
Aku jadi apa di kelas? Perasaan aku ... astaga! Aku bendahara! Dan aku dijadiin bendahara karena nggak ada siswa lain yang mau menjabat posisi itu. Aku si bendahara tukang nombok. (Madya).
📞"Kamu bendahara, Mad. Pegang uang sosial lhoh. Kita beli oleh-oleh pake duit yang ada dulu, nanti kekurangannya talangin. Besok baru kita tarik ke murid lain soalnya udah pada pulang yang lain."
📞 "Siapa yang nalangin?"
📞 "Ya kamu, Mad, kayak biasanya."
📞 "Gggrrrhhhmmm ... nggak bisa! Aku nggak punya duit!"
📞 "Lhoh, terus ini ...."
📞 "Gini! Kalau maksa sekarang harus nengok Daniel, pengurus kelas yang lain juga ikut nalangin, jangan cuma aku! Kalau nggak mau, ya udah nunggu iuran besok kekumpul baru sorenya kita tengok Daniel."
Mendengar penolakan Madya, ketua kelas itu mengalah.
📞 "Oke, oke, iya kami nanti juga ikut nalangin. Yang penting harus sore ini."
Ohoh, ternyata kalau aku kuat, orang lain juga akan mikir 2 kali buat nindas aku. Kenapa dulu aku nggak pernah kepikiran untuk bersikap kayak gini ya? (Madya).
__ADS_1
***
Sore itu, pengurus kelas 2 C sudah berada di pelataran Rumah Sakit Umum Daerah Koja. Putra, Madya dan beberapa pengurus kelas lain sudah siap dengan oleh-oleh yang mereka belikan dalam perjalanan menuju rumah sakit itu.
Aku ngikutin sejarah dengan bener nggak, sih? Aku nggak ngerasa ikut nengok Daniel waktu dulu. (Madya).
Madya merasa asing dengan kegiatan menjenguk Daniel ini. Sembari berjalan menelusuri lorong untuk mencapai kamar Daniel, pikiran Madya tak henti menggali memori.
Mereka telah mencapai kamar di mana Daniel dirawat yaitu sebuah ruang bangsal VIP. Selain tampan dan jenius, siswa pendiam itu anak sultan rupanya. Meski belum sekelas sultan yang memiliki jet pribadi atau pulau sendiri, keluarga Daniel sudah mampu menyewa kamar kelas VIP di jaman itu.
Dengan jantung yang berdebar kian menggelora, Madya mendekat ke arah Daniel. Ayah Daniel menyambut tamu-tamu itu. Rupanya Pak Danu, ayah Daniel, juga adalah orang yang pendiam.
Bagian mulut membengkak sehingga sulit berbicara. Tiba-tiba hati Madya bagai tersengat kalajengking, nyeri. Matanya berkaca-kaca hampir menitikkan air bening. Keadaan Daniel begitu parah.
Yang paling parah adalah bagian kepala sebelah kiri yang ditutup dengan perban putih khas penutup luka jahitan. Rambut di sekitarnya juga tercukur sehingga Madya sangat yakin, di balik perban itu memang terdapat jahitan.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita dengan perut besar datang. Dia adalah ibu Daniel yang bernama Bu Seli. Ibu Daniel jauh lebih berisik dari pada dua laki-laki beda usia di sampingnya.
Melihat perut besar itu, hati Madya tambah teriris. Ibu Daniel sedang hamil dan mendapati anaknya terluka separah ini. Sembari mengusap air matanya, ibu Daniel berbincang dengan para pengurus kelas.
__ADS_1
"Pihak sekolah tadi pagi sudah datang. Mereka juga belum tahu siapa pelaku yang mengeroyok Daniel. Ini anaknya juga susah ngomong."
"Yah, maklum, Bu. Wajahnya terluka parah."
"Enggak, emang dari sononya susah ngomong. Ditambah luka itu jadi ya, komplit."
Bu Seli mengelus perut. Untung saja tingkat kesedihan dan shock Bu Seli tidak sampai membuatnya mengalami kelahiran prematur.
"Kalian teman sekelasnya, apa ada yang tahu Daniel punya musuh atau rival?"
"Setahu kami nggak ada, Bu," jawab Putra.
Sebenarnya, Putra tak begitu tahu. Daniel adalah orang yang sangat tertutup. Dia sering mengikuti lomba sains. Namun, ketika dipanggil ke depan saat upacara bendera, lelaki itu selalu menunduk sehingga wajah tampannya tertutup topi.
"Bahkan nggak ada yang pernah ngobrol sama dia ...." Sebuah kalimat keceplosan muncul begitu saja dari mulut Putra.
Semua orang di ruang itu tiba-tiba menatap tajam ke arah Putra. Ketua kelas itu kini bagai terdakwa yang sedang disidang di meja hijau. []
Bersambung ....
__ADS_1