Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
29. Kelas Dansa


__ADS_3

"As ... As!" teriak Madya, tapi tak dihiraukan oleh Asa.


Madya tak mampu mengejar karena jam sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi. Pelajaran pertama akan segera dimulai. Dia memasuki ruang workshop sembari mengingat-ingat pelajaran tari internasional yang sesungguhnya tak begitu dia sukai.


Di ruang workshop yang besar itu terisi siswa dari kelas 2 C dan 2 D dengan 2 guru tari yaitu Bu Helmi dan Bu Agni.


"Hari ini kita belajar materi tarian yang baru yaitu Quadrille." Bu Helmi membuka materi tarian dansa yang baru.


Madya menghela napas sangat-sangat lega karena dia akan mempelajari materi baru. Dia tidak perlu repot-repot mengingat dansa sebelumnya.


"Quadrille adalah sebuah dansa yang berasal dari Perancis pada tahun 1760. Namun, kemudian populer juga di Inggris sekitar abad 18-19," terang Bu Agni.


"Sebelum kita memasuki materi dansa yang baru, kita ulang sekali lagi untuk dansa sebelumnya yaitu Laendler yang berasal dari Austria."


Mother *****r! (Madya).


Seketika muncul buliran sebesar biji kacang hijau. Kecil, tapi sangat banyak membanjiri wajahnya seperti hujan rintik di musim kemarau, eaaak.


"Karena di kelas 2 C ada satu siswa sedang dirawat di rumah sakit, dan satu lagi tidak datang. Dari kelas 2 D juga ada beberapa siswa yang tidak datang. Gimana baiknya nih, Bu Agni?" tanya Bu Helmi.


"Hari ini kita campur saja acak kelas 2 C dengan 2 D. Gimana?"


"Ide yang bagus, Bu."


Madya terus merapal mantra semoga dia mengingat sedikit gerakan dansa Laendler.

__ADS_1


Mother f*cker mother f*cker mother f*cker. (Madya).


Gadis yang kembali dari masa depan itu terus menunduk. Dia tidak mencari pasangan dansa, hanya menerima takdir siapa pun siswa yang tersisa. Hampir sama dengan masa lalu, dia mendapat sisa siswa.


Seseorang mengulurkan tangan di hadapan Madya yang sedang memejamkan mata dan sibuk merapal mantra mother f*cker-nya.


"Aku belum dapat pasangan, kamu juga belum, kan?"


Madya mendongak. "A-a-a-bu?"


Lelaki tampan itu tersenyum dan mengangguk. Namun, beberapa detik kemudian dahinya mengernyit. "Ehm ... kalau kamu siapa? Kamu murid baru? Kok aku kayaknya belum pernah lihat."


"A-a-aku Madya. Siswa baru stock lama."


Lelaki itu tak begitu mengerti candaan Madya sehingga hanya membalas dengan senyum manisnya. Abu adalah orang yang dikagumi Madya dari kejauhan. Saat Madya masih sangat rendah diri, dia bahkan tak berani menatap wajah lelaki itu secara langsung.


Makasih otor, emuah. (Madya).


"Gini, Abu. Aku sama sekali nggak inget dansa ini. Nanti kalau kamu berpasangan sama aku, nilaimu malah jelek lho."


"Nggak apa-apa. Lagian ini cuma ngulang, penilaiannya minggu depan."


Musik 3/4 mulai mengalun dengan indah. Debar jantung Madya tak terkontrol. Meski jiwanya telah dewasa, nyatanya bertemu dengan orang yang dikagumi tetap saja membuatnya salah tingkah.


Jantung, tolong jangan gitu-gitu amat! (Madya).

__ADS_1


Madya memandangi dadanya yang bergerak-gerak seperti ada tikus sedang ikut menari di sana.


"Jangan nervous, rileks aja. Kalau udah mulai, nanti dikit-dikit pasti inget," hibur Abu.


Aaakkk aaakkk aaakkk, aku bagaikan keju mozarella yang dipanasin. Lembek, lumer, melting semelting-meltingnya. (Madya).


Masalahnya adalah Madya sudah tidak melakukan dansa ini puluhan tahun lamanya. Berbeda dengan murid lain yang telah rutin melakukan dansa itu seminggu sekali. Tepat seperti dugaan Madya, kakinya kesulitan mengikuti.


Kaki Abu sang pangeran yang dikagumi menjadi sasaran penindasan oleh kaki Madya. Bagai menginjak coro, kaki Madya menghentak semangat, tak tahu partner dansanya meringis kesakitan.


Krenyek ...


Krenyek ...


Krenyek ...


Mulut Abu mengatup rapat menahan sakit. Sementara Madya dengan tidak tahu dirinya malah menikmati debaran jantung cinta pertama yang tak pernah terbalas itu.


"Aduh ...." Akhirnya, pertahanan lelaki itu runtuh juga.


"Ma-maaf, Abu. Aku nggak sengaja. Sakit, ya?"


"Enggak kok, enak, kayak dipijitin."


Sakit lah, monyong! (Abu).

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2