Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
46. Menyerahkan Foto


__ADS_3

Asa telah menghilang karena telah masuk ke kelasnya. Madya masih berada di luar sembari berjalan lambat. Karena keadaannya tidak siap dan tidak waspada, Madya tak melihat kaki Nola yang berada di depannya.


Madya tersungkur dan jatuh terjerembab tepat di depan kelas. Beberapa orang tertawa, beberapa orang lainnya merasa kasihan. Namun, belum ada yang menolong. Rasa kasihan mereka palsu!


Madya bangun kemudian siap menghajar Nola yang kala itu bersama 3 sekawan lainnya.


"Kamu ...."


"Maaf ya, Madya, aku nggak sengaja," kata Nola sembari tersenyum. Jelas-jelas dia terlihat bahagia melihat Madya terjungkal hingga roknya terangkat sedikit.


Untung Madya selalu menggunakan celana pendek di balik roknya sehingga tidak menjadi ladang amal pemandangan indah. Tapi tetap saja itu adalah celana pendek sehingga pahanya sedikit terlihat.


"Nggak sengaja tapi sering. Kalian itu ...." Madya tak melanjutkan kata-katanya. "Dahlah, capek!"


Madya lebih memfokuskan pikirannya ke urusan Daniel dari pada urusan Yeni and the gang. Bagi Madya sekarang, mereka berempat hanyalah debu beterbangan yang lebih baik dihindari dari pada bersin-bersin tidak jelas.



~


Pulang sekolah


Hari ini Zulfikar sudah tidak berada di belakang Madya dan Asa. Dua gadis itu sangat bersyukur tidak ada yang menguping pembicaraan mereka selama berjalan dari sekolah ke pemberhentian bus.


"Kita sekarang ke rumah sakit buat ngasihin foto itu ke orang tua Daniel. Fotonya aman, kan?"

__ADS_1


"Sip, aman. Tenang aja!"


Decitan rem sebuah motor berbunyi sedikit keras, pertanda orang tersebut belum mengganti kampas. Suara motor itu adalah milik Abu, atau Rai, atau Han (akh, Mbah Author jadi ikutan bingung).


Seperti biasa, dia mengulurkan helm yang di tahun 2020-an sudah punah. Tanpa sepatah kata pun, Madya sudah mengerti bahwa itu adalah ajakan naik ke motor, bukan ajakan naik ke pelaminan meskipun Madya sangat berharap.


Madya menginjakkan kaki ke atas footstep motor Abu.


"Mad, mau ke mana? Aku mau ditinggal lagi?"


"Gimana lagi?"


"Terus fotonya gimana?"


"Kamu aja yang ke rumah sakit ya! Oke?"


Asa menoleh ke belakang, memastikan tak ada Zulfikar di sana. Dia mengambil foto Daniel dari tasnya kemudian menimbang-nimbang untuk pulang ke rumah atau menuruti keinginan Madya.


Kampret lah. Apaan aku disuruh ke rumah sakit sendiri. (Asa).


~


Rumah Sakit Umum Daerah Koja


Daniel yang saat itu dalam keadaan sadar terkejut dengan kedatangan Asa. Lelaki yang terbaring lemah itu tak mengira gadis dari kelas sebelah itu datang mengunjunginya. Sebelumnya, Asa pernah berkunjung bersama Madya. Namun, Daniel saat itu dalam keadaan tidak sadar.

__ADS_1


Meski begitu, Daniel belum dapat berbicara. Dia hanya bisa melihat Asa yang berdiri di dekatnya. Asa mengeluarkan foto Daniel dari tas. Perasaan ragu datang menyapa. Bagaimana kah ibu yang sedang hamil itu akan merespon foto anaknya terekspos dengan darah di mana-mana?


"Foto apa itu, Nak?" tanya Bu Seli, ibu Daniel.


"Ini ... ehm, gini, Bu. Saya punya foto Daniel waktu kejadian. Apa Ibu mau lihat?"


"Oh, ya, Nak. Sini, biar saya lihat!" kata Bu Seli.


Meski Bu Seli telah menguatkan hati berkali-kali, tetap saja air matanya meluncur tanpa permisi kala netranya menangkap pencitraan sang anak berlumuran darah.


"Bu, kalau nggak kuat, fotonya saya minta lagi."


Bu Seli mengusap air matanya. "Nggak apa-apa. Malah kalau boleh ini saya simpan."


"Oh ya, Bu, boleh kok."


"Ini dapat dari mana?"


Waduh, tadi Madya ngomongnya cuma ngasihin foto ini doang. Aku kasih tahu nggak ya? (Asa).


"Bentar ya, Bu, saya belum bisa jawab. Saya harus tanya ke seseorang dulu."


Asa merogoh ponsel Mobilola Razr V4 lipatnya untuk menghubungi Madya, teman rasa bosnya. []


Bersambung ....

__ADS_1



__ADS_2