
Madya memasuki rumah dalam keadaan tergesa-gesa. Dia bahkan hampir menabrak ibunya yang baru saja membukakan pintu untuknya. Dia memasuki kamar dan segera menutupnya.
Kenapa tuh anak? Kok kayak dikejar hantu? (Bu Sriyani).
Baru saja menutup pintu rumahnya, suara ketukan membangkitkan indera pendengaran Bu Sriyani. Dia membuka pintu itu dengan enggan.
"Mad ... eh, Bu."
"Oh, kamu yang bikin anak saya lari kayak dikejar setan gitu?"
"Benar, Bu, eh maksudnya enggak. Itu Madya tadi katanya ada yang darurat. Makanya saya antar."
Bu Sriyani memandangi Raihan yang sedang membatin, mengumpati kejadian yang menimpanya hari ini.
"Pasti kamu yang bikin anak saya jadi lari ketakutan!"
"Enggak, Bu, saya justru nolong."
"Bo'ong! Terus kenapa ketuk pintu segala? Kan udah sampai di rumah nih Madyanya. Udah selesai urusannya, kenapa nggak langsung pulang?"
"Sa-saya ...."
"Tuh kan bener!"
Habis sudah Raihan dicecar pertanyaan yang sulit dia jawab. Dia harus kalah telak dengan ibu Madya.
~
Setelah Raihan pulang, Bu Sriyani masuk ke kamar Madya. Putrinya itu sedang duduk di lantai bersadar pada dipan kayu tempat tidurnya.
"Ibu udah suruh pulang temen laki-laki yang bikin kamu lari-lari kaya kesetanan gini."
Madya menatap ibunya. Tak mungkin lelaki yang dimaksud adalah Zulfikar.
__ADS_1
"Maksud Ibu yang waktu itu latihan dansa di sini?"
Bu Sriyani mengangguk. "Kamu pacaran ya sama dia? Dia maksa kamu buat ehem-ehem sampai kamu lari? Udah Ibu damprat dia."
"Astaga, Ibu! Dia justru yang nolongin aku dari situasi darurat."
"Lhoh, kirain dia yang penyebab situasi daruratnya. Kamu nggak bilang sih!"
"Gimana mau bil--"
"Aaawww ...," erang Bu Sriyani sembari memegangi perutnya.
"Ke-kenapa, Bu?"
Madya panik melihat Bu Sriyani berekspresi kesakitan. Dia pun mengelus bahu ibunya. Dia khawatir perjuangannya beberapa hari ini untuk melindungi janin dalam kandungan ibunya sia-sia.
"Masih sakit, Bu?"
"Astaga, Ibu! Ibu mau aborsi?! Jangan, Bu!"
"Enggak! Ibu mau buang air besar."
~
Malam hari
Madya belajar dengan setengah hati. Namun, itu memang sudah kebiasaan sejak dahulu. Ponselnya berdering keras.
Dia membaca nama penelpon. Tak ada nama di sana, hanya tertulis unknown caller id.
Hah! Kok kayak gini yang muncul? Oh iya, aku lupa. Kalau pake provider Insesat, nomornya bisa disembunyiin. Tapi ini siapa? (Madya).
Madya mengangkat telepon itu, tapi tak mengatakan apa pun. Dia menunggu si penelpon berbicara terlebih dahulu. Namun, si penelpon pun tak juga berbicara.
__ADS_1
Rupanya mereka tunggu-tungguan sehingga telah berlalu beberapa detik belum ada suara terdengar.
📞"Ehem ...." Madya bersuara.
📞"Madya ...."
Astaga, ini suara Zul, kan? (Madya).
📞"Zu-zul? Zulfikar?"
📞"Iya. Aku mau ngomong hal yang penting banget. Kamu ...."
Madya berdiri, tangannya menyaut sebuah tas plastik berwarna hitam kemudian meremaas-remaas plastik itu di dekat mic ponsel. Bunyi kresek-kresek yang diyakini sebagai hilang sinyal terdengar di speaker ponsel Zulfikar.
📞"Halo, halo ... nggak kedengeran, nggak ada sinyal," kata Madya sembari menjauhkan ponsel dan plastik kresek dari wajahnya.
***
SMA Pioneer
Pagi hari
Madya berangkat sekolah setelah tadi ragu untuk pergi. Kalau saja dia berbeda kelas dengan Zulfikar, dia pasti tak akan segugup ini.
Kakinya menapaki lantai pintu masuk kelas 2 C. Matanya tertuju pada lelaki yang semalam menelponnya. Bak istilah lawas berbunyi 'gayung bersambut', Zulfikar balas menatap Madya.
Entah mengapa disebut gayung bersambut. Mungkin karena dulu mengoper air dengan gayung. Kurang efisien sebenarnya, mengapa tidak menggunakan ember yang jelas lebih besar?
Madya memejamkan mata. Dalam hati dia menguatkan jiwa dan jati dirinya sebagai wanita 35 tahun yang belakangan ini terkikis oleh identitas barunya sebagai siswa SMA. []
Bersambung ....
__ADS_1