
Rumah Madya
Madya pulang dari rumah sakit kemudian merebahkan diri di kamar setelah berganti baju. Terdengar suara motor berhenti di depan rumah Madya.
"Bu, aku pulang," kata Eka.
Selain suara Eka dan Bu Sriyani, terdengar 1 suara wanita di sana. Madya penasaran. Dia pun keluar dari kamar untuk melihat siapa tamu yang datang bersama Eka.
Duduk di ruang tamu seorang wanita cantik umur 20-an. Dia sedang diinterogasi oleh Bu Sriyani.
"Nah, ini adiknya Eka, namanya Madya," kata Bu Sriyani memperkenalkan anak keduanya.
Wanita itu berdiri untuk menjabat tangan Madya.
"Saya Elsa."
"Madya."
Madya masuk ke dalam untuk menemui Eka yang sedang membuat minuman di dapur.
"Mas, katanya masih inget mantan. Kok udah bawa cewek baru?"
"Hahahah gimana ya, kelamaan sedih nggak bagus buat kesehatan."
"Cantik banget orangnya. Kok bisa dia mau sama Mas Eka?"
"Kurang ajar kamu! Dia itu selain cantik juga baik. Dan dia nggak mau pacaran lama-lama. Jadi, kamu jangan kaget kalau bentar lagi masmu ini bakal nikah."
"Hah?! Tapi Mas kan belum selesai kuliah!"
"Nggak ada larangan orang kuliah nggak boleh nikah."
Perasaan Madya berada di antara sedih tapi juga senang kakaknya telah move on dari mantannya. Dia mendekati pintu menuju ruang tamu.
Dia berhenti di ambang pintu dan memilih untuk mengintip sang calon kakak ipar. Dia perhatikan sosok dari ujung rambut hingga ujung kaki hingga matanya pegal sendiri.
"Sssttt, kamu ngintipin calon istriku ya?" bisik Eka sembari membawa nampan berisi minuman. "Minggir!"
Madya bergeser memberikan jalan untuk kakaknya. Dia melanjutkan intaiannya terhadap calon kakak ipar yang cantiknya wow itu.
__ADS_1
Kadar kecantikanku serasa luntur kalau duduk jejer sama dia. (Madya).
Kulitnya putih bersih. Untung tidak transparan sehingga tulang dan dagingnya tidak terlihat dari luar. Bajunya terlihat sangat perlente di jaman itu.
Cinta sejati emang ada. Dia kayaknya anak orang kaya. Mau sama Mas Eka. Wuih, cinta itu buta dan budeg. (Madya).
~
Malam hari
Eka berdiskusi dengan Pak Wira dan Bu Sriyani mengenai rencananya meminang Elsa. Jelas kedua orang tuanya kaget setengah hidup.
Kondisi ekonomi mereka pas-pasan. Untuk kuliah Eka dan sekolah Madya saja Bu Sriyani dan Pak Wira harus bekerja amat keras. Ditambah Bu Sriyani sedang mengandung.
Bu Sriyani memegangi kepalanya. "Bukannya nggak setuju, tapi nanti biaya pesta nikahnya, terus biaya hidup setelah nikah gimana? Kamu kan masih kuliah, belum kerja."
"Aku kan bisa kerja, Bu."
"Tapi kerja sambil kuliah itu gajinya nggak seberapa, Dul!" sergah Pak Wira.
"Bapak sama Ibu ini pengen aku seneng nggak sih?"
"Karena kami sama-sama lelah nyari jodoh ke sana ke sini. Dia itu temen kampusku, jadi udah kenal lama. Dia juga baru putus dari pacarnya."
Oh, sama-sama habis patah hati. Pantesan pengen cepet nikah. (Madya).
Madya yang sedari tadi mencuri dengar tak sengaja menyenggol sebuah vas bunga hingga terjatuh.
"Mad, kamu di situ?" tanya Bu Sriyani.
"Miauw ...." Madya menirukan suara kucing. Suaranya sangat mirip hingga hampir saja Bu Sriyani terkecoh.
"Oh, kucing. Eh tapi kita kan nggak punya kucing. Udah, sini aja, Mad, kalau mau denger rencana kakakmu yang bikin pusing ini."
Madya memunculkan diri dari ambang pintu sembari tersenyum malu-malu. Dia duduk di samping ibunya.
"Coba kamu tadi bersuara kayak tikus, Ibu nggak bakal tahu itu kamu karena tikus kita banyak," kata Bu Sriyani.
"Jadi gimana? Ijinin aku nikah ya?" rengek Eka.
__ADS_1
"Menurut kamu gimana, Mad?" tanya Pak Wira.
"Hah?! Hoh?!" Madya terkejut dirinya dimintai pendapat.
Saking bingungnya, mereka harus bertanya kepada anak kedua yang dalam pandangan mereka baru berumur 17 tahun.
"Jangan tanya anak kecil, Pak! Emang dia ngerti?"
Jangan panggil aku anak kecil, paman. Aku Madya, namaku Madya! (Madya).
Madya menarik napas dalam-dalam. "Menurut kondisi ekonomi keluarga kita, menikah muda akan memberatkan ayah dan ibu. Dilihat dari psikologis, pernikahan akan membuat Mas Eka kurang konsentrasi dalam kuliah. Nantinya pasti ada masalah-masalah rumah tangga yang kompleks."
Semua audience di ruangan itu ternganga. Mereka menatap Madya dengan kagum seperti penonton menyaksikan Justin Bibir yang baru saja melantunkan Love Myself.
Mahasiswaku juga ada yang udah nikah. Nggak dilarang sih, tapi dia sering kuliah dengan mata gede habis nangis tengkar sama suaminya. Terus disuruh jawab pertanyaan cuma pah poh deh. (Madya).
Tiga orang di hadapan Madya mengangguk perlahan seperti sedang dikuliahi seorang profesor. []
Bersambung ....
***
PS: Sesungguhnya tidak ada larangan untuk mahasiswa berumah tangga. Tapi dalam novel ini, keluarga Madya merasa belum mampu menuruti keinginan Eka untuk menikah.
Plus, Madya jadi saingan sama Elsa.
***
advertisement
...SEKEDAR ISTRI SIRI...
...(Aisy Arbia)...
Sashi Arandita, gadis 28 tahun yang selalu mendambakan pernikahan sekali seumur hidup harus rela mengubur dalam-dalam prinsip hidupnya. Pasalnya, sebelum ibunya meninggal, wanita paruh baya itu meminta putrinya untuk menikah dengan Puguh Amarta, 34 tahun. Pria yang sudah dijodohkan dengannya karena menjadi wasiat almarhum ayahnya, Abdul Mahesa.
Di sisi lain, Puguh Amarta telah memiliki istri sah yaitu Nadya Ningrum, 30 tahun. Puguh ingin menolak, tetapi karena balas budinya kepada keluarga Abdul Mahesa sehingga pria beristri itu menerima pernikahan tersebut.
Akankah Sashi mampu menerima pernikahan ini? Ataukah memilih bercerai karena tahu kenyataan kalau dia hanyalah istri siri?
__ADS_1