
Yeni dan Monik menuju ke tempat duduk masing-masing. Sungguh-sungguh mereka terselamatkan oleh bel masuk itu. Mereka penasaran sekaligus keheranan karena Madya sekarang begitu pintar berkata-kata.
Wali kelas memasuki ruang 2 C dengan wajah sedih. Dia memberikan pengumuman yang tidak mengenakkan. Daniel kini dirawat di rumah sakit karena tragedi pemukulan.
"Pelaku pemukulan terhadap Daniel belum diketahui. Pihak sekolah belum berani mengumumkan kemungkinan pelakunya. Jadi, siapa pun yang ada di sini yang mengetahui kejadian yang menimpa Daniel, tolong segera beri tahu pihak sekolah."
Madya menengok ke sebelah kiri belakang. Zulfikar juga tidak ada di tempatnya. Sekali lagi Madya kebingungan dengan apa yang sedang dia hadapi sekarang.
***
Jam pelajaran kedua telah tiba, sosiologi. Guru meminta semua siswa untuk mengumpulkan buku tugas yang akan direkap dan dikalkulasi dalam penilaian rapor.
Astaga, buku tugasku! (Madya).
Madya meminta izin keluar dari kelas sejenak untuk bertemu Asa di kelas 2 B. Setelah meminta izin kepada guru yang sedang mengajar kelas 2 B, Asa keluar untuk menemui Madya di samping kelas.
"Ada apaan, Mad?"
"Eh, buku tugas sosiologiku mana, As? Sekarang diminta ngumpulin."
"Lhah, kan kesirem susu sama si Iney. Kamu lupa?"
__ADS_1
"Kamu katanya mau bantu ngerjain ulang semua tugas di buku baru?"
"Lhah, kamu nggak bilang 'iya'. Kamu juga belum ngasih buku yang baru ke aku. Masak aku yang ngerjain semuanya, Mad? Aku bilang aku mau bantu, bukannya aku yang ngerjain."
"Oh ...." Madya terbengong mendengar perkataan sahabatnya.
"Mad, aku mau nolongin kamu. Tapi kamu juga harus usaha dong. Masak kamu gantungin semuanya ke aku? Aku yang harus beli buku tulis baru? Aku juga yang nyalin semuanya? Terus kamu ngapain?"
Asa yang hari ini tampak kurang bersahabat, meninggalkan Madya sendiri di depan kelas 2 B. Madya berjalan lambat dan gontai menuju ke kelasnya.
Kenapa nggak beres gini? Apa aku salah ngikutin alur sejarah? (Madya).
***
Pulang sekolah
Sebenernya aku di sini buat apa sih? Apa nggak ada yang bisa bantu aku? (Madya).
Madya berjalan dari pertigaan menuju rumahnya. Tak begitu jauh, tapi cukup membuat berkeringat juga. Ditambah, cahaya matahari sedang terik-teriknya.
Madya berhenti kemudian memandang ke langit-langit dengan mata menyipit.
__ADS_1
Hai, matahari! Kamu tetep bersinar terus ya? Mau dulu mau sekarang, kamu nggak bingung kayak aku. Tapi seingetku, kamu bakal lebih nyengat di tahun-tahunku udah lebih tua nanti. Banyak prediksi badai matahari yang belum kejadian, tapi nyatanya kamu lebih panas. (Madya).
Gadis itu melanjutkan langkah pelannya. Dia sengaja mengatur tempo berjalan agar bisa lebih lama berkutat dengan pikirannya. Otaknya tak hentinya berpikir tentang apa yang tengah dialaminya.
Kalau matahari aja mengubah variable daya sengat di dekade-dekade setelah ini, seharusnya aku yang kembali ke masa lalu juga mengubah sesuatu, kan? Apa nggak cukup aku ngubah penampilan dan ngelawan Yeni? Selebihnya, aku tinggal ngikutin alur aja, kan? Terus, Asa. Apa dulu dia kesel sama aku soal ini juga? (Madya).
Ponselnya berdering. Dia mencari tempat teduh untuk melihat caller id si penelpon. Layar monochrome dengan kontras seadanya di ponsel jadul itu agak sulit dilihat di bawah cahaya matahari.
Nama seorang laki-laki tertera di sana, Putra. Lelaki remaja yang menelponnya itu adalah ketua kelas 2 C.
"Halo, ada apa, Put?"
"Gini, Mad, aku sama pengurus kelas yang lain mau nengok Daniel ke rumah sakit. Kamu bisa ikut, nggak?"
"Aku? Ngapain? Ajak pengurus kelas yang lain dong, kenapa ngajak aku?"
"Ehm ... lah kamu kan pengurus kelas juga. Yang penting banget malahan."
"Hah?" []
Bersambung ....
__ADS_1