
"Ibu, maafkan aku dan semua salahku. Aku relakan Dik Wuri. Kalau dia udah lahir nanti, bilang aku sayang dia. Dia hanya ada di sini. Dan aku nggak bisa di sini lagi. Aku harus pergi."
"Maksudnya apa, Mad?"
Tak menjawab pertanyaan dengan suara samar itu, Madya menuju kamarnya. Dengan tenaga tersisa, dia terhuyung-huyung membuka-buka berkas piagam yang dia dapat. Tak sulit karena hanya 1.
Berbeda dengan masa yang asli di mana Madya berhasil memenangkan beberapa lomba. Dia memandangi piagam yang tulisannya mulai mengabur karena pandangan Madya. Dia merobek piagam itu.
"Aku Madya Dui Brata, pemenang lomba sains bukan debat bahasa Inggris."
Dengan kesadaran yang hanya tinggal sedikit, Madya meninggalkan rumah dengan berjalan kaki. Teriakan ibunya tak dihiraukan. Dia hanya berbisik yang pasti sudah tak bisa didengar oleh Bu Sriyani, "Maaf ya, Bu. Maaf ya, Dik. Aku harus pergi ketemu Nadila anakku, Dioka keponakanku, Kak Linda kakak iparku."
Kakinya terus melangkah dengan lemah. Dia melewati jalan dalam agar tak dikejar oleh Eka, Pak Wira atau pun ibunya. Sampailah ia di depan sebuah kafe di mana dia pertama kali memasuki jaman ini, Kafe Melan yang sesungguhnya adalah singkatan Mepet jaLan.
Semua orang terkejut dengan kedatangan Madya yang gerakannya seperti orang yang sedang mabuk. Rasa sakit di dada, kepala dan punggung semakin terasa nyata. Dia tersenyum merasakan sakit itu.
Ayo sakit, ayo sakit, aku suka sakit. Baru sekali ini aku suka sakit. (Madya).
__ADS_1
Seorang kasir panik melihat calon customer-nya yang sekali senggol bye bye itu.
"Dik, kayaknya salah tempat deh. Ini kafe bukan rumah sakit. Adik kalau sakit mendingan ke rumah sakit atau ke klinik," kata kasir itu yang terdengar sama samarnya dengan suara ibunya tadi.
"Sa-saya mau numpang ke toilet aja, Kak."
Rasa sakit ditambah berjalan kaki jarak jauh membuat tenaga Madya telah habis. Dia membuka pintu toilet dan gelap. Kesadarannya telah hilang.
~
Di sebuah ruangan tenang dengan bunyi beberapa alat, Madya sekuat tenaga membuka matanya yang terasa sangat lengket. Semua rasa sakit yang tadinya samar-samar kini terasa sangat nyata dan 10 kali lebih sakit dari sebelumnya.
Infus? Aku pingsan terus dibawa ke rumah sakit? Jadi aku masih di tahun 2004? Akkk, tapi sakit banget dadaku, punggungku. Kok susah banget mau ngomong kayak ada banyak cairan di tenggorokan. Badanku pegel, kaku, mau gerak susah banget. Cuma pingsan kok dipasang kateter segala? Aku kan bisa ke kamar mandi sendiri. (Madya).
"Madya, kamu bangun?" Suara Asa. Madya berusaha mengenali wujud di hadapannya yang masih buram. "Niel, Madya bangun," katanya lagi.
Sedikit demi sedikit indera-indera Madya bekerja dengan lebih baik. Dia pun akhirnya dapat mengidentifikasi orang di sampingnya, Asa versi dewasa. Dia menggunakan baju berwarna biru seperti yang biasa digunakan perawat, tapi sedikit lain karena modelnya dengan tali belakang.
__ADS_1
Jika dilihat, baju biru itu seperti kimono terbalik.
Di sampingnya berdiri seorang lelaki tampan yang juga ia kenali dengan baik, Daniel versi dewasa.
Aku berhasil balik, yes! Tapi kok Asa? Daniel? (Madya).
"Akkk ... ehm ...." Hanya itu yang bisa keluar dari Madya yang rahangnya telah tak digunakan beberapa saat. Rasa linu luar biasa menyerang seluruh persendiannya. Tenggorokannya terasa dipenuhi cairan mukus. []
Bersambung ....
***
advertisement
...HIDDEN BABY...
...(penulis : Teh Ijo)...
__ADS_1