
Pagi itu, Madya bersiap untuk pergi ke sekolah. Dia tak mungkin lagi ijin tidak masuk dan tinggal di rumah. Selain karena sudah sering lupa ber-acting di depan sang ibu, juga hari ini penilaian Laendler diambil.
"Bu, aku mau berangkat sekolah. Ibu jangan ke mana-mana ya, di rumah aja! Inget ada dedek."
"Iya iya, udah sana sekolah!"
Posisi sementara ini terasa terbalik. Justru Madya yang seperti seorang ibu yang sedang menasihati anaknya. Sedangkan ibunya seperti anak kecil yang ngeyel.
Dia akan menurut dan duduk manis jika ada Madya di rumah. Bila Madya sedang lengah pandangan dari mengawasi sang ibu, Bu Sriyani akan membandel dan keluyuran.
Pengalaman hamil anak pertama dan kedua Bu Sriyani cukup menantang sehingga dia berpikir kehamilan yang ketiga akan baik-baik saja meski dia ke sana ke mari seperti kuda lumping mabok kemenyan.
Ya, ketika hamil Eka mau pun Madya, Bu Sriyani bahkan petakilan memanjat pohon untuk memetik mangga muda. Dia juga mempunyai hobi unik yaitu mencari tumbuhan putri malu kemudian menyenggol-nyenggol daunnya.
Tak heran Madya tumbuh menjadi anak yang pemalu dan cupu. (Salahkan saja aku, MbahðŸ˜. By: Putri Malu).
~
SMA Pioneer
Ruang workshop
__ADS_1
Murid-murid kelas 2 C dan 2 D sudah berkumpul di sana untuk mengikuti penilaian Laendler. Madya menatap Raihan Abu dari kejauhan. Dalam hati ia berdoa agar dapat berpasangan dengan lelaki itu saat ujian nanti.
Bu Agni dan Bu Helmi memasuki ruang. Semua tatapan tertuju pada mereka. Wajah Bu Agni dan Bu Helmi seperti sedang mengatakan 'mari kita nyate anak-anak ini' diiringi tawa imajiner yang menyeramkan.
Madya komat-kamit merapal doa agar dia dipasangkan dengan Raihan. Seakan menjawab doa, Raihan mendapatkan kesempatan pertama untuk ujian. Namun, pasangannya bukanlah Madya melainkan Yeni.
Seolah memang itu menjawab doa Madya yaitu: tidak dikabulkan. Madya panas melihat pujaan hatinya berdansa dengan orang yang sering mem-bully dirinya.
Parahnya lagi, Raihan Abu dan Yeni tampak ceria dengan senyum terkembang sempurna. Madya muak dengan semua itu.
Hanya satu yang membuatnya bahagia yaitu beberapa kali Yeni hampir terjatuh karena tidak bisa mengimbangi Raihan Abu. Siswa selain Madya tak ada yang berlatih sekeras dirinya.
Raihan Abu pun secara otomatis lebih terasah karena setiap hari menjadi partner Madya.
Giliran Raihan dan Yeni telah berakhir. Kini giliran Madya. Yap, sekali lagi ini merupakan kebetulan absurd mereka bisa berurutan. (Privilege dari author buat pemeran utama).
"Pasangan kedua adalah Madya Dui Brata dengan ...," kata Bu Agni sembari melihat daftar siswa, " ... Zulfikar. Sama-sama dari 2 C. Silakan Madya dan Zul!"
O what?! Thor jangan bercanda deh! (Madya).
Zulfikar mengulurkan tangannya sedangkan Madya mendadak tegang. Mereka mulai berdansa. Beberapa kali Madya melihat ke arah Raihan. Dia berharap lelaki itu cemburu melihatnya ber-partner dansa dengan lelaki lain.
__ADS_1
Tak diduga, pemuda yang diharapkan cemburu itu malah kini sedang berada di pojok ruang wokshop bersama Yeni. Mereka tampak intens berinteraksi.
Ya Tuhan, kenapa Rai Abu Nawas-ku malah sama orang yang jahat sama aku? (Madya).
Jika memang kebersamaannya dengan Raihan harus berakhir, Madya rela. Namun, tidak dengan melihatnya bersama orang yang selama ini jahat terhadapnya.
Madya kecewa, teramat sangat kecewa hingga dia ingin sekali menimpuk Mbah Author. Dia menunduk meratapi hidupnya yang ternyata tak begitu jauh berbeda dengan kehidupan lamanya.
Justru lebih parah. Di kehidupan lamanya, Yeni tak berpasangan dengan Raihan Abu. Dia tak harus menyaksikan hal menyakitkan itu di depan mata sendiri dan di hadapan murid-murid dari 2 kelas berbeda.
Aku mau nangis aja. (Madya).
Dansanya dengan Zulfikar berakhir dengan sangat baik meski suasana hati sedang tidak kondusif. Bagaimana pun raganya telah terlatih setiap hari sehingga dia tetap lincah melangkahkan kaki untuk berdansa.
"Kenapa mukanya gitu? Kamu sedih banget dapat pasangan dansa sama aku? Kita ada masalah?"
Waduh, gawat. Aku malah cari masalah sama orang ini. (Madya). []
Bersambung ....
***
__ADS_1
edit: