
"Daniel!" pekiknya.
Bu Sriyani keluar dari rumah mendapati Madya sedang shock beibeh sembari meneriakkan nama seorang pelajar laki-laki.
"Mad, kamu kenapa? Daniel itu siapa? Pacarmu?"
"Bukan, Bu. Ada motor nggak?"
"Ya nggak ada, satu dipake Eka, satu lagi dipake bapakmu."
"Gimana nih, Bu, penting banget. Harus pergi cepet, kalau nunggu angkot takutnya nggak keburu."
Bu Sriyani kemudian pergi ke rumah tetangga untuk meminjam motor. Setelah mendapatkan motor, Bu Sriyani memanggil Madya yang sedang berganti baju di kamar.
"Itu, Mad, motornya Lik Karyo bisa dipinjem. Ini STNK-nya," kata Bu Sriyani sembari mengulurkan STNK motor.
"Makasih ya, Bu," balas Madya sembari menyaut kertas kecil berlaminating itu. Dia berlari kencang keluar rumah.
Wodefak! Motornya Handa Si Pitung! Aduh, gimana mau nyampe sana cepet? Akh, ya udah deh, dari pada naik angkot bakal lamaan lagi. (Madya).
Madya menggenjot motor yang kondisi fisiknya kurus kering berwarna merah menyala itu. Bagian sayapnya sudah dilucuti sehingga angin sangat bebas berhembus di kaki.
Jika mengenakan rok, sudah dipastikan akan menyumbang pemandangan indah pada para pengguna jalan. Untung Madya sudah berganti dengan celana panjang.
Lima kali kakinya mengengkol baru motor itu hidup. Dia memacu sepeda motor yang suaranya seperti manusia sedang batuk parah. Asap yang dikeluarkan membuat mata pengguna jalan lain merah dan perih.
Tak ayal karena motor itu menggunakan oli bekas. Akh ... pikiran Madya (dan Mbah Author) dipenuhi perasaan ke-tidakbersyukur-an (kata apaan nih, Simbah ngarang). Sudah untung Madya tidak harus menggunakan angkot.
__ADS_1
Gas!
Dalam perjalanan, dia sempat melihat Zulfikar beserta rombongan temannya mengendarai beberapa motor dengan laju yang sangat kencang.
***
Sesampainya di lingkungan sekolah, Madya memarkirkan motor yang bunyinya 'othok-othok' di samping bangunan tempat menuntut ilmu itu.
Dia segera berlari ke belakang sekolah yang ternyata sudah ramai oleh petugas medis.
Aku telat. (Madya).
Mata Madya mengalirkan air hangat menyaksikan teman sekelasnya sedang diangkat ke atas brankar. Terlihat seorang bapak mengambil gambar Daniel kamera lawas yang masih menggunakan roll film.
Pintu ambulan segera ditutup. Mobil putih itu pun menjauh menuju rumah sakit. Beberapa warga yang menyaksikan membubarkan diri. Madya mengejar seorang bapak yang mengambil gambar Daniel.
"Adik ini temennya yang dibawa ambulan?"
"Iya, temen sekelas."
"Anak cowok yang tadi dipukulin orang banyak."
Sebenarnya Madya sudah sedikit tahu tentang hal ini, lebih tepatnya sedikit 'mengingat' peristiwa ini. Namun, dia terperanjat karena sekali lagi ada orang yang sedang di-bully sedemikian parah dan tidak ada yang menghentikan.
Bapak itu memang mendatangi Daniel, tapi keadaan sudah terlanjur. Daniel sudah dipukuli hingga sangat parah. Dia sempat melihat kucuran darah dari kepala lelaki tampan pendiam, teman sekelasnya.
"Bapak tadi ambil foto?" Suatu fenomena yang tak jauh berbeda dengan jaman 2020-an di mana orang lebih suka mengambil gambar dari pada menolong. "Bapak nggak coba nolong atau berhentiin mereka?"
__ADS_1
"Begini, Dik. Waktu saya lewat, saya tadi baru pulang kerja." Ya, bapak itu memang masih mengenakan seragam kerjanya. Dia meneruskan, "Alasan saya memotret karena luka teman Adik tadi parah. Bisa jadi peristiwa ini dipolisikan. Saya siap memberi foto ini sebagai bukti. Saya juga siap bersaksi," kata bapak itu, mantap.
"O-oh, maaf saya sudah berprasangka buruk sama Bapak. Boleh tahu, kenapa Bapak kayaknya pengen banget bersaksi buat bela temen saya?"
"Saya mantan jurnalis freelance. Saya diberhentikan gara-gara menuliskan berita politik yang riskan, padahal itu nyata. Tapi peristiwa yang barusan ini, saya bukan jurnalis yang bekerja untuk siapa pun. Sebagai rakyat, saya bebas mengungkap kebenaran."
Bapak itu kemudian berpamitan. []
Bersambung ....
***
Hai readers, sekedar mengingatkan. Novel ini adalah kejadian 18 tahun silam bagi pemeran utama. Dan yang penasaran kenapa lupa ini kenapa lupa itu, lha ya tanya diri Anda sendiri 18 tahun ini Anda ingat semua kejadian setiap harinya?
Lalu Madya ini sedang mengulik tentang Daniel yang mana Daniel itu orang lain bukan dirinya sendiri. Daniel juga bukan orang yang dia taksir. Masak iya dia musti ingat sama kejadian orang lain? Madya punya masalah di dirinya sendiri, apalagi dia korban bully.
Saya contohkan pada kehidupan saya 18 tahun yang lalu bahwa ada teman yang berantem (nyata). Ya saya nggak ngerti detailnya, saya punya masalah saya sendiri. Saya punya tugas belajar, punya masalah di rumah sendiri, dll. Masak saya nyorotin hidup orang lain?
Kembali ke Madya, Madya berusaha membantu dengan ingatan kelebatan seadanya.
***
Mungkin kamu juga suka:
__ADS_1