Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
58. Zulfikar Tahu Semuanya


__ADS_3

Aku Madya, 35 tahun. Bocah ingusan kayak Zulfikar bisa aku hadapi dengan cara elegan dan pintar. (Madya).


Madya duduk di kursinya seperti biasa sembari merangkai rencana untuk menghadapi Zulfikar. Dia menarik dan menghembuskan napas dalam-dalam.


Pak Ozan, guru bahasa Inggris, memasuki ruang kelas itu.


"Madya Dui Brata, akan ada lomba debat bahasa Inggris bulan depan," kata Pak Ozan sembari memberikan sebuah kertas terlipat rapi.


Madya membuka lipatan itu dan membacanya dengan cermat. Dia ditunjuk oleh sekolah untuk mengikuti lomba mewakili sekolah. Selama 2 minggu, dia akan berlatih bersama club debat.


Wah aku dapat kehormatan langsung ikut tim debat tanpa seleksi. Dulu aku nggak ikut debat. Tapi aku ingat ikut seleksi untuk sains dan yang akhirnya ditunjuk itu Sulis sama Daniel. (Madya).


Madya menoleh ke arah Sulis sembari terus bertanya dalam hati. Dia mengangguk sembari tersenyum. Dahulu dia kalah terhadap 2 teman lelakinya.


Tapi aku ingat, aku pernah juga berangkat lomba sains yang bukan dari dinas pendidikan. Waktu itu aku maju berdua sama Sulis karena Daniel masih sakit. Soal Daniel sama dengan versi dulu. Tapi soal pelajaran agak lain. (Madya).


Gadis itu mengingat kemarin Sulis dipanggil untuk mengikuti lomba sains besutan sebuah rokok bermerk Gudang Gula yang menawarkan beasiswa kuliah. Hadiah yang sangat besar dan menggiurkan.


Akh, nggak apa-apa nggak ikut lomba sains. Dapat hadiah duit sih waktu itu, aku tabung buat masuk kuliah. Si Sulis dapet full beasiswa sampai lulus, beruntung tuh anak. Semoga lomba bahasa Inggris ini dapet uang pembinaan juga. (Madya).


Tanpa sadar dia menengok lagi ke arah Zulfikar. Lelaki itu pun sedang memandangi dirinya.


~


Istirahat kedua


Setelah melalui jam pelajaran dengan penuh dengan perasaan mencekam, istirahat kedua ini justru tambah mecekam. Dia menyaksikan Asa sahabatnya tersenyum-senyum memandangi ponselnya.

__ADS_1


"Apaan sih, As?"


"Ada deh!"


"Main rahasia-rahasiaan nih?"


"Enggak sih."


"Kalau aku nggak boleh tahu berarti itu rahasia, Asbun, Asal Bunyi."


Seorang lelaki mendekati mereka. Yang ditakutkan Madya terjadi juga, didatangi oleh Zulfikar. Bagaimana tidak, semalam lelaki itu sudah menelponnya. Tak mungkin menghindar lagi.


"Mad, aku ada perlu sama kamu!"


Gadis itu langsung berdiri dari duduknya. Dia tak peduli kepalanya pusing karena telalu cepat berdiri. Sedikit kliyengan, tapi dia tahan.


Zulfikar menatap Asa. "Ikut aku aja! Kita ngomong di tempat sepi."


"Kenapa harus di tempat yang sepi?"


"Biar kamu nggak malu lah!"


Dia mau apain aku? Dia mau hajar aku habis-habisan? Atau dia mau berbuat hal yang ho'oh-ho'oh? (Madya).


"Aku mau Asa ikut."


"Ya udah, cuma satu orang nggak masalah."

__ADS_1


Madya berbisik, "As, HP punyamu udah ada kameranya, kan? Tolong nanti rekam kami diam-diam."


Asa memberikan kode jempol pada Madya. Mereka berdua mengikuti langkah Zulfikar yang kini mendekati gerbang sekolah. Jantung Asa dan Madya berlomba berdetakan tak karuan.


Zulfikar berhenti. Dua gadis di belakangnya turut berhenti. Mereka berdiri melingkar.


"Kamu agak jauhan dong!" kata Zulfikar kepada Asa.


"Oke, aku main HP aja," dalihnya agar tak kentara sedang merekam. Asa menjauh sembari merogoh ponsel di sakunya.


Madya menarik napas dalam-dalam sembari menunggu segala sumpah serapah dari siswa laki-laki di hadapannya. Dia memusatkan tenang pada kaki dan tangan untuk memukul jika itu harus.


Dia melihat tanah kering di sekitarnya, lumayan bisa dia lemparkan ke mata Zulfikar sebagai pengalih perhatian. Jika beruntung ada kalajengking di tanah itu, bisa juga menjadi senjata utama.


"Aku tahu semuanya." Kata-kata dramatis keluar dari mulut Zulfikar seperti seorang tokoh detektif sedang mengungkap top secret.


Madya belum menjawab. Dia mencari jawaban se-demokratis mungkin. "Tahu tentang apa?"


"Aku tahu kalau kamu suka sama aku."


"Hah?!" []


Bersambung ....


***


__ADS_1


__ADS_2