Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
61. Dilema


__ADS_3

Madya menajamkan pendengarannya agar bisa menangkap isi pembicaraan orang-orang di dalam bangsal.


~


Bangsal VIP Melati


"Ibu lihat anak saya keadaannya jadi begini karena ulah anak Ibu! Saya nggak bisa terima!" Ibu Daniel melontarkan kata-kata bernada penolakan.


"Saya mohon jangan laporkan anak saya ke polisi," mohon wanita paruh baya yang sedang berlutut di samping hospital bed tempat Daniel beraring.


"Tapi, Bu, ini sudah termasuk ke dalam tindakan kriminal. Kalau dibiarkan, bagaimana nanti anak Ibu ke depannya?"


"Justru jangan dilaporkan biar dia tetap bisa sekolah sambil memperbaiki diri. Ini masuk kenakalan remaja. Saya mohon dengan sangat untuk tidak melaporkan."


Kedua ibu tersebut sedang memperjuangkan anaknya masing-masing. Yang satu memperjuangkan hak sebagai korban, satu lagi sedang memperjuangkan kesempatan kedua untuk memperbaiki kelakuan.


Ibu itu menarik Zulfikar agar turut berlutut mensejajari dirinya. Dia menggenggam anak laki-lakinya itu. Remaasan tiada henti dia berikan ke tangan putranya, memberi isyarat agar segera meminta maaf kepada korban yang telah dibuat bermalam di rumah sakit beberapa lama.


Zulfikar bersuara dengan gemetar. "Niel, aku minta maaf."


Daniel tak menjawab. Rahangnya masih dalam masa pemulihan.


"Daniel tidak merespon, Bu. Maaf, mungkin memang harus diproses secara hukum."

__ADS_1


Tangis ibu Zulfikar makin pecah mendengar keputusan Bu Selly yang tetap ingin memperkarakan putranya ke pengadilan. Dia memukuli bahu anaknya.


"Bu, tolong pikirkan lagi, Bu. Saya sudah janda, kami hanya hidup berdua. Gimana nanti saya ditinggal sendiri."


Bu Selly terdiam. Dia memandangi guru BK yang sedari tadi menunduk. Dia juga memandangi Daniel yang masih terbaring dengan rahang yang belum bisa digerakkan, juga kepala sebelah kirinya yang masih diperban karena jahitan.


Dia kasihan terhadap ibu dan anak di hadapannya, tapi juga tak bisa membiarkan buah hatinya tidak mendapat keadilan. Kembang kempis paru-parunya menghirup udara dalam-dalam sembari menimbang segala keputusan.


Bu Selly hanya bisa menunduk karena bingung dengan pilihan di hadapannya. Kemudian dia mengangkat wajahnya dan menatap guru BK yang sedari tadi dalam mode mute.


"Menurut Bapak, saya harus gimana?"


Guru itu tergagap mendapat pertanyaan dilematik. Meski dia seorang profesional di bidang bimbingan dan konseling, perkara ini sulit diputuskan karena berkaitan dengan kemanusiaan dan tindakan kriminal sekaligus.


Bu Selly yang sedang hamil besar itu mengerti kebimbangan sang guru. Dia tidak menuntut jawaban. Sesuai dengan peraturan negeri wakanda, saat itu masih ada penjara anak-anak yang mana di 2 dekade mendatang tidak begitu berfungsi.


Di tahun 2020-an anak-anak dan remaja yang melakukan kejahatan dibela habis-habisan hingga akhirnya bebas dengan alasan 'pelaku masih di bawah umur'.


"Bu, saya ingin tanya jika Zulfikar yang berbaring di sini, apa yang akan Ibu lakukan?" tanya Bu Selly dengan nada sangat putus asa. "Tolong jawab dengan jujur dari hati yang paling dalam."


Ibu Zulfikar memandangi Daniel. Dia membayangkan wajah putra tercintanya dipenuhi luka seperti Daniel. Air matanya yang telah surut kembali menetes. "Sa-saya ... akan melaporkan pelakunya ke polisi."


Ibu Zulfikar menunduk pasrah. Hatinya tak dapat berbohong. Ibu mana yang tak menyayangi anaknya. Jika keadaan itu terbalik, dia akan melaporkan siapa pun yang berani menyentuh putranya.

__ADS_1


Bu Selly mengangguk lemah. Dua wanita paruh baya itu masing-masing berkutat dengan dilema.


"Tapi ... ini adalah kategori kenakalan remaja ...."


"Yang hampir saja membuat nyawa putra saya melayang?" potong Bu Selly.


"Anak saya masih remaja, dia masih tanggungan orang tuanya yaitu saya."


"Baik, karena dia masih tanggungan Ibu, maka Ibu yang bertanggung jawab atas semua perbuatan anak Ibu."


Semua orang di ruangan itu terkejut tak terkecuali Madya dan Asa yang sedang menguping dari luar. []


Bersambung ....


***


Sambil menunggu keputusan Bu Selly, kita mampir ke sini dulu yuk:


...AKU DI ANTARA MEREKA...


...(Asyfa)...


__ADS_1


__ADS_2