
"Buku tugas sosiologi minggu kemarin ditumpahin susu sama anak sekelasku. Aku harus nyalin semua dari awal."
"Ditumpahin apa ketumpahan? Beda lho."
"Ditumpahin, sengaja."
"Oh ... ya, oke lah. Kamu udah punya buku kosong, kan?"
"Belum."
"Nggak jauh dari sini ada warung, kamu bisa beli buku di situ."
"Kamu masih punya buku kosong nggak?"
Alamat mau minta punyaku, dari gelagatnya sih begitu. Alah, dari pada kepanjangan urusannya pake nangis-nangisan segala, mendingan langsung aku kasih aja. (Abu).
"Punya, bentar aku ambilin."
Abu memasuki kamarnya untuk mengambil buku sosiologi dan buku kosong yang dia janjikan. Mereka kemudian mengerjakan sosiologi bersama-sama. Abu tak keberatan membantu Madya.
***
__ADS_1
Malam hari
Bu Hamidah menghampiri anak lelakinya yang sedang belajar. Dia memandangi punggung anaknya dengan takjub dan haru. Abu menoleh ke belakang.
"Hoah, kaget, Ma!" pekik Abu. Dia pikir ada kuntilanak masuk ke kamarnya. Pasalnya, parfum melati sang ibu menguar tajam. "Ketuk pintu dulu dong, Ma, biar aku tahu kalau yang masuk manusia."
"Maaf, habisnya Mama keburu pengen ketemu anak Mama yang udah gede ini." Bu Hamidah mengelus kedua bahu anaknya. "Kamu dan Madya jangan sering bertengkar. Dijaga hubungannya biar langgeng gitu lho!"
"Mama! Aku sama dia nggak ada apa-apa!"
"Nggak usah bo'ong sama Mama. Mama lihat tadi habis kalian ribut-ribut terus dansa berdua. Habis itu kamu ngajarin pelajaran apa tadi."
"Denger dulu penjelasanku, Ma. Madya itu minta tolong buat jadi partner dansa. Dia belum bisa dansa itu padahal minggu depan mau pengambilan nilai."
"Tapi kami nggak ada apa-apa, Ma. Bener-bener cuma temen. Eh, bahkan baru aja kenal. Orang kemarin-kemarin aku lupa dia itu siapa. Jarang keluar kelas."
Bu Hamidah mengulas senyum lebih lebar lagi. "Dasar anak Mama ini! Mungkin kamu belum nyadar kalau sebenarnya kamu suka sama dia. Buktinya, kamu ngajak dia pulang ke rumah. Baru pertama ini kamu ngajak cewek pulang ke rumah lho meski cuma buat belajar."
"Itu karena biar efektif dan efisien aja, Ma. Dia nggak punya mini compo buat puter musik. Punyanya tape biasa. Padahal kasetnya pun nggak punya. Mau diiringin pake apa dansanya? Masak nunggu radio muter musik 3/4?"
"Iya deh, Mama percaya. Tapi Mama suka sama dia, kalau kamu mau pacaran sama dia juga nggak apa-apa. Mama udah restuin."
Bu Hamidah keluar dari kamar Abu dengan ceria. Dirinya sudah membayangkan acara pernikahan Abu. Dia mendukung sepenuhnya sekolah dan kelak kuliah anaknya, tapi memiliki menantu juga ada dalam list impiannya.
__ADS_1
Akhirnya ada harapan juga. Kirain dia sama sekali nggak mau punya hubungan sama perempuan. (Bu Hamidah).
Sementara itu, Abu kesal di dalam kamarnya. Dua wanita berhasil mengacak mood-nya menjadi tak terdeskripsikan. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa dia mulai bersimpati pada Madya.
Tadinya aku sama sekali nggak ada niat deketin si anak 2 C itu sih. Malah sempet sebel. Tapi dia ternyata sering dijahilin sama temennya sendiri? Kasihan banget. Terus, mamaku cocok ngobrol sama dia? Itu sangat keren. Semua temenku nggak ada yang disukain sama Mama. (Abu).
Ponsel ketupatnya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Madya masuk menggetarkan mejanya (getaran ponselnya memang gede, Bun!).
📳Madya: Abu, makasih banget untuk semuanya hari ini. Aku nggak tahu musti gimana buat berterima kasih sama kamu.
📳Abu: Gampang, caranya traktir aku tiap hari.
📳Madya: Ya ampun, aku nggak ada duit. Uang sakuku terbatas. :'(
📳Abu: Ya udah yang lebih gampang aja, nggak pake duit kok. Aku kan udah bantuin tugas sosiologimu. Gantian kamu bantuin kerjain PR kimia.
📳Madya: Oke. Tapi aku juga nggak begitu bisa kimia sih, hehe.
📳Abu: Lha terus kamu bisanya apa?
📳Madya: Aku bisanya mencintaimu. Ahli malah. []
Bersambung ....
__ADS_1