
"Madya!" panggil Pak Ozan.
Madya yang sedang bosan menunggu teman yang lain selesai mendongak. "Ya, Pak?"
"Kamu les atau kursus bahasa Inggris?"
"Tidak, Pak."
"Your test result is amazing!" [Hasil tes Anda luar biasa!]
"I'm glad you notice. I really appreciate that. Thank you, Sir." [Saya senang Anda memperhatikan. Saya sangat menghargainya. Terima kasih, Pak.]
Astaga. Respon dari compliment yang sungguh luar biasa! (Pak Ozan).
"Would you like to join English debate contest?" [Maukah Anda mengikuti kontes debat bahasa Inggris?]
"Uhm ... thank you for the offer. I will consider it." [Terima kasih atas tawaran Anda. Saya akan mempertimbangkannya.]
Jual mahal dikit lah yaw. (Madya).
"Okay, I'm really looking forward to it." [Baiklah, saya sangat menantikannya.]
Pak Ozan yang telah lama putus asa karena tak ada murid andalan di ajang debat bahasa Inggris kini seperti mendapat nyawa tambahan. Dia sumringah abis hingga senyum tak lepas dari mulutnya.
Sebelumnya, Daniel lah siswa andalan multitalenta. Namun, karena ajang debat, lomba sains dan porseni diadakan serentak, Daniel lebih diarahkan untuk mengikuti lomba sains. Kehadiran Madya dalam 'bentuk' baru ini mengembangkan harapan Pak Ozan yang telah layu.
"Uhm, one more thing. You can go home now!" katanya kepada Madya. [Satu hal lagi. Anda bisa pulang sekarang!]
"And for those of you who have completed the test, you can go home too!" katanya kepada murid-murid yang lain. [Untuk Anda yang sudah menyelesaikan tes, Anda juga bisa pulang.]
__ADS_1
Murid lain hanya melongo mendengar penuturan Pak Ozan. Tak ada sorak sorai bahagia, itu karena mereka tidak mengerti kabar bahagia pulang awal tersebut. Namun, Madya tak begitu bahagia dapat pulang lebih awal.
Dia ingin pulang bersama dengan Asa untuk menuntaskan koretan curahan hati yang tadi terputus karena bel masuk kelas. Dia pun menunggu Asa di depan kelas 2 B.
***
Pulang sekolah
Madya bersama Asa berjalan menuju tempat pemberhentian bus.
"Gimana kamu tadi di kelas, ketemu si Z?" tanya Asa.
"Ketemu lah. Ya gitu deh."
Terdengar suara deheman dari belakang mereka berdua. Asa dan Madya menoleh ke belakang. Zulfikar seakan membayangi langkah mereka berdua terus menerus.
"Masak apaan bahan kayak gitu?" bisik Madya.
"Buat ngalihin aja."
"Tapi yang wajar dong akh."
"Eheheh, itu keluar otomatis dari mulut."
Sebuah motor berhenti di hadapan Madya dan Asa. Abu mengulurkan helm ciduk ke hadapan Madya.
"Oh, ehm aku ke rumah Abu ya, As," pamit Madya.
__ADS_1
"Lhah kok aku ditinggal?!"
"Habis gimana dong? Dah ya."
Abu dan Madya berlalu meninggalkan Asa yang di belakangnya diikuti oleh Zulfikar. Begitulah teman tidak tahu diri. Namun, Madya juga tidak bisa absen dari latihan dansanya.
Siwalan kamu Madya! (Asa).
Asa mempercepat langkah supaya segera menjauh dari Zulfikar.
Sementara itu Abu dan Madya dalam perjalanan menuju rumah Abu tanpa bicara sepatah kata pun. Sampai di rumah Abu pun lelaki itu hanya diam membisu. Madya memandanginya lekat-lekat.
"Apa?!" tanya Abu.
"Nggak apa-apa, penasaran aja kok kamu tumben diem aja?"
"Biar nggak ribet urusan sama kamu."
Madya siap mengeluarkan senjata tercanggihnya yaitu menyanyi dengan nada tinggi disertai air mata, alias menangis.
"Nah kan, belum-belum udah mau nangis aja lagi!"
Madya membenahi ekspresinya. Dia mendongak ke atas agar air matanya tak keluar. "Nggak jadi nangis deh. Lagian rugi nangis buat kamu."
"Apa?! Apa maksudnya rugi nangis buat aku?! Emang aku nggak cukup baik buat kamu?! Aku kurang cakep? Kurang pinter? Kamu lupa kemarin kamu SMS apa?!"
"Lhah, kok ngamuk?" []
Bersambung ....
__ADS_1