Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
45. Langkah Berikutnya


__ADS_3

Di tengah gundahnya Madya memikirkan Daniel, terdengar suara seorang wanita sedang muntah. Suara kucuran air juga terdengar setelah itu.


Madya keluar dari kamar untuk melihat keadaan ibunya. Ya, pasti itu adalah Bu Sriyani karena personil wanita di dalam rumah itu hanya dua orang. Jika bukan Bu Sriyani, maka dapat dipastikan wanita yang sedang muntah itu adalah ...


"Ibu ... sakit?"


"Masuk angin kayaknya."


Madya mengangguk. Masuk angin adalah alasan khas seorang wanita yang sedang muntah-muntah karena ngidam. Jelas Bu Sriyani sedang hamil karena dia dan Pak Wira Brata memang menginginkan satu anak lagi. Maka, segala 'kegiatan' tidak direm dan dilakukan dengan rajin.


Bu Sriyani keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Namun, senyum terukir indah di bibirnya.


"Mad, duduk sini!"


Madya menuruti perintah sang ibu untuk duduk di kursi dapur.


"Misalnya kamu punya adik, malu nggak?"


"Kenapa malu?"


"Ya karena kamu udah SMA, punya adik bayi."


"Nggak malu kok, Bu. Lagian, ibunya temenku juga lagi hamil," kata Madya sembari mengingat Bu Seli, ibu Daniel yang sedang hamil besar.


"Nanti kamu bantuin jaga adik, ya!"


"Iya, Bu. Nanti aku jagain kalau di rumah, tapi kalau lagi jalan-jalan ya nggak mau. Ntar aku dikira udah punya anak."

__ADS_1


"Jadi kamu nggak apa-apa punya adik?"


Madya mengangguk. "Ibu lagi hamil ya?" tanya Madya sembari memperhatikan lekuk pinggang sang ibu. Pinggang yang seharusnya berlekuk itu kini lurus. (Emak-emak jeli lihat ginian).


"Kayaknya iya," jawab Bu Sriyani malu-malu.


Setelah berbincang ringan dengan sang ibu, Madya berpamitan untuk tidur malam. Madya terlentang di atas tempat tidur sembari memandangi langit-langit kamar yang mulai terdapat jaring laba-laba itu. Dia sengaja membiarkan jaring itu karena berharap suatu saat Peter Parker mau tinggal di kamar itu.


Aku nggak punya adik. Aku inget Ibu hamil, tapi aku nggak punya adik tuh. (Madya).


Madya mengakhiri hari dengan memejamkan mata untuk menuju ke alam mimpi.



***


SMA Pioneer


Madya dan Asa berada di sana sembari mengamati foto Daniel yang berhasil ditilep oleh Madya.


"Walau Bu Asrul ngelarang habis-habisan untuk bersaksi, aku masih bisa ngelakuin sesuatu sama foto ini. Semaleman aku mikirnya."


"Gimana?" tanya Asa penasaran.


"Aku mau ngasih foto ini ke orang tua Daniel. Sementara itu dulu."


"Ide bagus! Foto itu bisa dijadiin kenang-kenangan."

__ADS_1


"Ckkkk, bukan buat kenang-kenangan, Asbun! Asal Bunyi! Aku ngasih ini biar mereka tahu siapa pelakunya."


"Caranya? Emang di foto itu ada tulisan nama pelaku?"


"Eheheh, enggak. Pokoknya aku serahin foto ini ke orang tua Daniel. Habis itu terserah mereka mau ambil langkah apa."


Seperti biasa, orang yang sedang mereka hindari justru menampakkan diri, Zulfikar.


"Foto apa tuh?" tanya Zulfikar pada Madya dan Asa.


"I-ini foto pribadinya Asa," jawab Madya sembari menyerahkan foto itu pada Asa.


Asa pun tanggap kemudian segera melindungi foto itu dari pandangan Zulfikar. "Iya, ini fotoku lagi pake baju renang."


Zulfikar melotot mendengar itu. Madya pun ikut terbelalak. Mereka kemudian berlalu dari sana karena bel masuk telah berbunyi.


Sembari berjalan menuju kelas masing-masing, Madya berbisik, "Kok kamu bilang itu foto kamu lagi pake baju renang sih? Nggak ada yang lain? Nanti kalau otaknya si Z jadi ngeres terus gimana?"


"Habisnya, kalau aku nggak bilang gitu, nanti dia minta lihat, gimana? Lagian tadi kamu bilang itu foto pribadiku, kan?"


"Foto pribadi kan nggak harus foto setengah telenji, As. Bisa aja kamu bilang itu foto saudara laki-lakimu, atau foto papamu. Dia pasti nggak tertarik pengen lihat."


"Iya juga ya."


"Kalau kamu bilang foto pake baju renang, malah dia penasaran. Udah sana, lindungin baik-baik tuh gambar! Jangan ada yang lihat!"


Mereka masuk ke kelas masing-masing. []

__ADS_1


Bersambung ....



__ADS_2