Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
42. Mendapat Pencerahan


__ADS_3

"Karena ... akh, ayok kamu berdiri di situ, tunggu aku ganti baju terus buruan mulai aja!"


"Mamamu nggak di rumah?"


"Enggak. Nggak ada orang di rumah."


Ow ow. (Madya).


Ish, apaan sih nih orang? Senyum-senyum nggak jelas gitu. (Abu).


Abu berganti baju kemudian memulai les privat dansa Laendler dengan Madya. Setelah mengulangi beberapa kali, 30% gerakan sudah dikuasai Madya.


"Kamu udah mulai bisa, kan?"


"Berkat kamu."


"Hayah."


"Emang bener kok."


"Iya, emang aku berjasa."


"Aku harus balas budi sama kamu. Kamu pengen aku balas budi dengan apa?"


"Dengan diam!"


"Oh, kamu nggak suka kalau aku ngomong ya?"


Abu menarik napas dalam-dalam. Sudah pasti Madya akan 'beraksi'. Abu memilih diam saja. Karena kehausan, Madya mengelus-elus lehernya.


"Haus? Ngomong!"


"Lhah, kamu tadi yang nggak bolehin aku ngomong!"


"Maksudnya jangan ngomong yang nggak perlu! Kalau yang manusiawi ya ngomong aja!"


"Aku nggak bisa bedain mana yang manusiawi, hewani dan setani."

__ADS_1


Setan! (Abu).


Abu mengambilkan minuman untuk Madya dalam diam. Dia baru menyadari bahwa pepatah 'diam itu emas' memanglah benar. Dia menghayati pepatah kuno itu.


"Makasih ya, Bu."


"Jangan panggil 'Bu'! Aku bukan ibu-ibu."


"Terus panggil apa dong?"


"Panggil Raihan aja. Lagian namaku Raihan Abu Nawasatya kenapa pada manggil Abu sih? Gara-gara temen-temen manggil Abu, mamaku ikutan manggil Abu juga."


"Ya udah aku panggil Raihan aja. Rai atau Han? Han aja ya, Haney."


"Rai!"


"Iya iya, aku panggil Rai."


Raimu! Raimu ganteng, Mas. Sungguh! (Madya).



Rumah Sakit Umum Daerah Koja


Sore hari


Madya mengajak Asa menjenguk Daniel. Madya ingin memastikan keadaan Daniel telah membaik. Namun, keluarga dan dokter memberitahukan bahwa Daniel belum bisa berbicara hingga 1 bulan ke depan.


Keadaan tulang rahangnya bergeser karena pukulan. Saat dijenguk pun, Daniel dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh obat.


"Oh, pantesan penyelidikannya lama. Pasti nunggu Daniel pulih dulu baru bisa buktiin si Z yang pukulin," kata Madya kepada Asa dalam perjalanan menuju parkiran rumah sakit.


Asa tak begitu mendengarkan penuturan sahabatnya itu. Pandangan Asa lurus ke depan seakan sedang memikirkan sesuatu.


"As, kok bengong?"


"Aku lagi mikirin temenmu si Daniel itu. Ganteng ya. Bonyok aja masih kelihatan ganteng. Kemarin-kemarin kemana aja aku? Kok nggak ngelihat ada murid ganteng di kelasmu."

__ADS_1


Ahahaha, kamu nggak tahu aja di masa depan kamu bakal akrab sama dia. Di kehidupan satunya kita nggak jengukin Daniel sih dulu, dan keburu Daniel pindah sekolah. Kamu baru bener-bener kenal Daniel waktu dewasa. (Madya).


"Eh, Daniel itu nanti jadi apa? Kamu kenal dia kan di masa depan?" tanya Asa, penasaran.


"Nggak akrab sih. Tapi ketemu beberapa kali. Dia jadi dokter."


Tiba-tiba Asa menoleh ke arah Madya. "Dokter? Ehm, ada lagi info tentang masa depan yang penting buat aku?"


"Sebaiknya kamu nggak usah tahu semuanya. Udah segitu aja yang aku kasih tahu."


"Emang kenapa kalau kamu kasih tahu? Dunia bakal hancur gitu?"


"Eheheh, nggak tahu juga. Cuman yah, kayaknya kalau banyak tahu tentang masa depan, takutnya ... nggak tahu deh."


Asa mengangguk-angguk pada penjelasan Madya yang tak jelas.


Sesampainya di parkiran rumah sakit sembari hendak menggenjot motor si Pitung pinjaman berwarna merah, Madya teringat sesuatu.


"Aku tahu sekarang, As. Aku udah nemuin seseorang yang bisa bersaksi."


Asa segera membonceng motor butut pinjaman yang onderdilnya hampir protol itu. Madya menarik gas motor itu kencang-kencang karena semangatnya yang membara. Meski ditarik kencang, motor itu hanya mampu melaju dengan kecepatan 40 km/jam.


Beberapa kali mereka berdua didahului oleh sepeda kayuh yang melaju kencang.


"Masak sama sepeda onthel gitu kalah, Mad?"


"Itu karena di masa depan, orang itu jadi atlit sepeda!"


"Masak?"


"Ho'oh."


Sebenernya nggak tahu, asal ngomong aja. (Madya). []


Bersambung ....


__ADS_1


__ADS_2