
Tangan Madya mengulur menjabat tangan Yeni sembari mengucapkan keyakinan dalam hati kemudian secara lisan berkata, "Yen, aku tahu kita udah kayak anjing dan kucing. Tapi aku dengan ikhlas maafin semua yang kamu dan temenmu lakukan sama aku."
Yeni dan 3 orang lainnya melotot mendengar perkataan mendadak dan menyeramkan itu. Mereka pun speechless, tidak bisa ber-word-word. "Ba ... bi ... bu ... i-iya."
Giliran Raihan. Madya menuju kelas 2 D walau bel masuk setelah istirahat telah berbunyi. Dia mencari Raihan. Dia kemudian menarik tangan Raihan untuk keluar dari kelas.
"Rai," panggil Madya. Namun, sekuat apa pun tekat, jika berhadapan dengan orang yang dicinta secara langsung, iman akan melemah. Dengan berkaca-kaca Madya menggelengkan kepala seperti meyakinkan diri untuk kuat. "Aku mau kita putus."
"Apa?! Kenapa tiba-tiba ... aku salah apa?"
Jangan sakiti orang juga, Mad. Harus logis alasannya. (Madya).
"Kamu sama sekali nggak salah. Ehm ... gini, aku mau pergi ke tempat yang jauh banget, aku ...."
"Tunggu, apa kamu marah karena aku bilang mau kuliah di luar negeri? Kalau itu masalahnya, kamu nggak usah khawatir. Setelah lulus aku balik ke sini. Kamu nggak usah pergi jauh juga."
"Bukan itu. Eh, iya, karena itu." Madya malah menemukan celah. "Kamu kuliah di Stanford, Oxford, Harvard, Yale, Columbia atau mana aja yang kamu cita-citain silakan. Aku mau kita putus justru demi masa depan. Kalau kita terus, kamu nggak bisa fokus belajar biar dapat beasiswa."
Raihan akhirnya mengangguk setuju.
__ADS_1
"Kamu konsentrasi belajar, raih cita-cita kamu, dan aku pergi ke tempat yang jauh banget. Kalau kita jodoh, pasti ketemu lagi."
"Oke, alasan kamu masuk akal karena emang sejak pacaran sama kamu, aku jadi agak susah fokus belajar."
Asem! Tapi, makasih. Fyuh, I'll miss you. Eh nggak boleh, Mad. Ikhlas, lepas. (Madya).
"Aku ikhlasin dan lepasin kamu Raihan Abu Nawasatya. Mudah-mudahan kita ketemu lagi."
"Tunggu, paling enggak kasih tahu ke mana kamu pergi. Dan nggak dalam waktu deket, kan? Nunggu lulus, kan?"
"Aku nggak bisa bilang. Tapi sama jauhnya dengan Stanford. Waktu perginya juga nggak tahu kapan. Bisa aja dalam waktu deket. Tolong jangan pikirin aku. Percaya deh, kalau jodoh kita bakal ketemu. Kalau nggak jodoh, kita bakal ketemu orang baru dan akan lupa semua ini."
Madya mengambil tas kemudian pergi dari sekolah tanpa berpamitan atau surat dispensasi apa pun. Toh dia sebenarnya telah diizinkan pulang karena pingsan tadi.
Beberapa guru dan Pak Rebiman satpam sekolahnya memanggil-manggil. Namun, Madya berjalan mantap tanpa menoleh lagi.
List kedua, adikku yang masih di perut Ibu. (Madya).
~
__ADS_1
Rumah Madya
Madya segera menemui ibunya. Dia bersimpuh di hadapan sang ibu dan meminta maaf. Air mata menghujani pipi membuat Bu Sriyani keheranan. Namun, suara ibunya telah sedikit samar.
Tangan Madya kini menuju perut ibunya. "Dik, maafin Mbak, ya. Mbak ikhlasin kamu. Mbak relakan kamu."
"Kamu ngomong apa sih, Mad?" tanya ibunya dengan suara yang semakin lama semakin samar.
Hampir ... hampir ... ayo, Madya. Kamu pasti bisa. (Madya). []
Bersambung ....
***
advertisement
...KEKASIH PALSU SI CULUN...
...(Shasavinta)...
__ADS_1