
Madya tersenyum bahagia memikirkan kemungkinan Raihan Abu telah menaruh perasaan kepadanya. Tentu yang diharapkan adalah perasaan cinta, bukan perasaan jijik.
"Kenapa senyum-senyum?"
"Kamu kok galak amat sih? Emang aku nggak boleh seneng kalau kamu perhatian sama aku?"
"Perhatian apaan?! Mulai kumat kamu."
"Ya karena kamu bela-belain ke sini. Aku nggak boleh seneng?"
Raihan menarik napas dalam-dalam. "Kamu mau tahu kenapa aku ke sini?"
Madya mengangguk mantap.
"Karena kamu ranking 30. Aku kasihan sama kamu terus ya sebagai temen aku bantuin kamu latihan dari pada nilai Laendler-mu nggak bagus."
"Oh ...."
Madya kecewa alasannya bukanlah karena Raihan menyukai dirinya. Mereka kembali berkonsentrasi berlatih.
"Kamu anak terakhir, berarti punya kakak, kan? Kakakmu di mana? Aku beberapa kali ke rumahmu nggak pernah lihat dia."
Nggak dapet adiknya nggak apa-apa, siapa tahu kakaknya masih open recruitment, ye kan? (Madya).
"Kakakku kuliah di luar negeri. Di Monash, Australia."
"Keren dong. Tapi kok jauh sih. Aku jadi nggak bisa kenalan sama kakakmu."
"Emang mo ngapain kenalan sama kakakku segala?!"
__ADS_1
"Ya ampun, iya iya aku nggak bakal kenalan sama kakakmu. Habis selesai penilaian Laendler, urusan kita juga selesai. Aku nggak bakal ganggu kamu lagi."
Mereka melanjutkan dansa mereka.
"Kalau kamu, mau kuliah di mana?" tanya Madya.
"Aku belum tahu. Orang tuaku maunya aku sekolah bisnis. Tapi aku sebenernya pengen jadi guru. Aku suka anak-anak."
Raihan kini terlihat tambah cemerlang di mata Madya. Rasa kagum tak dapat terhindarkan. Sangat jarang ada lelaki yang menyukai anak-anak.
"Why not? Meski orang tuamu pengen kamu kuliah tentang bisnis, mereka nggak ngelarang kamu kuliah keguruan, kan?"
"Kayaknya mereka agak keberatan. Makanya aku rencananya mau kabur."
Madya menghentikan dansanya. Dia memandang Raihan dengan pandangan tak percaya. Serumit itukah hingga harus kabur?
"Kenapa harus kabur? Gini, ayah ibumu itu manusia. Nggak mungkin mereka segitu susahnya diajak ngomong. Ditambah, kamu anaknya. Mereka pasti ngerti kalau kamu jelasin passion kamu bukan seperti yang mereka mau," kata Madya dengan sabar dan lembut bak seorang ibu kepada anaknya.
Beberapa detik mereka saling pandang dalam diam. Perlahan Raihan mendekatkan wajahnya ke wajah Madya.
Oh my God, dia mau cium aku. Aku udah pake lipbalm belum tadi? Aku makan pete nggak sih? Lupa. Aduh, harus gimana? Merem kan ya? (Madya).
"Ngapain merem?"
Ternyata Raihan mendekatkan wajahnya karena memang dansanya begitu. (Kalo nggak percaya, browsing dah Laendler di film The Sound Of Music, emang mukanya deketan hampir cup cup muah).
"Ehm ... ini tadi ada yang masuk ke mata."
"Oh ya? Coba sini lihat."
__ADS_1
Raihan mendekat, tangannya membuka kelopak mata Madya. Dia meniup mata gadis itu perlahan.
Lumayan lah nggak dapet cup muah tapi dapet tiupan mesra ini. (Madya).
Samar-samar terdengar suara ketukan di pintu. Karena tak begitu jelas, Madya mengira itu hanyalah ilusi. Sejujurnya dia mendengar, tapi dia tidak ingin adegan mesra ini segera berakhir.
Ibunya mendekat ke pintu untuk membukanya. Madya membiarkan Bu Sriyani yang membuka. (Padahal waktu Abu yang datang tadi Madya lari-lari ngelarang ibunya buka pintu. Sekarang lagi enak-enakan, emaknya dibiarin).
Setelah tiup-tiupan selesai, segera Madya meraih kembali tangan Raihan untuk melanjutkan dansa.
Tangannya terlalu ingin lengket dengan tangan sang pujaan hati. Besok-besok, sudah tidak ada acara latihan dansa lagi. Habis sudah kesempatan Madya untuk dekat dengan Raihan Abu.
Meski cuma sebentar, aku seneng banget bisa deket sama kamu. Di kehidupanku sebelum ini, kamu bahkan nggak tahu aku yang mana. Boleh minta bonus nggak sih? Emuahnya dijadiin dong. Eh, dia masih kecil ding. (Madya).
Ternyata tamu di tengah dansa Madya dan Abu adalah Asa. Gadis itu masuk ke dalam rumah Madya kemudian mendelik melihat sahabatnya sedang berdansa bersama sang pujaan.
"Hai, As," sambut Madya, tapi dia tetap melanjutkan dansanya.
"Berhenti dulu kek. Sambut tuh temenmu!" protes Raihan.
"Nggak mau! Dia sering ke sini kok, biarin aja."
"Eh, Abu di sini juga?" tanya Asa.
Lelaki itu tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Asa.
Ibu Madya mempersilakan Asa duduk. Kemudian Bu Sriyani membuatkan minuman untuk tamu susulan itu.
"Ibumu sewot sama aku kayaknya bukan karena hormon tapi emang nggak suka sama aku deh. Tuh Asa disenyumin plus langsung dibikinin minum." []
__ADS_1
Bersambung ....