Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
81. Konsekuensi Setiap Kejadian


__ADS_3

Di sela tangis untuk ibunya, Madya menemukan celah untuk menggelitik sang kakak. Buru-buru dia mengusap air matanya.


"Berarti Mas Eka nggak jadi lamaran besok malam, kan?"


"Belum tahu. Kenapa malah bahas itu sih? Ayo ke tempat Ibu."


Sepanjang kakinya melangkah, Madya merapal doa yang entah akan dikabulkan atau tidak. Dia tidak memiliki akses langsung pada Tuhan meski dia percaya apa yang terjadi padanya adalah bukti kedekatan dengan Tuhan.


Tuhan sayang banget sama aku, kan? Buktinya semua yang aku mau dikabulin. Kali ini bakal kabulin, kan? Aku tinggal ketemuin Mas Eka sama Kak Linda. Lumayan nggak kacau, nanti urusan Asa sama Daniel aku urus belakangan. (Madya).


Mereka sampai di bangsal tempat ibu mereka dirawat. Madya juga waswas mengenai Bu Sriyani. Dia khawatir perjuangannya mempertahankan sang adik akan gagal.


Mereka memasuki ruang di mana Bu Sriyani berbaring di atas hospital bed.


"Ibu, Ibu baik-baik aja, kan?" Pertanyaan sedikit tak bernalar Madya keluar begitu saja sebagai reflek. Jika baik-baik saja, untuk apa dia tidur di kamar bangsal rumah sakit? Apa mungkin Bu Sriyani salah mengira itu hotel?


"Ya, Ibu baik kok, Mad. Kamu kok sampai nangis gitu? Ini cuma ngeflek," kata Bu Sriyani sembari memperhatikan mata Madya yang ukurannya seperti ukuran mata Kermit si kodok.


"Dedek bayi gimana, Bu?"

__ADS_1


Kini Pak Wira yang menjawab karena dari pada tidak ngapa-ngapain. "Baik-baik aja. Adik bayi nggak apa-apa. Dia kuat banget. Udah, kamu tenang aja."


Madya menghela napas sangat lega. Adiknya adalah satu hal yang setidaknya bisa dia selamatkan di masa depannya.


Eka kemudian berbicara lewat telepon dengan Elsa di teras kamar bangsal. Madya sedikit menguping.


"Ibuku dirawat di rumah sakit. Acara lamarannya gimana ya?"


" ... "


Madya merasa sedikit terhibur dengan kemungkinan gagalnya acara lamaran sang kakak. Di jaman ini dia menjadi adik yang sangat kurang ajar yang senang melihat sang kakak batal menikah.


"Mad, gini, tadi dokter bilang kalau kehamilan Ibu sangat berisiko," kata Bu Sriyani dengan suara teramat lirih. Dengan ragu, dia melanjutkan, "Kemungkinan kelahiannya nanti operasi caesar."


Madya mengangguk. Dia juga tahu itu. Wanita yang telah di atas 40 tahun memiliki risiko yang lebih besar pada kehamilannya sehingga caesar adalah opsi yang bisa dipilih untuk menyelamatkan dari segala kemungkinan komplikasi.


"Biayanya besar, kemungkinan kami nanti nggak bisa kuliahin kamu."


Bagai pisau yang dilempar oleh ninja yang sudah sangat mahir hingga menancap pas kena jantung Madya. Sesak.

__ADS_1


Kuliahku ... ijazahku ... gimana .... (Madya).


Terlalu berkecamuk pikiran Madya bahkan membatin saja terbata-bata.


Eka telah selesai menelpon Elsa. Dia masuk ke ruang bangsal, langsung bergabung bersama dengan 3 orang lainnya.


"Gimana, Ka, bisa ditunda?" tanya Pak Wira.


"Gimana ya, Pak. Mereka bilang sih nggak apa-apa. Tapi nggak enak karena mereka udah nyiapin segala sesuatu. Udah pesen ini itu. Gimana, Bu?" tanya Eka kemudian kepada sang ibu.


"Kalau menurut Ibu, kalian berdua, kepala dusun sama saudara yang udah kita kabarin tetep berangkat ngelamar Elsa. Ini cuma Ibu yang sakit, dan nggak parah kok. Besok boleh pulang."


"Lhoh, tapi, Bu. Masak ibu calon manten laki-laki nggak dateng, kan nggak etis. Mending ditunda aja," usul Madya.


"Mad, Ibu itu ngomong gini karena punya anak perempuan yaitu kamu. Coba kalau ada laki-laki yang udah mau ngelamar kamu terus tiba-tiba ditunda, sakit hati. Sebisa mungkin tetep jadi acaranya."


Madya kalah. Memang benar perkataan ibunya. Bagaimana rasanya diundur bahkan dibatalkan acara lamarannya? Rasanya sakit sekali. (Putus cinta aja sakitnya tuh di sini). Pasti juga akan menghamburkan banyak cancelation fee (biaya pembatalan).


Mengundur acara sama halnya dengan meng-cancel. Banyak vendor yang di hari pengunduran telah terisi jadwal lain sehingga tak bisa seenaknya menggeser tanggal. []

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2