit lebih mahal, saya pengen dapat potongan, Bu. Mohon sekali terima anak saya. Baru lewat sehari dari pendaftaran terakhir."
"Misalnya ikut gelombang kedua pun sudah jauh lebih murah dari pada sekolah lain, Ibu. Saya yakin ...."
"Saya mohon, Bu. Saya punya banyak tunggakan dan biaya yang harus saya tanggung jadi ini sangat penting untuk saya. Saya habis operasi jantung lho, Bu. Betulan. Nih kalau nggak percaya," kata Madya sembari (hampir) saja menunjukkan jahitan di dadanya kepada sang penerima pendaftaran siswa baru. Untung saja sudah sepi.
"Cukup, Bu. Tidak perlu ditunjukkan sama saya. Begini ... saya bukan pengambil keputusan. Saya cuma pegawai di sini yang menjalankan tugas. Yang bisa saya bantu hanya mempertemukan Ibu dengan kepala sekolah. Siapa tahu beliau mau memberi pengecualian."
Madya mengangguk. Kasihan juga petugas penerima siswa itu. Didesak pun dia hanya menjalankan tugas.
Madya mencari-cari Nadila yang tadi berada di sampingnya. Saking konsentrasinya merayu pegawai sekolah itu, dia Nadila terlepas dari pengawasannya.
"Mana anak saya?"
Madya dan petugas sekolah mencari-cari Nadila. Ternyata Nadila sedang tidur di sebuah tangga.
"Nadila, kok tidur di sini?"
__ADS_1
"Ada itu, Ma," katanya sembari menunjuk rambu dilarang duduk di tangga. "Nggak boleh duduk, jadi aku bobok."
Madya segera menggandeng tangan Nadila dan berbisik, "Kita mau ketemu kepala sekolah, jangan lupa bilang kalau Mama habis operasi ya."
"Iya, Ma."
Madya mengetuk pintu yang bertuliskan 'kepala sekolah'.
"Masuk!" kata seseorang dari dalam ruangan.
Madya membuka pintu itu. Betapa terkejut sekaligus bahagia hatinya melihat sosok tampan yang menjabat pemimpin di sekolah itu, Raihan versi dewasa.
"Siang, Pak ... Pak Ra-raihan?"
"Silakan, Bu. Oh, maaf, apa kita saling kenal?"
"Eng-enggak sih, kita dari SMA yang sama."
"Oh iya, Abu ya manggilnya?"
Raihan mengangguk sembari memberi isyarat untuk duduk. "Silakan!"
"Uegsjdugdkdiwyegjdgsgsu hsgwjudhdjdowue ...." Madya menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Sebenarnya sudah tidak bisa ...."
"Tapi saya mohon, demi almamater kita, SMA Pioneer."
Demi almamater? Emang apa hubungannya sama SMA? (Raihan).
"Demi almamater gimana ya?"
"Demi persahabatan kita waktu dulu menyandang status siswa SMA."
__ADS_1
"Ibu bilang kita kan nggak saling kenal."
"Ya udah, demi integritas kita sebagai sesama alumni SMA Pioneer," kata Madya sembari menunjukkan wajah memelasnya. "Ditambah, saya habis operasi jantung beberapa bulan lalu. Dan ini sekolah untuk tujuan mulia, kan? Kalau ingin berbuat mulia, saya adalah objek yang tepat."
Madya menyenggol Nadila yang belum juga membantunya. Sejenak dia lupa bahwa anaknya masih berumur 5 tahun yang mana belum memahami kode tersembunyi.
"Mama habis operasi ... iya, kan, Nadila?" kata Madya kepada anaknya yang sudah beberapa kali menguap itu.
"Mama ... Mama ... Mama operasi. Mama sakit."
That's my girl. (Madya).
"Ehm ... baiklah, saya kasih kesempatan. Tapi Nadila janji nanti harus rajin belajar ya!" kata Raihan pada akhirnya.
Tidak di alam koma, tidak di alam nyata, Madya sangat manipulatif dan cenderung memaksa (apalagi kalau kepepet begini). Raihan pun awalnya kukuh kemudian luluh juga terhadap wanita di hadapannya.
"Terima kasih sekali, Pa-pak Raihan." Bibir Madya terasa kaku menambahkan panggilan 'pak'.
Madya mengedarkan pandangan ke seisi ruang kepala sekolah itu. Sebuah foto mencuri perhatiannya, foto Raihan bersama seorang wanita dan seorang putri kecil kira-kira seusia Nadila.
Oh, Raihan udah nikah. Udah punya anak juga. Kayaknya bahagia. (Madya). []
Bersambung ....
***
advertisement
...HIDDEN BABY...
...(Teh Ijo)...
__ADS_1