
"Baiklah, mengulang dansa Laendler kali ini sudah cukup. Kemudian kita masuk ke materi baru ya," kata Bu Agni.
Para siswa berpisah dari pasangan dansa masing-masing. Madya dan Abu pun begitu. Madya kesal saat mesranya berakhir, sementara Abu lega kakinya terbebas dari injakan maut.
Bu Helmi ikut menimpali. "Minggu depan, kita ambil penilaian untuk dansa Laendler."
Mata Madya terbelalak untuk ke sekian kali.
~
Siang menjelang, selesai sudah pelajaran hari itu. Madya keluar dari gerbang sekolah berjalan kaki. Dia tidak bersama dengan Asa karena sahabatnya itu masih kesal.
"Madya ...," panggil seseorang dari belakang yang jelas-jelas bukan Asa karena suara itu suara laki-laki (kecuali Asa operasi anu atau sedang sakit tenggorokan parah).
Madya menoleh. "Abu?"
Adegan ini adalah ala-ala sinetron atau film televisi di mana sang pujaan hati kebetulan berjalan bersama keluar dari sekolah. Sungguh kebetulan yang tak masuk akal. (Sakkarepku to!).
"Kamu nggak bawa motor?" tanya Madya.
"Hari ini nggak bawa. Masuk bengkel."
Again, kebetulan yang sungguh dibuat-buat. (Shut uuuupppp!). Namun, demi membuat Madya lebih beruntung dari masa lalu suramnya, Mbah Author akan tetap menuliskan adegan manis antara Abu dan Madya.
__ADS_1
"Maaf ya, tadi aku nginjek kakimu," kata Madya.
"Ehm ...."
Mau bilang 'nggak apa-apa', tapi nyatanya sakit. (Abu).
Logika Abu bergejolak. Yah, paling tidak dia masih berpikir dengan logis.
"Sekali lagi maaf ya." Begitulah pemaksaan untuk memaafkan. Padahal sejatinya manusia membutuhkan waktu untuk memaafkan. Bahkan kemerahan di kaki Abu akibat diinjak masih belum hilang.
"Iya." Abu memaafkan dengan pikiran bahwa maafkan saja dulu, nanti sembuh kemudian. Anggaplah ini kredit, statusnya dimaafkan, tapi sembuhnya belum.
"Aku payah banget. Gimana penilaian minggu depan?" Sejatinya wanita ini sedang memancing Abu untuk menawarkan bantuannya.
Tak kunjung datang tawaran itu, Madya lah yang harus make a move. "Kamu bisa ajarin aku nggak?"
"Ahahah ... bisa nggak ya?"
"Ya udah kalau nggak mau!" Sekali lagi Madya bermain dengan psikologis lawan bicaranya agar mau mengajari.
Rupanya iman Abu kuat sehingga belum terjerat godaan Madya. Dia diam saja tidak menjawab sama sekali. Tugasnya banyak sehingga dia berpikir berulang kali sebelum mengambil keputusan.
"Tolong, sih." Ini adalah jurus terakhir Madya, menghiba dengan menunjukkan mata sayu seolah menjadi orang yang paling menderita sejagad raya.
__ADS_1
"Kamu lihat sendiri aku parah dan payah ...." Suara gadis itu bergetar, hampir menangis. Kemudian dia menangis betulan.
Tangisannya adalah ekspresi dari banyak kesedihan yang sedang dirasakan antara lain karena Asa sedang marah, karena Daniel dan karena orang yang di hadapannya ini ternyata belum tertarik pada meski di kehidupan keduanya.
"Eh eh, jangan nangis. Iya ... iya, aku ajarin. Besok tiap habis pulang sekolah kamu datang aja ke rumahku."
Terlambat, tangisan Madya sudah sulit untuk dikontrol. Dia pun berjongkok dan menuntaskan tangisannya. Abu ikut berjongkok menepuk bahu Madya. Beberapa siswa yang melintas dengan motor menoleh ke arah mereka dengan dahi mengernyit.
Pastinya mereka penasaran mengapa dua muda-mudi berjongkok, yang satu menangis yang satu lagi menepuk bahu. Tidak mungkin mereka sedang berburu undur-undur.
"Mad, aku kan udah mau latihan Laendler sama kamu. Kok kamu masih nangis aja sih? Kurang gimana?"
"Aku lagi banyak masalah. Masalah sahabatku, masalah pelajaran, masalah tukang bully. Semua orang benci aku ...," katanya di sela tangisan. Suaranya terdengar seperti orang yang sedang sesak napas.
"Maaf, kalau aku nambahin masalah kamu. Tapi satu masalah udah terpecahkan, kan? Aku mau jadi partner latihan kamu."
Bukannya mereda, tangis Madya tersedu kembali.
"Yaelah, kok malah tambah keras? Aku udah mau bantu lho. Kenapa lagi sekarang?"
"Aku ... aku ... nggak punya ongkos naik angkot." []
Bersambung ....
__ADS_1