
Dengan segera Madya kembali lagi ke ruang BK. Pak Raharja yang sedang minum tersedak karena kehadiran Madya yang tiba-tiba.
"Hoah! Kamu balik lagi?! Kamu kok punya elemen misteri yang kental banget bikin saya bergidik aja!"
"Maaf, Pak, ada yang kelupaan. Gini, kalau udah ketemu hal yang belum dia ikhlasin, nanti cara ngikhlasinnya gimana?"
"Ya ikhlasin aja."
"Ikhlas kan nggak sekedar kata, Pak. Please, Pak, kasih tahu cara ngikhlasin sesuatu."
"Saya sendiri nggak begitu yakin karena misalnya saya kecopetan, awalnya kesel dan nggak ikhlas. Tapi setelah setahun dua tahun udah ikhlas secara otomatis."
"Lha kok lama, Pak? Kalau yang cepet caranya gimana?"
Udah nanya-nanya mulu, maksa pula. (Pak Raharja).
"Ya udah, saya kasih caranya tapi ini cuma karangan saya jadi belum tentu berhasil. Pakai konsep mengimani sesuatu aja. Niatkan dalam hati, ucapkan dengan lisan dan lakukan dengan perbuatan."
Belum tentu bisa tapi lagi-lagi worth a shot. Semalam paling enggak Nadila kayaknya ngerespon. Aku mau mau balik ke tempat Nadila, ke tempat Ibu, ke tahunku 2020-an. (Madya).
Madya menggertakkan gigi, tangannya mengepal. Dia sungguh bertekad untuk bisa segera berpindah dunia. Dalam perjalannya kembali ke kelas, kepalanya berdenyut hebat, dadanya terasa sakit dan kulit punggungnya terasa perih.
Badannya limbung dan terjatuh ke lantai tanpa ada yang bisa menahannya.
Dalam pingsannya, Madya kembali bermimpi berada di ruangan yang sangat gelap. Tak ada suara panggilan yang dia harapkan, hanya saja ada suara langkah kaki, suara beep seperti mesin. Dalam pingsan dan mimpinya itu rasa sakit yang ia rasakan bukannya berkurang malah semakin nyata.
Terdengar suara tangisan dan jeritan, tapi agak jauh dan tak sejelas suara yang biasa dia dengar.
__ADS_1
"Kak Susan ... Kak Susan ... Suster, Dokter, tolong!"
Setelah teriakkan samar itu suara tenang dua orang seperti sedang berbicara. Begitu selesai dua orang itu berbicara, tangisan seseorang pecah.
"Madya ... Madya ... bangun." Suara Raihan.
Madya membuka mata perlahan. Saat bangun, rasa sakit di dada, kepala dan punggungnya sedikit berkurang.
"Syukurlah kamu segera bangun. Kamu kenapa kok jadi sering pingsan?"
"Aku juga nggak tahu, tapi punggungku, dadaku, sama kepalaku sakit banget."
~
Kelas 2 C
Madya tak ingin pulang lebih awal padahal guru BK sudah memberikan surat izin jika dia ingin beristirahat di rumah. Menurutnya, ini adalah pilihan yang tepat untuk menyiksa dirinya di jaman ini agar semakin merasa tak nyaman.
Saat dia menguatkan tekat, kesadarannya hampir hilang kembali.
Huh hah, apa itu tadi? Sebentar, kalau aku sekedar bertekat, aku cuma bakalan pingsan doang kayak tadi. Aku harus tuntasin dulu apa yang belum aku ikhlasin di sini. (Madya).
Madya membuka buku catatan kemudian menuliskan beberapa perbandingan jaman ini dengan jaman di mana dia berusia 35 tahun. Dia menuliskan apa yang ada di sini, tapi tak ada di masa depan.
__ADS_1
Raihan
Adik yang masih dikandung ibunya
Kemenangannya terhadap bully-an Yeni
Kemenangan dalam debat bahasa Inggris
Madya menoleh ke belakang menyaksikan Yeni yang sedang bercanda dengan 3 orang yang sering berbuat jahat pada dirinya. Dia berdiri dan menghampiri Yeni. []
Bersambung ....
__ADS_1
***