Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
76. Mendatangi Elsa


__ADS_3

Kampus Eka dan Elsa


Karena tak mungkin menjalankan rencana ala sinetron Asa, Madya hanya akan melakukan sabotase dengan cara sederhana. Tak ada salahnya dicoba.


Madya diantar oleh Raihan menuju ke sana. Lumayan bisa berhemat ongkos angkot. Jika dia berangkat sendiri, dia harus mengganti kendaraan umum sebanyak 2 kali karena kendala jalur angkutan.


"Kamu mau kuliah di kampus ini? Kok belum dijawab sih dari tadi, ke sini mau ngapain?"


"Oke, Rai. Aku mau jujur sama kamu biar kamu nggak perlu penasaran dan kalau bisa kamu bantuin aku."


Raihan Abu mendengarkan dengan seksama penuturan pacarnya. Dia berusaha menjernihkan pikiran dan menadirkan segala prasangka yang tadi sebenarnya sempat mampir.


Prasangka Raihan receh sebenarnya, hanya seputar 'apakah Madya akan berkuliah di sana?'. Yang paling parah adalah 'apakah Madya memiliki pacar mahasiswa dan akan memutuskannya tepat di hadapan si lelaki baru Madya?'


"Kakakku mau nikah, dan aku mau ketemu sama calonnya biar mereka batal nikah."


"Hah?! Tunggu, Madya!" kata Raihan sembari meraih tangan Madya yang hampir saja nyelonong pergi.


"Apa?"


"Kenapa kayak gitu sama saudara sendiri?"


"Masalahnya jodohnya kakakku yang asli sekarang belum ketemu."


"Jodoh asli? Kamu tahu?"

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Please banget jangan banyak nanya dulu, bantuin aku, ya?!"


"Nggak bisa, Madya. Kita nggak ada yang tahu tentang jodoh. Masak kamu yakin banget sama yang belum terjadi? Dan ini nikahan saudaramu sendiri lho. Pasti udah dia pikirin mateng-mateng buat mutusin nikah."


Sialan! Mendingan tadi sama Asa. Mother f**cker! (Madya).


Ingin sekali dia mengacungkan jari tengah ke arah Raihan yang malah berusaha menggagalkan rencananya.


"Oke oke, gini ...." Madya bernapas dengan lambat dan berat sembari otaknya terus berpikir bagaimana mengelabuhi Raihan. "Ehm ... makasih banget kamu udah nyadarin aku." Dia meraih tangan Raihan dan mengusapnya. Biasanya sentuhan kecil akan membuat pasangan nge-fly. "Aku udah sadar sekarang. Aku cuma mau nyapa calon kakak iparku bentar. Kamu tunggu di sini aja."


"Bener? Kamu janji nggak bakal grecokin nikahan mereka?"


Madya mengangguk sembari tersenyum yang ia buat setulus mungkin. Kemampuan acting-nya sedang diuji di hadapan orang yang kini hafal dengan tabiatnya.


Madya sedikit berputar mengelilingi kampus calon kakak iparnya sembari berdoa Elsa memiliki jadwal kuliah hari ini. Yang dicari pun tampak di sebuah kursi taman kampus. Dia sedang tersenyum memandangi ponselnya.


Yes, mudah-mudahan dia lagi SMS-an sama selingkuhannya atau sama sugar daddy kek, biar seru. (Madya).


Madya bergeser dan urung menemuinya dari depan. Untunglah Elsa masih sibuk dengan ponselnya sehingga belum mengetahui ada orang yang akan menemuinya.


Madya berjalan sedikit memutar agar bisa memposisikan diri di belakang Elsa. Dia akan mengintip isi SMS dari balik punggung sang calon kakak ipar.


Berhasil, Madya berada di belakang Elsa tanpa disadari sang target. Madya mengendap-endap sembari menyipitkan mata membaca tulisan di layar ponsel yang berukuran kurang dari 4 inci.


Ternyata, dia sedang berbalas pesan dengan kakaknya, Eka. Alasan selingkuh terpatahkan. Sepintas ia membaca pesan singkat itu.

__ADS_1


📳Eka: Udah siap aku datengin besok malam? Cincinnya udah siap lho.


Dia juga mengintip apa yang sedang diketik Elsa sebagai jawaban.


📳Elsa: Iya, aku tunggu banget. Aku nggak bisa dandan jadi aku ngundang perias buat dandanin aku.


📳Eka: Kamu pasti cantik banget.


Madya merasa pusing menyaksikan gaya pacaran kakaknya sendiri.


Omegot, aku liat SMS masku sendiri. Najong-najong gimana gitu. (Madya).


Tanpa sadar napas Madya mengenai kepala Elsa membuat wanita itu berpikir sedang ada hantu di belakangnya. Dia pun menoleh pelan ke belakang.


"Aaarrrggghhh ...," jerit Elsa.


Madya pun kaget dengan teriakkan Elsa. Dia melompat beberapa centimeter. Untung saja dia bukan balon helium, pasti akan langsung terbang ke nirwana. []


Bersambung ....


***


huhuhu 😭


__ADS_1


__ADS_2