Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
66. Daniel's Farewell Party


__ADS_3

"Masalahnya, kamu nggak tahu kayak apa aku dulu. Kamu bakal tetep suka atau mata kamu jadi gatel-gatel liat aku."


"Maksud kamu yang berkacamata dan dikuncir tinggi?"


"He? Kamu tahu dari mana?"


"Kalau mau rahasiain itu, jangan pajang foto di ruang tamu!"


Ya, di ruang tamu rumah Madya terpampang foto Madya ketika masih berpenampilan cupu. Tak ada gunanya juga disembunyikan. Jika memang Raihan Abu menyukai Madya versi sekarang, dia harus tahu seperti apa wujudnya kala masih cupu.


"Oh, eheheh. Terus ... kalau aku kayak gitu, kamu tetep suka sama aku?"


Raihan mengangguk. "Emang apa bedanya penampilan gini dan yang di foto itu? Wujudnya masih manusia juga."


Kirain mau bilang sama-sama cantik. Tapi nggak apa-apa. Baiklah, sekarang jawabnya gimana? Iya, aku jadi pacarmu atau yuk kita jadian, atau I love you sayang, mari kita arungi bahtera ini bersama. (Madya).


"Mad, kok malah ngelamun sih? Kalau kamu bingung atau nggak mau ya nggak apa-apa, yang penting aku udah jujur tentang perasaanku sama kamu. Jadi, di masa datang aku nggak menyesal."


Kata-kata Raihan bagai petir di musim panas, mustahil. Tapi itu mungkin saja, petirnya di sini, musim panasnya di Amerika.


"Eit eit eit, tunggu, Mister. Ya, aku mau jadi pacar kamu."


Ahah! Sudah kuduga nggak bakal gagal. (Raihan Abu).


***


Pagi itu, para siswa berangkat ke sekolah seperti biasa. Ada yang berbeda di ruang kelas 2 C. Daniel telah masuk sekolah. Dia mengenakan kupluk untuk menutupi kepalanya yang dijahit.


Beberapa siswa mengerumuninya, menjabat tangan lelaki itu untuk memberi semangat. Namun, eupohoria itu selesai, Daniel kembali sendiri.

__ADS_1


Di belakang bangku Daniel yang seharusnya terisi Zulfikar kini kosong. Mereka berdua seolah bertukar tempat. Madya mendekati Daniel.


"Niel, selamat datang kembali di kelas."


Pemuda itu menangguk canggung.


"Kamu nggak jadi pindah, kan? Tetep sekolah di sini, kan?"


"Pindah."


"Oh. Ya udah, mungkin yang terbaik begitu."


"Mad, makasih ya, kamu dan Asa udah bantu."


Madya mengangguk. Daniel kemudian mengajak Madya dan Putra (ketua kelas) ke ruang kepala sekolah. Di sana, kepala sekolah dan beberapa guru telah menunggu. Tak lama, orang tua Daniel juga datang.


Sebuah pesta perpisahan dilakukan untuk melepas Daniel. Acara ini mencakup beberapa hal yaitu ungkapan maaf kepada orang tua Daniel karena d sekolah ini anak mereka sampai harus dirawat di rumah sakit.


Mereka pun berfoto. Pak Raharja, guru BK, mengambil banner kecil dari belakang kemudian membentangkannya agar lebih terlihat jelas di dalam foto yang masih menggunakan klise itu.


Banner kecil itu bertuliskan:


...'Daniel's farewell party. Terima kasih telah menyumbang banyak piala ke sekolah ini'...


Madya memandangi Daniel sembari berbahagia dalam hati telah turut mempercepat proses kasus Daniel meski tak dapat menahannya untuk pindah. Setelah acara singkat itu selesai, mereka membubarkan diri.


Madya mengejar Bu Seli dan Pak Danu yang tengah berjalan menuju lahan parkir.


"Bu, Pak, maaf saya mau bicara sedikit."

__ADS_1


Bu Seli dan Pak Danu menghentikan langkah dan menanti Madya berbicara.


"Begini, sepertinya Daniel ada kecenderungan anxiety atau kecemasan. Kalau boleh saya memberi saran, Daniel sebaiknya berkonsultasi dengan pskiater."


Kedua orang tua Daniel mengangguk, tapi juga penasaran dengan saran mendadak itu. "Saya emang khawatir juga dengan Daniel. Saya pernah berkonsultasi dengan psikolog, katanya Daniel hanya introvert nggak ada yang lebih dari itu."


"Lebih baik ke pskiater, Bu. Permasalahan Daniel bukan hanya masalah kepribadian. Tapi namanya ... aduh maaf saya lupa tapi termasuk anxiety atau kecemasan gitu."


Alah, kok lupa sih apa namanya ya? (Madya).


Bu Seli dan Pak Danu mengangguk lagi. "Makasih sarannya ya. Eh, ngomong-ngomong Nak Madya tahu dari mana tentang Daniel?"


Dang! Nggak mungkin aku bilang dari masa depan. Bisa pingsan mereka. (Madya). []


Bersambung ....


***


advertisement


...MENDADAK NIKAH...


...(Nunuk Pujiati)...


Demi kebahagiaan saudara kembarnya, Raya rela menerima permintaan Mahen untuk menikah malam itu juga dan tanpa sepengetahuan orang terdekat.


Selama menjadi suami-istri, kehidupan mereka tak ada manis-manisnya, pertengkaran serta kekonyolan selalu membuat kedua orang tua mereka geleng-geleng dan khawatir hubungan kedua anaknya akan kandas di tengah jalan.


"Jangan pernah kamu merubah batasan kita, Mahen! Lihat saja, jika kamu melanggar semua, maka saat itu juga aku akan minta cerai!"

__ADS_1


Apakah Raya akhirnya bisa menerima Mahen sebagai suaminya atau Raya akhirnya memilih untuk bercerai, setelah semua masalah saudara kembarnya selesai?



__ADS_2