
Pulang sekolah hari berikutnya
Bangku depan perpustakaan
Madya tengah menunggu untuk berlatih debat bersama club debat. Seharusnya dia bahagia karena sebentar lagi bisa menunjukkan taring di hadapan para siswa asli 17 tahun. Dia bisa leluasa menjadi bintang. Namun, wajahnya malah ditekuk hingga kusut dan butuh disetrika.
"Mad, kamu kok malah suram gitu sih mukanya? Harusnya seneng kan perkara Daniel udah lebih cepet diurusnya," tanya Asa sembari memandangi layar ponsel Mobilola Razr V4-nya bergantian dengan sahabat di sampingnya.
"Embuh," jawabnya sembari wajahnya bertambah kusut seperti gombal pel.
"Hahahah ...." Asa malah tertawa.
"Apaan sih malah ketawa?"
"Maaf, aku ketawa karena handphone."
"Emang handphone-mu lagi ngelucu? Alah, sok multitasking. Makanya kalau ngomong tuh ngomong doang jangan sambil main handphone!"
"Dah akh, aku pergi dulu."
"Hyah, nggak nemenin aku sampai selesai?"
"Enggak. Dadaaa ...."
Tak lama setelah Asa pergi, rombongan 4 sekawan yang sering mem-bully Madya mendekat. Mereka telah beberapa hari absen dari mengerjai Madya. Mungkin mereka takut dipecat bos mereka sehingga mereka harus memenuhi presensi untuk mengerjai sang mantan gadis cupu.
Tuh badut berempat kangen kali ya sama aku. Kirain udah tobat. Oh, aku ngerti sekarang. Mereka emang nunggu Asa pergi dulu baru berani gerak ya? Mental tempe! (Madya).
"Wah wah wah, si mantan cewek cupu sekarang mau latihan debat segala nih ye." Yeni memberi 'hidangan' pembuka.
"Iya, kalian mau apa? Kalian kok hafal banget sama jadwalku, ngefans ya?"
__ADS_1
"Howek, GR dia, bikin pengen muntah."
"Nyatanya bener kok, tiap kalian jegal kakiku, berarti kalian perhatian banget sama jadwalku masuk kelas. Terus kalian juga tahu aku di sini sekarang. Mana sabar banget kalian pengen ketemu aku pake nunggu Asa pergi dulu."
"Iya sih," kata Nola.
"Heh, kamu ngaku ngefans sama nih orang?!" sergah Yeni.
"Udah jangan ribut sendiri! Kalian mau apa? Kalian belum kapok? Kalian belum pernah lihat gimana kalau aku bener-bener marah, kan?! Aku lagi nggak enak hati, banyak pikiran. Kalau marah, aku bisa banget gulat sama kalian."
Wajah mereka berempat menunjukkan ekspresi ketakutan. Mereka mundur sedikit demi sedikit.
"Besok kapan-kapan lagi aja, aku ada urusan," kata Yeni.
Mereka pun pergi. Madya keheranan. Entah apa mau wanita 35 tahun ber-casing gadis ini. Di-bully salah, tidak di-bully malah heran. Mungkin dia sendiri rindu.
Setelah puas dengan rasa herannya, Madya berbalik hendak memasuki perpustakaan.
Mantra ancamanku sakti juga ya. Mereka takut aku bakal ngamuk? (Madya).
"Ra-rai ... kamu udah dari tadi berdiri di sini?"
"Enggak tuh, baru aja."
"Kamu tuh Daniel versi kedua, nggak ada suaranya. Terus kamu ngapain di sini? Dikasih tugas bersih-bersih perpustakaan? Atau kangen sama aku?"
"Aku ke sini mau ngajak kamu masuk ke perpustakaan, udah ditunggu dari tadi sama yang lain."
"Ditunggu ngapain?"
"Mereka nunggu kamu buat nyanyi 1 album."
__ADS_1
"Oh ya? Padahal suaraku ancur lho. Ada juga yang suka suaraku."
Raihan memejamkan mata. "Aku nggak ngerti kenapa Pak Ozan milih kamu bahkan tanpa seleksi dulu. Kandidatnya lemot gini."
"Astaga! Maksudnya debat? Kamu ikut juga?! Bukannya bahasa Inggris kamu payah ya?"
"Kamu ... ikh! Ayo cepetan masuk!" kata Raihan Abu sembari menarik tangan Madya.
Meski bukan telapak tangan yang digenggam, Madya merasa bahagia. Kelesuan yang tadi dirasakan menguap seketika. Pipinya merah merona.
Raihan menyadari tangannya menggenggam sebuah lengan yang kulitnya agak kasar. Dia pun menoleh ke belakang. Sejenak pandangan mereka bertemu. Pandangan Raihan kemudian menuju ke bawah, ke genggaman tangan itu.
Dia melepaskannya.
"Kok dilepas? Besok aku luluran deh." []
Bersambung ....
***
heyhoooo, alhamdulillah simbah updatenya pagi lagi di tengah ngurus 2 bocil (yg satu lagi sakit mata) dan misua (yg ketularan bocil sakit mata). doakan simbah gak ketularan ya.
ikutin terus sepak terjang Madya di jaman embuh iniππ.
***
advertisement
...KEPEDIHAN JIWA...
...(Rima Junia Ermolina)
__ADS_1
...