
"Caranya adalah ... aku juga belum tahu, hehe ...," kata Mama sembari tertawa canggung.
Dengan bekal bukti yang sangat minim (bahkan tak ada sama sekali) dia juga tidak tahu bagaimana cara membuktikan bahwa Zulfikar adalah pelaku pemukulan terhadap Daniel. Asa tidak dapat membantu. Yang bisa dilakukan hanyalah mendukung (kadang malah mengganggu) sahabatnya itu.
***
Pagi itu di sekolah
Saat istirahat pertama, Madya mendatangi kantor guru. Dia bertanya kepada guru bagaimana cara untuk membuktikan seseorang itu bersalah karena dia tidak mempunyai alat bukti yang cukup.
"Gimana ya, membuktikan sesuatu itu butuh banyak bukti. Kecuali kalau kamu adalah saksi kunci dan melihat peristiwa itu secara langsung," kata Pak Raharja, bagian Bimbingan dan Konseling.
Ya, Madya tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi yang mengerti hukum di sebuah institusi sekolah. Tak ada satu guru pun yang merupakan lulusan sekolah tinggi hukum.
Madya mengangguk mendengar penjelasan Pak Raharja meski belum puas. Kemudian dia berpamitan kepada guru itu.
"Tunggu, Madya! Ini sebenarnya untuk kepentingan apa?"
Madya yang telah berada di ambang pintu berbalik dan berhadapan kembali dengan Pak Raharja. "Rencanya saya kuliah nanti mau ambil jurusan hukum, Pak."
"Oh, gitu. Coba kamu tanya-tanya Pak Fajar, beliau pasti lebih tahu tentang itu."
__ADS_1
"Baik, Pak. Terima kasih."
Oh iya, nggak kepikiran guru kewarganegaraan. Maklum lah udah belasan tahun nggak pelajarin. (Madya).
Madya memiliki secuil harapan untuk mendapatkan petunjuk. Dia segera meninggalkan ruang BK (Bimbingan dan Konseling) menuju ruang guru. Sebelum mencapai tujuan, seorang laki-laki mencegatnya.
"Mau ke mana, Mad?"
"Eh, Zul. Aku mau ke ruang guru."
"Untuk ...?"
"Aku ... ehm ... minta keringanan tugas sosiologi. Kan aku belum ngumpulin tugas."
Zulfikar mengangguk, tapi dia tak beranjak dari sana. Madya berjalan melewati lelaki itu untuk mencapai ruang guru. Ruangan tempat para guru duduk mempersiapkan pelajaran sekaligus tempat istirahat itu tidak pernah tertutup.
Madya segera menemui Pak Fajar. Setelah berbasa-basi-bosok, Madya mengutarakan maksudnya. Jawaban Pak Fajar tak jauh beda dengan jawaban Pak Raharja. Memang begitulah cara membuktikan seseorang itu bersalah, saksi atau bukti.
Madya tak memiliki keduanya. Dalam perjalanan menuju kelas, dia terus saja memikirkan hal itu.
Pantes aja dulu prosesnya lama. Di jaman ini masih susah. (Madya).
Langkah Madya lagi-lagi dikejutkan oleh Zulfikar yang berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Eh, maaf. Permisi, Zul, aku mau lewat."
"Kamu nemuin Pak Fajar?"
"Iya, kenapa emangnya?"
"Sejak kapan Pak Fajar ngajar sosiologi?" tanya Zulfikar sembari mengernyit.
Gawat! Aku lupa! Apa si Zul curiga ya? Duh, keselamatanku terancam. (Madya).
Madya dan Zulfikar saling bertatapan. Dia tetap memiliki rasa takut menghadapi lelaki di hadapannya yang bengal itu.
"Mad!" Dari arah lain, suara seorang lelaki yang terdengar marah mengagetkan Zulfikar dan Madya.
"Abu ... ada apa?"
"Ada apa ada apa! Aku tungguin kamu kemarin!" kata Abu berapi-api membuat Zulfikar menyingkir dari sana.
"Kita ngomong di sana!" Madya menarik Abu untuk berbicara di titik lain. "Maaf ya, aku kemarin lupa. Aku ada tugas."
"Aku ada tugas juga kali! Tapi aku luangin waktu buat bantuin kamu biar kamu nggak mewek kayak kemarin! Paling nggak, kasih kabar kek biar aku nggak nungguin kamu!"
"Oh, jadi kamu nungguin aku ya?" tanya Madya sembari GR-GR gimana gitu. []
__ADS_1
Bersambung ....