
Bel masuk kelas berbunyi. Asa dan Madya membubarkan diri secara otomatis. Madya memasuki kelas dengan hati-hati sembari memandang ke arah Zulfikar yang kala itu sedang tertunduk di mejanya. Di mata Madya, lelaki itu semakin menakutkan saja.
Pak Ozan, guru bahasa Inggris, memasuki kelas 2 C. Dia mengumumkan ulangan harian mendadak siang itu. Dengan sisa-sisa tenaga di jam terakhir, siswa-siswa menerima lembar jawab dengan enggan.
Meski di kehidupan masa depan Madya adalah lulusan S2 bahasa Inggris, dia tetap gugup menghadapi ulangan dadakan itu. Dia takut semua berjalan tak sesuai ekspektasi seperti mata pelajaran budaya internasional (sub bab dance) dan sosiologi.
Setelah semua soal tertata di meja dalam keadaan tertutup, Pak Ozan memberi instruksi untuk memulai ulangan. "Silakan dibuka soalnya, dikerjakan dalam waktu 60 menit. Selesai tidak selesai harus dikumpulkan!"
Semua siswa membuka lembar soal dibarengi dengan beberapa gumaman.
"Ya ampun susah."
"Astaga, aku pengen bobok siang aja. Soalnya kayak dongeng."
"Tulisan apa ini? Nggak bisa dibaca sama blas!"
"Aku belum makan, pengen makan kertas ini aja sekalian Pak Ozan juga kumakan."
__ADS_1
"Aku pengen minum Bodrexon dan Sprote biar ajojing."
Begitulah rata-rata para siswa dalam keputusasaan mengerjakan mata pelajaran yang dianggap paling susah itu. Bahasa asing yang jarang digunakan memang menjadi momok bagi banyak siswa. Sangat aneh karena sekolah tersebut adalah sekolah dengan tambahan mata pelajaran budaya internasional (di tahun-tahun berikutnya diganti dengan mata pelajaran cross cultural understanding) yang dipenuhi dengan bahasa Inggris dan bahasa dunia lainnya.
Tetap saja banyak siswa yang tak bisa cas cis cus berbahasa Inggris.
Sementara itu, Madya terpaku memandangi soal-soal yang berderet rapi pada kertas di tangannya. Kemudian, dia tertawa. "Bahahahah ...."
"Ada apa, Madya? Kalau mau bikin gaduh, mending keluar saja tidak usah ikut ulangan harian!" tanya Pak Ozan.
Dang! "Eng-enggak, Pak. Maaf, tidak saya ulangi, Pak."
Ahahahah, ini sih mainan bayi. (Madya).
Dia mengerjakan dengan mantap dan cepat. Kurang dari 60 menit, dia telah menyelesaikan seluruh soal dengan sangat baik. Dia pun maju ke depan untuk menyerahkan lembar jawab kepada Pak Ozan.
"Kamu yakin sudah selesai? Nggak mau periksa lagi?"
"Enggak, Pak. I'm perfectly sure," jawab Madya dengan mantap dan pengucapan bahasa Inggris yang mirip dengan native speaker. [Saya sangat yakin].
__ADS_1
Pak Ozan terperanjat mendengarnya.
Hah, kok pengucapannya sesempurna itu? Padahal sebelumnya nggak sebagus ini. (Pak Ozan).
Kaget, Pak? Aku udah M.Pd untuk pendidikan bahasa Inggris dan situ masih Drs. (Madya).
(M.Pd\= Magister Pendidikan, gelar lulusan strata 2 fakultas pendidikan cabang ilmu apa saja. Gelar ini untuk lulusan tahun 1993 ke atas).
(Drs\= Dokterandus, gelar lulusan strata 1 ilmu sosial, IPA, matematika, seni dan pendidikan. Gelar ini untuk lulusan lama hingga tahun 1993).
Pak Ozan langsung memeriksa lembar jawab Madya saat itu juga. Beberapa kali dia menatap Madya kemudian beralih ke lembar jawab itu bergantian karena ingin menatap keduanya bersamaan: tidak bisa. Dia bukanlah ayam yang matanya ada di dua sisi yang berbeda.
Siswi yang biasanya mendapat nilai bahasa Inggris tidak begitu bagus itu kini mendapat nilai sempurna. Voila! Jantung Pak Ozan hampir saja melompat-lompat keluar dari kemeja. Kumis tebal bebas kutunya bergerak-gerak karena bibirnya komat-kamit tak percaya.
Kesombongan intelektualnya terdobrak mendapati seorang siswa yang meraih nilai 100 untuk ulangan harian dadakan. Seluruh jawaban yang ditulis Madya begitu sempurna berikut spelling grammar-nya. Tenses yang biasanya acak-acakan sekarang teraplikasi dengan baik bahkan irregular verb yang dia jadikan pengecoh. Madya tak terkecoh sama sekali!
Dia jenius bahasa Inggris! (Pak Ozan). []
Bersambung ....
__ADS_1