
RSUD Koja
Bangsal Kelas 2, Kenanga
Sebenarnya bangsal yang ditempati oleh ibu Madya diperuntukkan untuk dua orang. Beruntung tempat tidur yang satu lagi tidak ditempati oleh pasien sehingga bisa digunakan oleh Madya sekeluarga.
"Ibu ditemenin Madya, ya! Bapak sama Eka mau pulang beresin persiapan lamaran besok malem." Pak Wira berpamitan.
Bu Sriyani mengangguk. Eka dan Pak Wira keluar dari bangsal meninggalkan Madya dan Bu Sriyani. Ibunda Madya dan Eka itu kemudian menitikkan air mata.
"Kenapa, Bu?"
"Sedih aja masmu lamaran Ibu nggak bisa ikut. Pengen lihat masmu pasangin cincin ke jari calon istrinya."
Madya tersenyum kecut. Dia membetulkan posisi selimut bergaris milik ibunya kemudian membimbing Bu Sriyani untuk segera beristirahat.
Madya menempati tempat tidur pasien kosong di sebelah ibunya. Dia melihat ke langit-langit kamar bangsal itu. Tiba-tiba dada Madya terasa sakit, amat sakit.
Aku nggak bisa kembaliin semua kayak yang seharusnya. Aku gagal di sini. Besok malam Mas Eka ngelamar Elsa. Maafin aku Kak Linda, Dioka. Harapan terakhirku cuma nyelametin Nadila. Aku kuat nggak ketemu Usman? Aku harus pura-pura semua perselingkuhan dia nggak terjadi. Atau seenggaknya belum. Ya, belum. Nanti aku bakal melakukan tindakan preventif biar dia sama sekali nggak bisa selingkuhin aku. Nggak dua kali. Cukup di dunia satunya. (Madya).
Bayangan Raihan menari-nari di pelupuk mata. Dengan amat keras Madya menepis bayangan lelaki idaman itu. Dia belum ikhlas melepaskan Raihan, tapi dia harus memilih.
Dia membawa segala kepedihannya ke alam tidur.
~
Dadaku sesak, perih, sakit. Hidupku di sini tak kalah menyedihkan dari pada di duniaku yang dulu. Dingin. Gelap. Kilatan cahaya apa itu? (Madya).
"Mess ...."
"...."
"Bovie ...."
__ADS_1
Suara siapa itu? (Madya).
Madya membuka mata sembari terengah. Dadanya semakin terasa sesak mengingat mimpi yang akhir-akhir ini membungai tidurnya.
Bunga tidur? Bunga mencitrakan kata 'indah' sedangkan mimpi Madya sama sekali tak indah. Mungkin lebih cocok disebut 'duri tidur' untuk mimpi buruk.
Mimpi apa sih? Aneh banget. (Madya).
Madya mengantuk, tapi ragu-ragu untuk tidur kembali. Di takut mimpi itu datang lagi. Sungguh tak nyaman. Berkali-kali dia menguap.
***
SMA Pioneer
Semenjak kepulangan ibu Madya dari rumah sakit dan lamaran yang tak dihadirinya dan sang ibu, Madya lebih banyak diam. Mulutnya bak dijahit sehingga sulit untuk terbuka.
Di hadapan Raihan dia menjadi sangat canggung. Meski dia memutuskan untuk memperbaiki alur, kata-kata putus tak dapat keluar dari mulutnya.
Asa masih kesal terhadapnya. Sahabatnya itu tak henti menyalahkan Madya atas semua yang terjadi. Asa seperti telah berubah sikap. Kelembutannya hilang entah ke mana.
Dia duduk di dekat gudang, tempat favoritnya untuk menyendiri. Beberapa kali Asa melewatinya tanpa berkata.
~
Kelas 2 C
Raihan datang ke kelas Madya, mencari keberadaan sang kekasih yang sedari tadi tak ia lihat. Nihil. Dia pun menemui Asa yang baru datang entah dari mana.
"Asa, kamu lihat Madya, nggak?"
"Lihat, tuh di depan gudang tempat nyimpen alat olah raga."
"Kamu nggak gabung sama dia?"
__ADS_1
"Enggak, aku lagi kesel aja sama dia. Tapi sebenernya kasihan juga sih, mukanya kayak kurang tidur gitu."
"Oh, makasih ya. Aku mau nemuin dia dulu."
Raihan berjalan cepat sebelum Madya menghilang lagi. Dilihatnya gadis itu sedang melamun.
"Madya, kamu kenapa? Kok akhir-akhir ini sering sendiri aja nggak pernah sama Asa?"
Madya tak membuka mulutnya sedikit pun. Dia hanya memandangi wajah Raihan dengan lekat.
"Mau cerita? Madya ... Madya!"
Gelap ....
Madya pingsan karena terlalu sering begadang. Kini tubuh lemas itu diangkat oleh Raihan menuju UKS (Unit Kesehatan Sekolah).
Dalam ketidaksadarannya, Madya kembali bermimpi antara sadar dan tidak. Suara-suara memanggilnya. Raihan berada di sampingnya dan tak henti memanggil nama Madya.
"Madya ... Madya, bangun." Suara Raihan terdengar.
Entah mengapa mata Madya sulit untuk terbuka meski dia sebenarnya telah sedikit sadar.
"Madya ... Madya, bangun." Terdengar suara lelaki lain yang sangat familiar, terdengar seperti suara Daniel. Ya, itu suara Daniel.
"Madya ...." Terdengar suara wanita. Suara Asa.
"Madya ...." Suara Raihan terdengar mendominasi dibanding suara Daniel dan Asa yang terdengar jauh.
Mungkin mereka di jarak yang lebih jauh sedangkan Raihan tepat berada di sampingnya.
Mata Madya sedikit demi sedikit terbuka.
"Kamu udah bangun? Pusing?" tanya Raihan.
__ADS_1
Madya mengangguk lemah. Dia mengedarkan pandangan, tapi tak menemukan Daniel mau pun Asa. Hanya ada seorang guru wanita yang sedang membantu melepas kaos kaki Madya membuat gadis itu tidak enak hati. []
Bersambung ....