
Mohon maaf pembaca semua, part ini agak sedih ya huhuhu ....
***
Pagi itu Madya bersiap untuk sekolah. Eka dan Pak Wira terlihat posesif kepada Bu Sriyani yang telah diketahui positif hamil. Diam-diam Madya bahagia melihat dua laki-laki itu tiba-tiba bersikap manis kepada sang ibu.
Biasanya, Eka akan meminta ini itu. Pak Wira biasanya meminta dilayani untuk makan dan untuk keperluan lain. Hari ini, dia mengambil sendiri makan dan menyetrika baju sendiri.
"Ibu kepengen apa? Nanti Bapak belikan," tawar Pak Wira.
"Ibu pengen bakso mi campur, pake tauge, kuahnya pake udang, garamnya dikit aja, baksonya bakso ikan."
Tiba-tiba Pak Wira menyesal menanyakan apa yang diinginkan istrinya. Madya merasa sangat geli menyaksikan tingkah sang ibu. Saat hamil, Madya juga menggunakan kesempatan untuk mengerjai Usman.
Madya menunduk, perut ratanya belum akan terisi janin hingga beberapa tahun yang akan datang. Wajahnya terasa panas. Pelupuk matanya kini basah karena luncuran air mata kerinduan kepada sang buah hati.
Terngiang tawa Nadila di telinga.
"Mad, kamu kenapa?" tanya Eka.
"Nggak apa-apa, Mas," jawab Madya sembari mengusap air mata.
"Nggak apa-apa kok nangis?"
__ADS_1
Pak Wira dan Bu Sriyani turut memperhatikan Madya. Gadis 17 tahun itu kemudian meyakinkan bahwa dirinya tidak apa-apa. Dia menggunakan alasan PMS (Pre Menstrual Syndrome).
Semua telah selesai sarapan dan akan menuju tempat bekerja mau pun belajar sendiri-sendiri.
"Ayo, Bu, Bapak anter ke pasar!"
"Nggak usah, Pak. Ibu mau naik angkot aja. Bapak udah mau terlambat lho, nanti dimarahin kayak kemarin lagi."
"Ibu nggak apa-apa naik angkot?"
Madya menegakkan wajah. "Ibu, jangan pergi!"
Kilatan memori terputar di pikiran Madya. Peristiwa yang sedang diingatnya merupakan alasan besar mengapa ia tidak memiliki adik. Kala itu ibunya pergi ke pasar menaikki angkot. Kendaraan umum itu kemudian terguling karena salah satu bannya kempes dan tergelincir rel.
"Kenapa, Mad?"
"Pokoknya jangan! Ibu di rumah aja hari ini."
"Tapi ini belanjaan musti dibeli."
"Oh ... ehm ... aduh, kepalaku sakit banget. Bu, aku nggak berangkat sekolah deh. Pusing banget, Bu. Jangan tinggal aku di rumah sendirian."
"Beneran apa bo'ongan tuh?" tanya Eka, tak percaya.
"Beneran, Mas!"
__ADS_1
"Ya udah, Ibu nggak jadi ke pasar, nemenin Madya aja di rumah."
Yes. Berhasil. (Madya).
Dia pun membuat surat ijin tidak masuk dan meminta Eka untuk mengantarkan surat tersebut ke sekolah.
~
Ternyata melarang ibu Madya untuk diam di rumah sangat sulit. Setelah Madya berhasil menggagalkan rencana Bu Sriyani ke pasar, berikutnya masih ada rencana-rencana Bu Sriyani untuk melancong ke beberapa tempat.
Madya begitu khawatir hingga dia harus mengerahkan segala kemampuan acting agar Bi Sriyani tetap tinggal di rumah. Dia bahkan mengaku kesurupan hingga berguling-guling di halaman rumah.
Madya ingat bahwa mereka tidak memelihara ayam. Namun, dia lupa bahwa tetangga memelihara ayam yang sering mampir di halaman. Mau tak mau, dia terkena sedikit kotoran ayam saat beraksi.
Begitulah, tetangga yang memelihara ayam, halaman orang lain yang terkena kotoran. Itu pun ketika dijual atau disembelih, tetangga yang jadi langganan kotoran ayam tidak kecipratan uang hasil penjualan mau pun opor ayamnya.
Ini halaman atau toilet ayam sih. (Madya).
Karena kegigihan ibunya yang ngeyel ingin pergi, Madya akhirnya tidak masuk sekolah selama 2 hari. Itu adalah jalan satu-satunya agar sang ibu mau ndekem di rumah.
Demi kamu, Dik. Aku inget namamu, Wuri Tri Brata. Kalau dulu jenis kelaminmu belum diketahui karena udah gugur duluan. Sekarang, kamu harus lahir sehat. (Madya). []
Bersambung ....
__ADS_1