Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
44. Mission Not Accomplished


__ADS_3


"Iya, Pak. Bapak motret dia waktu itu. Terus Bapak sendiri yang bilang kalau mau bersaksi seandainya dibutuhkan!" kata Madya, berapi-api.


"Apa ada saksi saya bilang begitu?"


"Saya, Pak! Kan Bapak waktu itu ngomong sama saya."


"Saya nggak begitu inget sih."


Gimana sih ini? Apa bapak ini amnesia? (Madya).


Madya geram melihat Pak Asrul yang tak kunjung ingat dengan janjinya sendiri. Padahal, Pak Asrul adalah satu-satunya orang yang bisa dimintai keterangan untuk membuktikan Zulfikar bersalah. Madya melihat ke langit-langit rumah itu, barangkali ada jawaban di sana.


"Pak, mohon maaf Pak siapa? Uhm, saya Madya dan ini teman saya Asa."


"Saya Asrul."


"Baik, Pak Asrul. Kami pamit dulu. Terima kasih atas ketidakmauan untuk bersaksi sebagai rakyat yang memiliki hak. Teman kami yang dipukuli itu sekarang dalam keadaan kritis di rumah sakit. Semoga seumur hidup Bapak dihantui rasa bersalah. Dan kalau terjadi sesuatu dengan teman kami, semoga dia menghantui Bapak. Kami permisi." Madya berdiri hendak pergi dari rumah itu.


"Eh, tunggu, Dik. Baru aja saya inget. Fotonya udah saya cuci cetak kok." Kemudian dia berbisik, "Ini tadi saya dimarahin istri saya. Nanti tolong bantu jelaskan kalau urusan kita adalah masalah temen sekolah Adik, bukan potretin kalian."


Madya dan Asa saling menatap sejenak kemudian mengangguk bersamaan.

__ADS_1


Oh, kami dikita foto model? (Asa).


"Tenang, Pak! Nanti saya jelaskan sama istri Bapak."


"Ini rambut juga syarat dari dia. Biar saya nggak terlalu ganteng gitu," bisiknya lagi.


Asa dan Madya mendadak mual.


Mereka mengangguk. Pak Asrul kemudian masuk ke dalam entah untuk apa, yang pasti Madya dan Asa berharap mereka dibuatkan teh hangat. Saat ini mereka sedang mati gaya. Jika ada teh dan cemilan, lumayan sebagai kegiatan.


Pak Asrul keluar bersama istrinya dan selembar foto di tangan.


"Sayang, ini mereka mau aku bersaksi untuk adik di foto ini. Biar mereka yang jelaskan. Dik Madya, tolong jelaskan sama istri saya yang cantik jelita ini."


Pasangan suami istri itu duduk. Pak Asrul menyerahkan foto itu kepada Madya.


Mau bilang kritis lagi kok takut kualat. Tadi Daniel emang betulan nggak sadar, kan? Ya meski karena tidur sih. Yang penting nggak bo'ong. (Madya).


Setelah mendengar penuturan Madya, raut wajah Bu Asrul masih masam. Dia melirik Madya kemudian Asa. Dia mengambil foto itu dari tangan Madya kemudian memandangi pencitraan Daniel yang bermandikan darah lekat-lekat.


Dia memejamkan mata sejenak. "Maaf, Dik. Suami saya tidak bisa bersaksi apa-apa."


"Lhoh, kenapa nggak bisa, Bu?" tanya Madya, panik.

__ADS_1


"Adik-adik lihat sendiri temen kalian separah ini. Gimana kalau suami saya bersaksi, nanti bisa aja bernasib sama dengan teman kalian."


"Tapi, Bu ...."


"Dan dulu suami saya punya pengalaman buruk waktu harus mengungkap sesuatu. Jadi, tolong jangan kait-kaitkan suami saya. Saya nggak pengen jadi janda."


"Tapi, Bu, jadi janda juga nggak buruk kok. Kan janda semakin di depan," kata Madya.


Asa menginjak kaki Madya.


"Ya nggak mau lah!" kata Bu Asrul.


Setelah cukup lama bernegosiasi, Bu Asrul tetap tak mengijinkan suaminya untuk terlibat dalam kasus Daniel. Madya dan Asa pun menyerah. Mereka berpamitan.


~


Rumah Madya, malam hari


Madya memandangi foto Daniel yang sangat menyedihkan. Foto itu jatuh ke tangan Madya karena Pak Asrul dan Bu Asrul sibuk berdebat sendiri. Pak Asrul ngotot ingin bersaksi, Bu Asrul ngotot tidak memperbolehkan.


Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Madya untuk mengantongi foto itu.


Foto ini cuma foto Daniel bonyok berdarah-darah, nggak ada clue lain. Kalau ngasih foto ini tanpa saksi, nggak bakal bantu apa-apa. Aaarrrggghhh! (Madya). []

__ADS_1


Bersambung ....



__ADS_2