
"Kamu sudah sadar, Madya?" tanya guru wanita itu.
"Belum, Bu."
"Lhoh, lha ini kamu bangun."
Udah tahu, nanya. (Madya).
Pertanyaan guru itu ternyata tak sepenuhnya salah. Meski mata Madya telah terbuka, dia merasa dirinya seperti ditarik-tarik. Suara Raihan di hadapannya bertarung dengan suara Daniel dan Asa di pikirannya.
Madya memegangi dada dan kepalanya yang tak nyaman.
"Kenapa, Madya? Kalau masih sakit, pulang aja nanti minta surat ijin pulang lebih awal di ruang BK," tutur guru itu.
Madya merasa harus menyelesaikan sesuatu sehingga tawaran pulang lebih awal itu tak dia lakukan. Dia dibantu Raihan kemudian kembali ke kelas.
Saat melewati kelas 2 B Madya memandangi Asa dari luar.
"Madya ... Madya," panggil Asa di pikiran Madya.
Aneh, orangnya ada di sana kenapa suaranya ada di otakku? Apa sekarang aku bisa denger isi pikiran orang? Tapi ada suara Daniel juga. Daniel jelas-jelas udah nggak sekolah di sini. (Madya).
Dia memandangi lelaki di sampingnya dan mencoba mendengar suara pikiran Raihan. Tak ada suara apa pun. Suara siswa lain yang berdekatan dengannya pun tak terdengar. Hanya Asa dan Daniel. Apa istimewanya kedua orang itu?
~
Pulang sekolah
Madya dibonceng oleh Raihan tanpa banyak bicara. Tangannya memeluk pinggang lelaki muda di hadapannya. Tangan Madya sedikit meremaas pinggang itu seolah menyiratkan ketakutan kehilangan. Di tengah jalan, Madya meminta Raihan untuk meminggirkan sepeda motornya.
"Rai, tolong anterin aku ke rumah Daniel! Aku ada perlu."
__ADS_1
Raihan memutar balik kendaraan. Meski sesungguhnya ada rasa cemburu ketika kekasihnya meminta diantarkan ke rumah lelaki lain, dia menuruti saja. Sepertinya, cemburu bukan saat yang tempat sekarang ini melihat kondisi Madya yang amat menyedihkan.
~
Rumah Daniel
Atas permintaan Madya, Raihan pulang dan tak menemaninya di rumah Daniel. Setelah menunggu sekitar 10 menit, Daniel pulang dari sekolah barunya. Lelaki itu masih diantar oleh supir, belum diperbolehkan mengendarai kendaraan sendiri.
"Hai, Niel. Maaf ganggu."
Daniel mengangguk disertai senyum kecil di bibirnya.
"Aku boleh ke perpustakaanmu, nggak?"
Lelaki itu kembali mengangguk kemudian mengantar Madya ke perpustakaan. Madya berjalan sembari mengedarkan pandangan ke seluruh rumah Daniel yang terasa sepi itu. Hanya ada asisten rumah tangganya, Mbok Idah.
"Orang tuamu sama adikmu nggak di rumah?"
Madya menghela napas. Ia lupa dengan siapa dia bicara. Daniel adalah si mesin penjawab singkat. "Pada ke mana emangnya dan ngapain?"
"Ke rumah sakit, lagi imunisasi BCG untuk Stella."
Madya memasuki perpustakaan pribadi rumah Daniel. Matanya takjub melihat buku-buku berderet rapi. Tak heran pemiliknya berawawasan sangat luas.
"Kamu punya buku tentang perjalanan waktu? Atau penjelasannya gimana menurut ilmu pengetahuan?"
Daniel mengernyit. Dia lalu mencari-cari buku yang mungkin bisa menjawab pertanyaan Madya. Tak sulit menemukan buku di perpustakaan itu. Seluruh buku disusun rapi dan dikategorikan berdasar kelompok ilmu kemudian abjad.
Sebuah buku mengenai fisika dikeluarkannya dari rak. Dia membuka-buka buku itu kemudian memperlihatkan sebuah teori dari Albert Einstein tentang relativitas khusus.
Itu hanya berisi dua hal yaitu hukum fisika yang bersifat invarian dan laju cahaya yang bernilai sama. 10 tahun kemudian Albert Einstein mengeluarkan teori relativitas umum yang tak memuat juga tentang perjalanan waktu.
__ADS_1
Satu lagi harapan yaitu mekanika kuantum. Namun, ternyata itu juga tak dapat menjelaskan kondisi Madya.
Madya berjalan mengitari ruangan itu. Terdapat berbagai compact disk (CD) atau cakram yang memuat film di sana. Selain hobi membaca, lelaki itu juga gemar menonton film.
"Ehm ... kamu tertarik dengan perjalanan waktu?" tanya Daniel yang tiba-tiba bertanya, membuktikan terapi yang dijalani lelaki itu lumayan berhasil.
Nggak tertarik sih, tapi lagi menjadi pelakunya. (Madya).
"I-iya, aku lagi tertarik banget sama perjalanan waktu. Menarik dan seru."
Daniel mengambil sebuah CD film berjudul 'Back To The Future' (1985) dan memberikannya kepada Madya. Tanpa diminta, Daniel menjelaskan isi film tersebut.
"Ini seorang pemuda melakukan perjalanan waktu ke 30 tahun mundur dari hidupnya saat itu."
"Pake apa perjalanannya?"
"Pake mobil tipe Delorean yang udah dimodifikasi sama ilmuan, Emmett Lee Brown. Di masa lalu dia mengubah variabel kejadian yang kemudian menghasilkan masa depan yang baru."
Persis kayak aku! Ketemu! Sekarang gimana caranya aku kembali ke masa depan. (Madya). []
Bersambung ....
***
Gimana, readers? Kira2 Daniel bisa bantuin Madya kembali ke masa depan, nggak?
Ada 2 orang yang sebenernya bisa ditanyain Madya yaitu Daniel dan Ir.Marjoto, guru kimia yang juga seorang ilmuwan.
PS: Mohon maaf sementara ini tidak bisa membalas komentar reader apalagi yang berkaitan dengan alur. Nanti ada yang nanya "Dia ini begini ya?" terus saya jawab iya/enggak, jyah jadinya spoiler. Wkwkwkwkwk
Eh maap sayembaranya nggak jadi soalnya episode setelah ini akan segera terungkap. InsyaAllah upload sore atau malam
__ADS_1