
Abu merasa agak ngeri melihat tingkah Madya yang seperti cacing terkena garam. Dia juga agak terkejut dengan fakta bahwa kemarin dia memang menunggu Madya.
Eh eh, kok jadi kayak ketempuhan gini. Kok aku jadi salah tingkah. Salah tingkah buat apa hoy? Kemarin aku nunggu dia bukan karena ngapa-ngapa ya, itu karena udah janji aja. (Abu).
"Aku ... iya, nunggu kamu. Kan kamu yang minta tolong! Ya udah kalau nggak butuh, nggak usah latihan Laendler sama aku," kata Abu sembari beranjak pergi.
"Eit eit, maaf, Abu. Heheh, jangan ngambek dong," kata Madya sembari malu-malu jijay.
"Ya udah kalau masih mau diajarin, dateng ke rumahku tepat waktu! Aku nggak punya banyak waktu!" kata Abu, agak ketus.
"Dih, ketusnya. Iya iya, aku dateng nanti. Habis sekolah langsung ke rumahmu. Eh, motor kamu udah dibenerin belum?"
Abu mengangguk.
"Kalau gitu, nanti mendingan aku bonceng kamu aja. Kan jadi cepet sampai. Plus aku nggak perlu nanya-nanya rumahmu di mana, and and, hemat ongkos."
Tik ....
Tik ....
Beberapa detik berlalu, Abu belum menjawab. Mata Madya memerah.
"Iya ... iya ... nanti bareng aku. Jangan nangis! Nanti dikira aku ngapain kamu. Dah ya!" Abu segera pergi ke kelasnya.
Madya mengucek matanya yang terkena debu.
Nangis-nangis apaan, orang kena debu. (Madya).
__ADS_1
***
Bel masuk sekolah telah berbunyi. Madya kembali ke kelas. Matanya tak henti menyorot ke arah Zulfikar. Sebaliknya, pemuda itu sedang membaca buku.
What, baca buku? Nggak salah nih mata? Apa tadi yang masuk ke mataku bukan debu tapi eek sapi? (Madya).
Semua orang yang sedang diperhatikan pasti akan merasa. Pun Zulfikar yang sedang diperhatikan Madya dari jauh. Tengkuknya serasa ditiup sesuatu sehingga dia mengusapnya berkali-kali. Dia menengok ke belakang.
Ternyata teman di belakanganya memang sedang meniup-niup kukunya yang dipoles kutek sehingga tengkuknya ikut tertiup.
Perasaan Zulfikar tetap tak enak, dia pun melihat ke arah pintu kelas di mana Madya memang sedang memandanginya lekat. Pandangan mereka beradu. Madya segera mengalihkan pandangan ke papan tulis hitam di depan kelas.
Wow, luar biasa si anak bengal itu belajar. Kalau Daniel malah nggak pernah belajar. Dia baca komik mulu. Mungkin belajarnya di rumah. Atau receptor otaknya bekerja maksimal jadi sekali denger guru menerangkan langsung terekam di otak pinternya. (Madya).
***
Pulang sekolah
Madya berjalan keluar sekolah. Di belakangnya terdengar langkah kaki yang begitu dekat. Dia menengok ke belakang.
"Zul? Kamu nggak bawa motor?"
"Enggak. Kenapa emangnya? Aku nggak boleh naik angkot?"
"Bu-bukan. Heran aja kenapa kamu naik angkutan umum, tumben."
__ADS_1
Badan Madya mendadak bergetar hebat. Sepertinya Zulfikar tahu Madya sedang mencari bukti. Kini, gadis berjiwa wanita dewasa itu mulai takut. Kejahatan jaman itu amat sulit dibuktikan. Bila Zulfikar berani berbuat sesuatu pada dirinya, tak ada CCTV terekam sebagai bukti.
Suara motor terdengar berhenti di dekat Madya.
"Madya! Kamu gimana sih?! Tadi kamu yang bilang kita pulang bareng aja malah udah jalan sampai sini. Aku udah pinjem helm buat kamu, tahu!"
"Oh iya, maaf, Abu. Aku lupa."
"Masih muda kok udah pikun kayak emak-emak aja!"
Emang gue emak-emak, keles! (Madya).
Madya segera mengenakan helm ciduk pinjaman yang diulurkan Abu (pada jaman itu, helm belum SN/Standar Nasional). Dia membonceng Abu dengan jantung berdebar-debar.
Slamet ... slamet. (Madya).
Abu memacu motornya kencang. Dia masih kesal terhadap Madya yang malah berjalan kaki keluar sekolah. Sudah minta dibonceng, dipinjamkan helm ciduk, eh orangnya berjalan lebih dulu. []
Bersambung ....
***
Hai reader, sekedar mengingatkan ya bahwa semua orang di muka bumi ini HETEROGEN. Ada yang sama pemikiran (tapi pasti ada kontranya juga), ada yang sama daya ingatnya (pasti bagian tertentu ada bedanya juga), tidak ada yang benar2 sama bahkan kembar identik sekalipun.
Jadi untuk yang berpikir "Gue emak2 tapi nggak pikun kayak Madya tuh," itu berarti Anda adalah emak yang tidak pikun, yang tentunya berbeda dengan Madya.
__ADS_1