
Karena kekagetan, Elsa tak langsung bisa mengenali gadis yang mendatanginya. Dia harus men-scan wajah dan sosok Madya terlebih dahulu.
"Madya? Adiknya Mas Eka, kan?"
Thank God, dia ngenalin aku. Kirain mau bilang aku Song Hye Kyo. (Madya).
"Iya, Mbak."
"Kamu ngagetin aja. Ayo sini duduk. Ada apa kok nggak ngasih kabar mau ke sini?"
"Ini tadi spontanitas, lagi lewat terus mampir aja."
Madya duduk di samping Elsa. Mereka berbincang-bincang akrab. Elsa rupanya memiliki kepribadian lembut tapi supel sehingga mudah sekali akrab dengan sang calon adik ipar.
Setelah berbincang ngalor ngidul ngetan ngulon, Madya menyadari bahwa calon kakak iparnya itu adalah gadis yang sangat baik. Alasannya ingin menikah adalah karena tak ingin melakukan hubungan di luar nikah.
Sangat mulia. Dia memiliki pengalaman buruk dengan mantan pacar terdahulu yang hampir saja melakukan penerobosan paksa terhadap dirinya. Madya terpesona.
Madya berusaha membongkar semua aib kakaknya sedari suara dengkuran yang mirip dengan binatang baabi, kebiasaan kakaknya yang marah-marah seperti gonggongan pudel, dan lainnya. Lengkap, tak dia lewatkan sedikit pun.
Elsa tetap tak mundur dari rencana menikahnya. Dia tetap menyayangi Eka. Lalu, bagaimana dengan Deolinda kakak iparnya yang asli di masa depan?
Madya mengakhiri sesi investigasi dan manipulasi itu dengan perasaan gamang. Dia berjalan lemas ke arah Raihan yang duduk di atas motor menantinya. Perasaannya antara bahagia dengan pilihan kakaknya, tapi juga merasa bersalah terhadap kakak iparnya yang asli.
Gimana ini. Seharusnya mereka nggak nikah. Seharusnya Mas Eka ketemu Kak Linda. Ke mana sih Kak Linda. (Madya).
__ADS_1
Semakin mendekat ke arah Raihan, pikiran Madya teralih ke dirinya sendiri. Nadila? Usman?
Usman memang super brengsek, raja tega, tidak menghargai sebuah komitmen, dan murahan karena mampu melakukan hal curang di belakangnya. Namun, Nadila?
Apakah Nadila harus lenyap dari kehidupan karena keegoisan Madya membela kebahagiaan masa muda barunya? Di hadapannya kini juga terpampang nyata seorang lelaki yang siap menjaganya.
Dia tidak berani menjamin bersama Raihan akan tanpa luka. Namun, paling tidak dia menjalani pengalaman dengan orang baru. Semua akan berbeda jika opsi yang berada di hadapan Madya tidak seperti ini.
Dia harus memilih.
Dengan tatapan sendu dan nanar, dia menatap Raihan yang jaraknya semakin dekat. Semakin langkah kakinya melaju, aroma khas tubuh Raihan semakin dapat tercium indera Madya.
Wangi ini, aku bakal kangen banget sama kamu, Rai. (Madya).
Kini dia telah berdiri di dekat Raihan, mengagetkan lelaki muda belia yang sedang memencet jerawat dengan bantuan kaca spion motor.
Madya tak menjawab, hanya menatap Raihan dengan mata berkaca-kaca.
"Kok gitu mukanya, kenapa?"
"Ehm ... aku nggak apa-apa kok."
~
Rumah Daniel
__ADS_1
Beberapa hari berikutnya
Asa mengajak Madya ke rumah Daniel untuk menengok adik Daniel yang belum lama lahir. Mereka memarkirkan sepeda motor kemudian berjalan menuju pintu utama.
Madya mengedarkan pandangan dengan takjub. Sejenak ia melupakan kegundahan hati dengan melihat taman samping rumah Daniel.
"Bagus ya rumah Daniel," puji Madya.
"Iya. Lebih bagus lagi di dalem ada perpustakaan pribadi. Bukunya macem-macem."
"Hahah, bisa dimaklumin. Ini kan rumah Dan ---" Buru-buru Madya menoleh ke arah Asa yang sedang menenteng komik yang belakangan ini menjadi benda favoritnya.
Madya merebut komik di tangan Asa. Madya tahu sekarang mengapa komik yang dibaca Asa tampak familiar baginya. Komik-komik itu milik Daniel. Dia mengetahui itu karena beberapa kali melihat Daniel membaca komik yang sama.
Ditambah, di sampul komik itu terdapat selarik kecil bertuliskan 'Daniel'. Tak salah lagi itu milik Daniel, karena jika milik Sukirman pasti yang tertulis adalah Sukirman (kecuali orangnya iseng atau bercita-cita berganti nama).
"Ini punya Daniel?" Sebenarnya tak perlu bertanya lagi, tapi Madya memastikan.
"Iya, aku pinjem." []
Bersambung ....
***
tinggal beberapa episode lagiðŸ˜
__ADS_1