Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
33. Bercerita


__ADS_3

Madya berusaha mengingat-ingat peristiwa apa yang sekiranya bisa membuktikan bahwa dirinya adalah Madya yang datang dari masa depan. Agak lama Madya berpikir, lagi-lagi Asa jengah dan hampir saja meninggalkan Madya sendiri di depan gudang.


"Kamu suka sama Kak Leonard! Kamu pernah bikinin kopi buat ayahmu pake garam, dan itu sengaja karena kamu ngambek sama ayahmu."


Asa melotot mendengar penuturan Madya karena memang semua itu benar adanya. Itu adalah 2 aib (dari sekian banyak aib) yang tidak pernah dia katakan kepada siapa pun bahkan kepada Madya. Baru setelah mereka lulus dari SMA, Asa berani mengungkapkan beberapa hal memalukan kepada Madya.


"Ko-kok kamu bisa tahu, Mad?"


"Udah aku bilang, As, kamu bakal ngungkap aib-aibmu ini nanti pas kita udah kuliah! Itu pun kamu ceritainnya pas kamu mudik dari tempat kuliahmu yang jauh banget."


"Oh ya? Aku kuliah di mana emangnya?"


"Kamu bakal kuliah di Sing-- eh aku nggak boleh ngomong banyak hal dulu. Sekarang kembali ke masalah yang tadi. Jadi ...."


Kata-kata Madya terpotong oleh bel masuk. Cerita gadis itu pun menggantung di udara.


***


Pulang sekolah


Asa menghampiri Madya yang masih berutang banyak cerita kepadanya. Namun, Asa masih juga mempunyai pandangan judgemental terhadap Madya.

__ADS_1


"Mad, kalau kamu kayak gini karena aku marah sama kamu kemarin, nggak perlu. Kamu cukup sadar sama kesalahan kamu, habis itu minta maaf, aku bakal maafin kamu. Aku jamin nggak ada dendam di antara kita."


"Kamu masih nggak percaya sama aku? Oke, kamu bisa jelasin 2 aibmu yang baru kusebut tadi? Gimana aku bisa tahu?"


Asa memejamkan matanya.


Iya juga sih. Tapi masak iya dia dari masa depan. Kan terlalu aneh dan nggak mungkin gitu lho. Kayak film atau novel aja. (Asa).


(Emang ini novel, Oneng!)


Madya mengeluarkan ponsel Si Emen C45-nya. Dia menelpon Bu Sriyani untuk meminta izin pulang sore kali ini.


***


"Yuk, ke kamarku aja!" ajak Asa.


Mereka berdua menuju kamar Asa yang terletak di lantai 2. Ya, Asa termasuk orang berada di masa itu. Kemapanan dan kemewahan dapat dilihat dari jumlah lantai. Padahal di masa 2020-an, justru orang yang memiliki tanah dan rumah luas tanpa harus membuat rumah menjadi 2 lantai adalah orang yang dianggap berada.


"Ceritain semuanya!"


"Aku tahu siapa yang pukulin Daniel. Aku baru inget kejadian itu. Terus habis itu Daniel bakal dipindah ke sekolah lain."

__ADS_1


Asa mencoba mencerna cerita dari Madya. "Gini, kalau di masa dulu kamu akhirnya tahu siapa pelaku pemukulan Daniel, berarti kita sekarang nggak perlu kuatir lagi, kan?"


"Masalahnya, kalau nggak salah inget, proses cari tersangkanya itu lama. Sementara sekarang aku udah tahu duluan. Aku harus gimana, As?"


Asa mengangguk-angguk. "Pilihannya cuma ada 2. Kamu mau ubah sejarah, atau mau biarin aja semua sesuai yang akan terjadi."


"Udah aku pikirin itu sih! Tapi aku jadi beban pikiran gini. Apa aku harus diem-diem aja sambil menahan rasa bersalah sama Daniel?"


Tiba-tiba Asa tersenyum. "Eh, gimana mukaku di masa depan? Kerjaanku apa? Suamiku siapa? Anakku berapa?"


Madya melirik Asa dengan jengah. "Udah deh, buat kamu dan yang lain cukup ikut apa yang udah digariskan aja! Nggak usah penasaran sama masa depan. Kamu bakal tahu sendiri!"


"Alah, bocorin dikit sih! Suamiku kerjaannya apa?"


"Ya udah, dikit aja. Tapi janji habis ini nggak tanya-tanya lagi!"


"Iya. Buruan!"


"Suamimu dokter."


"Oh ...," kata Asa sedikit kecewa. Dia berharap suaminya seorang pelaut. []

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2