
"Eng-enggak kok. Kamu GR amat. Aku lagi sedih karena hal lain tuh."
Zulfikar belum melepaskan pandangan dari Madya. Nampaknya penjelasan Madya belum memuaskan rasa penasarannya. Atau dia sedang melatihkan kesaktian matanya untuk melotot lama.
Madya bergidik ngeri dengan pandangan serupa harimau akan menerkam mangsa itu. Daging di depannya sungguh enak dan tak perlu banyak tenaga untuk melumpuhkan. Tinggal haem, slurp.
Serasa runtuh tulang-tulang Madya.
"Semalem aku mimpi buruk. Buruuuk banget sampai kebawa di sekolah."
Mimpi buruk yang jadi kenyataan yaitu dansa sama kamu! (Madya).
"Oh ...," kata Zulfikar tak peduli.
~
Jam istirahat sekolah
Asa dan Madya berada di dekat gudang tempat mereka biasa berbagi rahasia. Di kehidupan sebelumnya, sebenarnya bukan tempat itu tempat mereka bertukar pikiran.
Di masa pengulangan ini lah Madya memilih tempat baru ini sebagai tempat aman mereka untuk berbagi rahasia. Meski beberapa kali Zulfikar berada di sana, dua gadis berseragam putih abu-abu itu tetap menjadikan tempat itu tempat spesial mereka.
Asa memakan cemilan sembari tersenyum-senyum memandangi ponsel. Ya, kegiatan senyam-senyum di depan layar ponsel sudah dimulai 2 dekade ke belakang dari 2020-an.
Sebelum ponsel symbian banyak digunakan, mereka sering tertawa-tawa dan tersenyum di depan layar calculator. Padahal tidak ada gambar apa pun. Ukuran layarnya bahkan tidak ada 1 inci.
Televisi saat itu masih menjadi superstar karena belum banyak yang dapat mengakses Kowetube. Outstagram dan Toktok bahkan pembuatnya entah sudah dilahirkan ke dunia atau masih berupa adonan.
"As, senyam-senyum terus sih?"
"Biarin!"
"Daniel gimana kabarnya?"
"Sekarang orang tuanya lagi ngurus. Udah kamu tenang aja."
__ADS_1
"Identitasku dilindungi, kan?"
"Iya, aku udah minta mereka nggak ngomong siapa yang ngasih foto itu."
"Tapi kok si Z masih kelihatan curiga gitu ya? Terus dia ngomongnya ketus sama aku."
"Kamu mintanya dia ngomongnya 'sayang, ayo kita dansa!', gitu?"
"Ya nggak gitu juga tapi ya jangan ketus juga masak sama partner dansa dia tadi nanya kayak orang marah-mar--"
Belum selesai ucapan Madya, orang yang paling dihindari justru melewati mereka seperti biasa. Dia berjalan sedikit lebih lambat ketika melewati dua gadis itu seolah sedang mempelajari apa yang baru saja mereka bicarakan.
Madya dan Asa terdiam, terpaku tanpa sempat mengalihkan pembicaraan sedikit pun.
~
Jam pelajaran biologi
Guru memberi penjelasan sedangkan murid mendengarkan. Begitulah pelajaran berjalan seperti biasa sebelum guru BK meminta ijin memasuki ruang kelas 2 C.
Semua siswa mendadak saling berbisik dengan teman di dekatnya karena sejatinya telinga mereka dekat. Jika berteriak, malah tidak terdengar apa pun.
Zulfikar berdiri kemudian berjalan menuju pintu dengan gerakan lambat seperti diberi efek slow motion. Matanya tajam menyorot ke arah Madya.
Gadis yang sedang ditatap itu menunduk, pura-pura menulis dengan pensil tapi ujung pensil yang runcing malah menghadap ke atas.
~
Madya melihat jam di tangannya. Sudah 20 menit Zulfikar berada di ruang BK, selama itu Madya gelisah. Dia sangat takut namanya disebut dan disangkutpautkan dalam pengungkapan pelaku pemukulan terhadap Daniel.
Suara guru terdengar sama di telinga hingga guru biologi yang bernama Pak Kusnandar itu berada tepat di hadapan meja Madya.
"Madya Dui Brata, coba jelaskan apa itu koagulasi!"
"Uhm ... ko-a-gu-la-si adalah ... proses penggulaan, Pak," jawab Madya, tergagap.
__ADS_1
Tawa riuh terdengar memenuhi ruang kelas 2 C siang itu. Pak Kusnandar sendiri geli dan menahan tawa, hanya perutnya yang mengejang kembang kempis.
"Lain kali kalau lagi di kelas itu pikirannya juga ditaruh di kelas. Saya capek-capek nggedabrus, eh kamu mikirin yang lain. Cemburu saya."
"Cieee ...."
"Cieee ...."
Suara siswa tambah gemuruh mendengar Pak Kusnandar si guru jenaka melayangkan banyolan ala bapak-bapak itu. []
Bersambung ....
***
Halo gaes, sebelum lanjut ke episode, yuk cus baca novel karya kak Nawza Talita ini ya
judul: MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Perjuangan Abimanyu untuk mendapatkan kembali cinta Renata, sang istri yang telah berulang kali disakitinya.
Tidak mencintai gadis yang menjadi wasiat terakhir ibunya membuat Abimanyu seringkali menyiksa dan menyakiti hati Renata hingga berkali-kali.
Akankah Bima bisa kembali mendapatkan cinta istrinya? Sementara hati Renata telah mati rasa akibat perbuatan Abimanyu yang telah menyebabkan buah hati dan ibunya meninggal dunia.
"Mas Bima-"
"Panggil aku Tuan seperti biasanya, karena kau hanyalah seorang pembantu di sini!"
"Ta-tapi Mas, kata Nyonya-"
"Ibuku sudah meninggal. Aku menikahimu karena keinginan ibuku, Jai kau jangan berharap dan bermimpi kalau aku akan menuruti keinginan ibuku untuk menjagamu!"
"I-iya, Tu-Tuan ...."
__ADS_1