Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
72. Berkisah


__ADS_3

Lokasi lomba


Sepeninggal Usman, Madya melanjutkan tangisannya. Raihan hanya terpaku di sebelahnya tanpa bisa berbuat banyak untuk gadis itu. Siapa yang tak sedih, bagaimana pun Usman adalah yang memasangkan cincin di jarinya, yang memintanya menjadi istrinya dan ayah dari anak mereka.


Ikatan itu tak mudah untuk diputuskan, memori itu tak mudah dihilangkan. Sosok baru di samping Madya kini pun belum dapat menjamin masa depannya akan terbebas dari luka atau tidak.


Setelah tangis Madya mereda, barulah Raihan berani bertanya.


"Sebenernya kenapa? Jangan biarin aku penasaran," tanya Raihan dengan suara yang sangat lembut dan menghangatkan.


Satu hal penting yang Madya lihat dari seorang Raihan adalah dia tak memaksa Madya untuk diam. Dia membiarkan Madya menumpahkan kepedihan melalui air mata.


"Aku ... aku inget so-sodara. Dia ditinggalin suaminya demi nikah sama baby sitternya sendiri."


"Fyuh ... leganya, kirain kamu nangisin murid yang tadi. Nggak mungkin banget ya, kalian kan baru aja kenal."


Madya merasa tertampar dengan kata-kata Raihan. Ya, memang Madya sedang menangisi seseorang yang dulunya berarti, tapi dalam satu jentikan jari menjadi seorang yang memuakkan. Dahulu seperti malaikat, kini seperti jin Ifrit.


Suara Madya mulai stabil. Dengan ragu, Raihan meraih tangan Madya. Dia masih agak canggung berlaku seperti pasangan pada umumnya, mereka baru 2 minggu menjadi pasangan.


Jantung Madya berdebar kencang. Raihan seperti sedang mengalirkan listrik melalui tangannya. Madya meraba rambutnya, dia takut rambut itu berdiri seperti dalam film-film komedi.


Maklum, referensi film Madya adalah film komedi Warkop DKI yang seringkali mencitrakan rambut berdiri untuk orang yang terkena setrum.


"Kok bisa sesedih ini? Kayak kamu yang ngalamin sendiri."

__ADS_1


Sekali lagi kata-kata Raihan seperti anak panah yang menancap tepat sasaran. Terasa sesak di dada.


"Jangan sembarangan kalau ngomong!"


"Lhoh lhoh, kok marah gitu sih? Tenang." Dengan penuh kelembutan, Raihan menenangkan Madya yang bertingkah seperti kucing yang direbut ikan asinnya.


Madya menarik napas dalam-dalam, tak lupa dia hembuskan agar tak sesak napas.


"Aku tahu nggak mungkin itu kamu, aku masih pake logika. Kita kan masih SMA. Aku justru muji kamu yang punya empati tinggi ikut ngerasain kesusahan sodaramu."


Bibir Madya berkedut. Sesungguhnya dia ingin makan, tetapi adegan ini harus tuntas dahulu agar lega. Dia memandangi Raihan dengan tatapan kagum (uhuk).


"Ehm ... aku mau nanya, tapi kamu jangan takut ya. Ini cuma pertanyaan yang sifatnya hypothetically."


"Oke."


Raihan melepaskan genggaman tangannya.


Dia takut beneran. Gimana dong? Aku nggak ngajak nikah sekarang kok, cuma ya kalau dia mau sih ayo aja. (Madya).


"Ra-rai, nggak usah takut, ini pengandaian doang. Aku bukan lagi ngajak kamu nikah kok."


Raihan tiba-tiba menoleh dan memandangi Madya lekat-lekat selekat lem Uhuk. "Jadi kamu nggak mau nikah sama aku?!"


"Bu-bukan gitu juga, ya mau, kirain kamu takut kalau aku ngomongin masalah orang dewasa."

__ADS_1


"Coba ceritain gimana sodara kamu."


Madya menunduk. "Dia dan suaminya nikah, terus hamil ...." Madya memandangi perut ratanya. Teringat ketika hamil dan Nadila dengan aktif menendang. " ... terus mereka pekerjain baby sitter karena sodaraku harus kerja. Ternyata suaminya main gila sama baby sitter itu."


Dia sedih banget kayak lagi ceritain kisahnya sendiri. Empatinya emang tinggi. (Raihan Abu).


"Baby sitter-nya nginep?"


Madya mengangguk.


"Itu dia masalahnya. Laki-laki dan perempuan nggak boleh seatap kalau bukan saudara."


"Oh ya? Wah, masak cowok se-muda kamu bisa tahu akar masalah rumah tangga?"


"Aku nggak ngerti-ngerti amat sih, cuma nyoba pake logika aja. Contohnya aku sama kamu. Kita ketemu nggak tiap hari aja akhirnya bisa saling suka. Gimana yang seatap?" []


Bersambung ....


***


advertisement


...MY WIFE SUGAR MOMMY...


...(HaruMini)...

__ADS_1



__ADS_2