
Madya berusaha memikirkan pemikiran Raihan. Dia mengangguk menyadari keteledorannya membiarkan seorang gadis ranum turut hidup bersama dengannya.
Mereka tidur di bawah atap yang sama. Jemuran dalaman baby sitter-nya itu pun mau tak mau berada di area yang sama dengan miliknya. Mata Usman tentu saja menangkap itu, kan?
Melihat jemuran dalaman kemudian melihat si pemakai, pastinya membuat 'penasaran'. Oleh karena itu jemuran dalaman sebaiknya diletakkan di area privat yang tidak bisa dilihat oleh lawan jenis.
Kita tidak pernah tahu apa isi kepala orang-orang. Namun, tunggu dulu! Tak semua orang begitu, bukan? Madya harus menghormati heterogenitas dan mental-mental yang beriman kuat (heh, tapi si Usman udah terbukti termasuk ke dalam iman lemah, keles! Nggak usah dibela!).
"Tapi, belum tentu juga itu sebabnya. Itu kan cuma kemungkinan. Aku punya banyak contoh orang yang seatap sama asisten rumah tangga tapi nggak berujung selingkuh." Madya menatap Raihan. Bukankah Raihan juga memiliki ART yang tidur seatap dengannya?! Wake up, dude! "Kamu salah satu contohnya."
Raihan tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Madya. Sedangkan gadis itu hanya diam. Dia tak mengerti di mana letak kelucuannya.
Kamu lagi dancing on my painful wound? You're an *******! (Madya).
(Kamu sedang menari di atas lukaku yang menyakitkan? Kamu adalah lubang ******).
(Maaf umpatan tersebut Simbah terjemahkan dalam arti harafiah per kata, kalau di kamus terjemahannya bukan itu ya. Cuma lagi menerapkan kesetaraan hasil translation plus textual meaning breadth. Hayah.)
Menyadari lawan bicara memandanginya dengan tatapan dingin, Raihan mengatupkan bibirnya dan berhenti tertawa. Kini wajahnya berubah menjadi serius.
"Aku tanya dulu deh, baby sitter-nya saudara kamu itu umurnya berapa?"
"22 atau 23 gitu, aku nggak hafal. Nggak tertarik buat ngadain surprise birthday party buat dia."
"Oke, pembantu di rumahku usianya sekitar 60-an, jauh lebih tua dari orang tuaku. Jadi, beda kasus ya."
"Oh ... iya juga sih."
__ADS_1
Akh, kamu belum liat Jenifer Lupis di tahun 2020-an sih jadi ngomong gitu. Untung aja ART-mu nggak modelan Jenifer Lupis yang udah tuwir tapi masih bohay. (Madya).
"Jadi, emang semua nggak bakalan sama. Tergantung orangnya. Tapi tetep aja kesempatan itu harus diilangin kalau nggak pengen ada kejadian itu."
"Iya, kayaknya sodaraku kecolongan, agak teledor."
~
Rumah Madya
Sore setelah selesai lomba dan pulang dari sekolah, Madya meminta Asa untuk berkunjung ke rumahnya. Dia tak tahu akan menumpahkan isi hati kepada siapa lagi selain sahabatnya itu.
Bahkan tembok rumahnya yang biasa dia ajak bicara tak dapat melegakan lagi. Dia butuh zat yang dapat memberi respon. Yang jelas bukan cicak yang hanya akan mengeluarkan decak sinis "Ck ck ck" seolah mengolok-olok.
Begitu datang dan dipersilakan masuk ke kamar Madya, Asa memeluk sahabatnya itu. "Selamat ya, Mad, menang lomba. Aku seneng banget kamu yang biasanya rangking 30 bisa mengaharumkan nama sekolah."
Vangsat lah! (Madya).
"Lhoh, tapi kan kenyataan."
Seperti biasa mereka duduk di lantai bersandar pada dipan kayu yang belum berubah juga menjadi spring bed seperti milik Asa.
"Aku ketemu sama mantan suamiku."
Ekspresi Asa bengong, dia mencoba mencerna apa yang sedang dikatakan Madya.
"Gini lho, As. Aku udah nikah di masa depan terus cerai. Nah ini tadi ketemu sama mantan suamiku versi muda."
__ADS_1
"Oh," timpal Asa yang telah mengerti. Dia sedikit lupa bahwa temannya berasal dari masa depan. "Eh, hah?! Terus gimana? Si Abu Nawas gimana? Kamu bakal putus?"
"Nggak tahu! Aku bingung juga. Menurut kamu, aku harus gimana?"
Asa terdiam. Sekali lagi, Asa versi sekarang adalah siswa 17 tahun murni tanpa embel-embel berjiwa 35 tahun seperti Madya. Kapasitas berpikirnya baru sebatas belajar, naksir-naksir lawan jenis, uang saku dan printilan anak remaja pada umumnya.
Otaknya belum compatible untuk memikirkan hal-hal berat seperti rumah tangga. Pah poh. Ditambah lagi kejadian kembalinya Madya ke jaman ini yang tak bisa dinalar. Ruwet bagi Asa. []
Bersambung ....
***
Putus sama Raihan terus sama Usman atau lanjut sama Raihan?
***
advertisement
...MY BOS MY BERONDONG...
...(Mekha Chan)...
BEKERJA DENGAN BOSS YANG UMURNYA LEBIH MUDA DARIMU, MEMBUATMU MERASA HARUS LEBIH DIHORMATI? TIDAK DENGAN BOSS SATU INI, DIA ADALAH BOSS YANG LEBIH DINGIN DARI SEBONGKAH ES.
Indira Pertiwi, seorang janda berusia 30 tahun mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri dan anak satu-satunya.
Awalnya Indi ditolak di perusahaan Wijaya yang dipimpin oleh Arya Wijaya, namun pada akhirnya Indi diterima juga di perusahaan Arya. Walaupun harus menghadapi Boss yang super dingin, tapi demi pekerjaan Indi tetap bertahan. Sampai suatu saat ada benih-benih rasa tumbuh dan berkembang.
__ADS_1
Bagaimana kelanjutan cerita Indi? Dan apakah Indi akan bahagia pada akhirnya saat menjalin hubungan dengan seorang Arya Wijaya?