
Latihan dansa terakhir Madya dengan Raihan telah usai. Kesedihan datang menyelimuti hati Madya.
"Mad, udah selesai. Lepasin, napa?!" kata Raihan sembari berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Madya. Gadis palsu itu serasa menjadi lizard-woman yang tangannya lengket.
"Belum hafal semua. Sekali lagi ya?"
"Nggak akh, capek."
Madya tertunduk sedih. Bagaimana tidak lelah, 3 kali dansa itu diulang tanpa jeda. Asa yang menunggu pun bosan melihat hingga dia tertidur di atas sofa.
"As, bangun!" Madya menggoyangkan bahu Asa.
"Hoaaah ...." Asa tersentak kaget. "Udah selesai? Eh kalian ujian Laendler besok ya? Aku juga jam ketiga. Abu latihan sekali sama aku dong!"
Madya melotot mendengar permintaan Asa. Dia merasa 'ditusuk dari belakang' oleh sahabat sendiri.
Eh eh, kok dia makan temen gitu sih. Jadi inget Mbak Aryati di babysitter lucknut. (Madya).
Baik Madya maupun Raihan tidak bersuara sama sekali menanggapi permintaan Asa. Gadis itu pun bangkit dan mendekati Raihan Abu.
"Ayo dong, Abu, sekali aja," pinta Asa.
Bener-bener ngajak perang nih bocah lemot. (Madya).
Raihan tak segera menyanggupi permintaan Asa. Dia malah terlihat tegang di hadapan dua gadis cantik di hadapannya.
"Ehm ... aku terus mau pamit soalnya ada tugas lain yang belum aku kerjain," tolak Raihan sembari berekspresi canggung.
__ADS_1
"Ya udah deh, nggak apa-apa."
"Mad, aku pamit sekarang ya," pamit Raihan.
"Iya. Makasih banget ya udah bantuin aku sampai bisa. Aku panggilin ibuku bentar."
Bu Sriyani menuju ke ruang tamu bersama Madya. Dia tersenyum sejenak kepada Asa, tapi langsung memasang wajah masam di hadapan Raihan.
Pemuda itu merasa ngeri melihat perubahan ekspresi ibu Madya yang bak musim pancaroba.
"Bu-bu, saya pamit dulu," pamit Raihan sembari menyalami dan mencium tangan Bu Sriyani, siapa tahu mengurangi kadar kejutekan ibu itu.
"Hmmm ... ya ... terima kasih, hati-hati di jalan." Gagal, ibu Madya menjawab dengan ketus meski telah mengucapkan terima kasih.
Serem amat ya ampun. (Raihan Abu).
"Ganteng banget temenmu itu, Mad," kata Bu Sriyani.
"Ibu kok tiba-tiba bahagia gitu? Tadi kenapa jutek amat sama dia?"
"Karena dia cakep, biar nanti adikmu kalau cowok bisa mirip kayak dia."
"Ahahahah kepercayaan lawas. Bu, kalau bapaknya tetep bapakku Pak Wira ya mukanya nggak bakal jauh-jauh dari Bapak Ibu. Masak iya mau mirip Raihan?"
~
Di kamar Madya
__ADS_1
"Kamu ngajak perang, ya?!" Madya menginterogasi Asa atas ajakan dansa.
"Enggak. Eh, aku mau tanya tentang jodohku. Namanya siapa?"
"Astaga, kan udah dibilangin jangan tahu dulu. Nikmatin hidup aja! Jalani!"
"Tapi aku penasaran banget orangnya gimana. Inisial deh. Please please please."
Madya berpikir-pikir sejenak kemudian dia memutuskan untuk memberi tahu inisial jodoh Asa di masa depan. "Inisalnya D, dia orangnya baik, setia." Dia memandangi sahabatnya yang setelah menikah akan sedikit kesulitan mendapatkan keturunan. "Pokoknya mulai sekarang kamu harus hidup sehat ya."
Hanya itu keterangan yang dapat Madya berikan. Dia takut membuat sahabatnya sedih. Di tengah pikiran mellow-nya, Asa malah tersenyum-senyum sembari memandangi ponsel lipatnya.
"Kamu SMS-an sama siapa? Eh kamu lagi deket sama siapa?"
"Sama Fadhil. Dia deketin aku. Tapi karena nggak bakal jadi jodohku, aku nggak usah deket-deket sama dia ya."
"Nggak gitu juga konsepnya, As."
"Lhoh, gini lho, Mad. Kita udah tahu kalau dia bukan jodoh. Terus kenapa masih diterusin? Bukannya nanti malah nyakitin dia ya? Buang waktu juga, kan?"
"Tapi, kamu suka nggak sama dia?"
"Suka sih, tapi ...."
"Ya jelas kamu suka lah, kamu SMS-an sambil senyum-senyum gitu. Jalani aja dulu! Nanti jodohmu yang betulan bakal datang kalau udah waktunya." []
Bersambung ....
__ADS_1