Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
86. Belum Rela?


__ADS_3

"Ehm ... ya, bisa dibilang begitu."


"Tapi belum tentu itu panggilan dari alam lain, bisa juga cuma mimpi soalnya ...."


"Pak, saya yakin itu bukan mimpi biasanya. Tolong kasih tahu caranya berpindah ke dunia satunya di mana suara asing itu berasal."


"Baik. Tapi saya nggak yakin tingkat keberhasilannya, hanya melihat dari yang berhasil pulang. Polanya hampir sama yaitu ketidakbetahan. Kalau tidak ada yang mengajak, anggap saja Tuhan yang mengajak. Tunjukkan semua itu kepada Tuhan."


Madya merekam semua penjelasan Pak Raharja dengan seksama. Dia di ambang keputusasaan sehingga segala cara akan dia coba.


"Oh iya, satu lagi. Katamu tadi saudaramu jadi takut tidur? Kebalik. Kalau emang niat pengen pindah ke asal suara yang manggil dia, banyakin tidur. Minta dia fokus dengan suara itu," tutur Pak Raharja.


"Baik, Pak. Nanti saya sampaikan."


"Ngomong-ngomong, saudaramu kok aneh mau pindah ke dunia lain segala? Apa dia nggak takut?"


"Eng-enggak, Pak. Dia itu hobi sama apa itu namanya ... klenik, Pak."


Pak Raharja manggut-manggut. "Hati-hati lho, jangan sampai nanti terjerumus belajar ilmu hitam."


~


Malam hari


Setelah kunjungan tak diundangnya ke rumah Pak Raharja, Madya bertekad untuk mempraktikkan semua kiat yang disebutkan gurunya. Dia bahkan menyediakan obat flu yang dapat membuatnya mengantuk.


Obat tidur nggak ada, obat flu pun jadi. (Madya).


Dia meminum satu kemudian memejamkan mata. Tak sulit melakukan kegiatan tidur ini apalagi dia dibantu obat yang telah dia telan.


Sesuai ekspektasi, dia memasuki alam mimpi dengan cepat. Namun, banyak hal sering mengajak main kucing-kucingan tak terkecuali suara panggilan yang dia harapkan.


Saat tak menginginkannya, suara itu sliweran. Saat sangat menginginkan, justru suara itu tak muncul.

__ADS_1


Jam 12 malam Madya terbangun.


Kenapa nggak ada mimpi kayak kemarin sih. (Madya).


Kali ini Madya lebih berkonsentrasi lagi. Dia memejamkan mata untuk menuju alam tidur. Berhasil.


Mimpi yang dia harapkan juga telah terpampang di depan mata. Keadaan gelap dengan sekali atau dua kali kilatan cahaya disertai panggilan terhadapnya.


Suara Nadila dan Bu Sriyani yang sekarang menggema.


Lhah, Ibu? (Madya).


"Mama."


Madya berkonsentrasi penuh untuk menjawab. "Iya, sayang. Ini Mama."


"Ma, Mama mau ngomong?"


"Iya, Nak. Mama mau pulang, tolong Mama."


~


Pagi hari


Madya bangun dengan rasa kecewa. Meski dia berusaha berkomunikasi dengan suara-suara dalam mimpinya, belum mengubah keadaan juga.


Dia masih di jaman ini.


Aneh, kenapa Nadila bilang gitu? Terus ngapain dia manggil Daniel? Jangan-jangan kayak film Back To The Future, udah tercipta opsi masa depan baru dan Daniel-Asa nikah. (Madya).


"Madya! Kok ngelamun sih?" Bu Sriyani menyodorkan piring berisi nasi goreng di hadapannya.


Hanya ada mereka berdua di meja makan. Pak Wira telah berangkat bekerja, Eka sedang bertelepon mesra dengan tunangannya.

__ADS_1


Bu Sriyani duduk di samping Madya sembari mengelus perutnya yang belum membesar. Madya turut memandangi perut ibunya.


"Cepetan sarapan! Bentar lagi telat lho," kata Bu Sriyani.


Madya menjawab dengan anggukan lemas.


~


SMA Pioneer


Madya berjalan agak lambat memasuki gerbang sekolahnya. Dia tak memedulikan bel yang sudah berbunyi saat 3 langkah sebelum kakinya mencapai gerbang.


Ngapain aku tertib sekolah di sini? Aku aja udah nggak betah. (Madya).


Seperti yang dia harapkan, dia dimarahi oleh guru mata pelajaran jam pertama. Ya, dia memang ingin dimarahi. Mendengar makian gurunya membuat ia semakin tak nyaman.


Istirahat pertama ia gunakan untuk menuju ruang BK, kembali berkonsentrasi dengan misinya yang belum berhasil.


"Pagi, Pak Raharja."


"Oh, Madya. Kamu menyerahkan diri karena terlambat masuk kelas tadi pagi?"


"Saya ... ehm, mau membahas yang kemarin, Pak. Saudara saya udah melakukan tips dari Bapak untuk menunjukkan ketidakbetahan dan keinginan kuat menuju dunia satunya. Tapi belum bisa, Pak."


"Mungkin, tapi masih mungkin lho. Ada sebagian dari dirinya yang masih ingin berada di sini makanya belum berhasil. Harus total."


"Tapi kayaknya udah total kok, Pak."


"Kalau udah total seharusnya udah bisa pindah. Atau ... mungkin ada hal yang belum diikhlaskan. Misalnya dia masih mikirin jemuran takut kehujanan, nah bisa aja menggagalkan proses berpindah."


~


Madya keluar dari ruang BK sembari memikirkan apa yang belum dia relakan di jaman ini. []

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2